Universitas Airlangga Official Website

UNAIR dan STIKES Mataram Implementasikan Program Kampus Berdampak di Ponpes Nurul Hakim Lombok

Pondok Pesantren Nurul Hakim Lombok Jadi Contoh Implementasi Program Kampus Berdampak oleh Universitas Airlangga dan STIKES Mataram
Pondok Pesantren Nurul Hakim Lombok Jadi Contoh Implementasi Program Kampus Berdampak oleh Universitas Airlangga dan STIKES Mataram (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang digagas Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) bersama STIKES Mataram mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan tokoh setempat. Kegiatan yang berpusat di Pondok Pesantren Nurul Hakim, Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Utara, pada Rabu-Sabtu (20-23/8/2025) itu dinilai memberi manfaat bagi kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana.

Kepala Desa Bayan menilai pelaksanaan SPAB tidak boleh berhenti sebatas kegiatan seremonial. Ia berharap ada tindak lanjut agar masyarakat benar-benar siap menghadapi ancaman bencana di kemudian hari. “Kami sangat berharap kegiatan ini tidak hanya berakhir di sini. Masih banyak warga yang membutuhkan pemahaman tentang penyelamatan diri, terutama anak-anak kami di pesantren,” kata Satradi selaku Kepala Desa Bayan saat ditemui pada saat pelaksanaan kegiatan, Sabtu (23/8/2025).

Hal senada juga disampaikan Koordinator Kepondokan Pondok Pesantren Nurul Hakim 2, Ustaz Hambaludin. Ia mengaku terbantu dengan adanya program ini karena langsung menyentuh kebutuhan santri di lapangan. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Universitas Airlangga, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mataram, serta Puskesmas Senaru yang telah bekerja sama dan mendukung program ini. Kegiatan ini merupakan wujud nyata pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam upaya mitigasi bencana melalui Satuan Pendidikan Aman Bencana di Pondok Pesantren Nurul Hakim 2 Bayan,” ujarnya.

Salah satu bentuk implementasi program kampus berdampak, yakni peasangan penunjuk mitigasi bencana (Foto: Istimewa)
Salah satu bentuk implementasi program kampus berdampak, yakni peasangan penunjuk mitigasi bencana (Foto: Istimewa)

Dalam kegiatan tersebut, para santri mendapatkan pelatihan menentukan titik kumpul aman hingga membuat peta jalur evakuasi. Cara ini, menurut Dr Setya Haksama dari FKM UNAIR, relevan dengan kondisi geografis Lombok yang rawan bencana. “SPAB harus dipraktikkan. Latihan sederhana seperti ini akan sangat membantu ketika bencana benar-benar terjadi,” jelasnya.

Perwakilan Puskesmas Senaru, Perawat Senior Roni Parlan SKep Ns yang juga merupakan alumni STIKES Mataram juga hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Perwakilan Puskesmas Senaru menilai SPAB bisa menjadi pintu masuk untuk memperkuat layanan kesehatan di pesantren. “Kami siap mendukung keberlanjutan program ini, termasuk melalui penguatan Poskestren dan pemeriksaan kesehatan rutin santri,” kata perwakilan Puskesmas Senaru.

Program SPAB ini juga mendapat dukungan penuh dari pimpinan STIKES Mataram, Prof Dr Chairun Nasirin SS MPd MARS. Kolaborasi lintas sektor antara UNAIR, STIKES MATARAM, Pondok Pesantren Nurul Hakim, dan Research Group Environment Based Disease, Disaster, and Health Management UNAIR ini sekaligus memperkuat komitmen perguruan tinggi dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), dan SDG 11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan).

Dengan dukungan berbagai pihak, SPAB di pesantren menjadi langkah strategis untuk memperkuat budaya sadar bencana sejak dini, sehingga para santri tumbuh sebagai generasi yang cerdas, sehat, dan siap menghadapi ancaman.

Penulis: