UNAIR NEWS – Risiko tidak hanya diambil tetapi juga harus diidentifikasi untuk dilakukan mitigasi. Pernyataan tersebut diucapkan oleh Dandy Evan Kiswara SM MM CRMO QGIA sebagai narasumber dalam kegiatan Webinar Manajemen Risiko Non Akademik di Lingkungan Universitas Airlangga. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Senin (16/5/2025).
Dandy Evan Kiswara SM MM CRMO QGIA menjelaskan bahwa risiko merupakan sesuatu yang belum terjadi, tidak pasti, dan perlu diantisipasi sebab mengancam ketercapaian dari tujuan organisasi. Sedangkan, ia menuturkan bahwa risiko dan manajemen risiko merupakan dua hal yang berbeda. Manajemen risiko, sambungnya, merupakan kegiatan mengendalikan risiko.
“Kalau manajemen risiko kita melakukan koordinasi atau pengarahan untuk mengendalikan risiko,” ucap Auditor Badan Pengawas Internal UNAIR itu.
SMART-C
Dandy menyebut bahwa untuk memahami peristiwa risiko diperlukan pemahaman terhadap sasaran yang akan dicapai. Sebab setiap sasaran yang berbeda akan memiliki risiko yang berbeda pula. Ia menuturkan bahwa agar sasaran dapat dipahami maka harus memenuhi unsur SMART-C yaitu Specific, Measurable, Attainable, Relevant, Time-bound, dan Challenging.
“Sasaran itu harus jelas, dapat diukur, dapat dicapai organisasi, relevan, kapan akan tercapai, dan harus menantang sehingga bisa membawa ke arah perubahan yang positif,” jelasnya.
Manajemen Risiko
Dandy menyebut jika manajemen risiko memiliki prinsip berupa penciptaan dan perlindungan nilai. Artinya, harus ada yang diciptakan dan dilindungi yaitu sasaran. Ia menjelaskan bahwa dari prinsip tersebut, selanjutnya dapat disusun kerangka kerja manajemen risiko.
“Kerangka kerja manajemen risiko perlu adanya kepemimpinan dan komitmen yang dapat diwujudkan dalam bentuk kebijakan dan pedoman formal manajemen risiko, program manajemen risiko, struktur manajemen risiko, anggaran yang cukup dan memadai, ketersediaan dan akses informasi yang mencukupi, keterlibatan pemangku kepentingan,”
Lebih lanjut, ia menjelaskan setelah membuat kerangka manajemen risiko selanjutnya yaitu memproses manajemen risiko. Proses manajemen risiko setidaknya berisi kegiatan mengidentifikasi dan menganalisis risiko.
Risiko Non Akademik
Dandy menjelaskan bahwa risiko non akademik di lingkungan universitas bisa berupa kepatuhan, tata kelola, pengadaan barang jasa, keuangan, sosial politik, operasional, atau kecurangan. Dalam kesempatan itu, Dandy juga memberikan contoh risiko non akademik dan bagaimana manajemen risikonya.
“Contohnya terjadi konflik internal antar pegawai. Mitigasi yang dapat dilakukan berupa penegasan pembagian tugas melalui Surat Keputusan (SK) atau mediasi internal oleh bagian Sumber Daya Manusia (SDM),” ungkapnya.
Ia juga menerangkan bahwa selain menentukan risiko dan manajemen risikonya, perlu juga ditetapkan indikator risiko. Indikator risiko merupakan alat ukur yang digunakan untuk menilai suatu risiko. “Misalnya untuk risiko konflik internal antar pegawai, indikator risiko yang dipakai yaitu jumlah aduan konflik,” terangnya.
Penulis: Septy Dwi Bahari Putri
Editor: Khefti Al Mawalia





