UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) terus mendorong peningkatan employability mahasiswanya dengan menggelar Sosialisasi Magang Berdampak pada Senin, (30/5/2025). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Pengembangan Karir, Inkubasi Kewirausahaan dan Alumni (DPKKA) dilaksanakan secara daring dan dihadiri oleh ratusan mahasiswa UNAIR.
“Kami sangat bersyukur karena program ini hadir kembali meskipun dengan wajah baru menggantikan MSIB. Antusiasme adik-adik mahasiswa luar biasa karena sebelumnya mereka sangat menanti kejelasan program magang dari Kemendikbudristek,” ungkap Prof Dr Elly Munadziroh drg MS dalam sambutannya.
Prof Elly menekankan bahwa program ini telah terbukti efektif mengurangi masa tunggu kerja lulusan. Berdasarkan asesmen internal UNAIR, banyak alumni peserta program serupa sebelumnya langsung direkrut oleh mitra. Dalam konteks UNAIR, program ini sejalan dengan tiga pilar utama DPKKA yaitu pengembangan karir, kewirausahaan, dan kealumnian.

Program Transformasi dan Implementasi Nyata
Kepala Program Magang Berdampak, Dr Wahyu Hari M Sc, menjelaskan bahwa program ini merupakan transformasi dari sistem sebelumnya. “Tahun 2025 ini adalah era baru, tidak hanya untuk UNAIR, tetapi juga bagi kebijakan pendidikan tinggi secara nasional. Magang Berdampak lahir sebagai bentuk adaptasi atas dinamika pemerintahan dan kebutuhan nyata di dunia kerja,” ujarnya.
Berbeda dengan pendekatan sebelumnya, Magang Berdampak menempatkan mahasiswa sebagai kontributor dan problem solver atas persoalan riil yang dihadapi industri dan masyarakat. Mahasiswa diharapkan tidak hanya “belajar” di lokasi magang, melainkan langsung mengimplementasikan keilmuan mereka untuk memberi solusi. Karena itu, yang boleh mendaftar hanya mahasiswa semester lima ke atas.
“Proyeknya harus berbasis tantangan nyata, bukan tugas buatan. Kalau proyeknya tidak diselesaikan dengan baik, perusahaan bisa terdampak langsung. Artinya, tanggung jawab mahasiswa sangat besar,” jelas Dr Wahyu. Ia juga menegaskan bahwa mitra hanya akan menerima mahasiswa yang siap berkontribusi, bukan sekadar ingin mencari pengalaman.
Tahun ini, terdapat 22 mitra yang tersebar di Banten, D.I. Yogyakarta, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Komponen pendanaan mencakup bantuan biaya hidup Rp2,8 juta per bulan selama lima bulan serta tiket transportasi pulang-pergi yang telah panitia fasilitasi.
Mahasiswa juga wajib untuk memperoleh persetujuan kaprodi terkait konversi SKS sebelum berangkat. “Konversi ditentukan oleh kaprodi, bukan kami sebagai penyelenggara. Mahasiswa harus paham dan menyepakati itu sejak awal,” tegasnya.
Tak hanya itu, aspek etika juga menjadi perhatian serius. Dr. Wahyu mengingatkan bahwa mahasiswa tidak boleh memberikan informasi palsu, melakukan kekerasan, perundungan, pelecehan seksual, atau pelanggaran etika lainnya. “Kalau ada pelanggaran, termasuk pungutan liar dari mitra atau pihak kampus, segera laporkan. Ini demi menjaga integritas program,” tandasnya.
Tantangan Bagi Calon Peserta
Menutup sosialisasi, Kepala Seksi Pengembangan Karir DPKKA, Ibu Lina Nugraha Rani, SE M SEI menyampaikan sejumlah kendala umum yang sering mahasiswa hadapi. Di antaranya kesalahan input data, keterlambatan pendaftaran, kurangnya persiapan menghadapi seleksi, dan kelalaian dalam pengumpulan laporan.
Ia juga memaparkan panduan do & don’t bagi peserta seperti menjaga nama baik universitas, bersikap proaktif, profesional, dan tidak melakukan kegiatan fiktif. Selain itu, wajib mengantisipasi permasalahan seperti pelecehan, kekerasan verbal/nonverbal, intoleransi, dan penyalahgunaan media sosial.
Penulis : Panca Ezza Aisal Saputra
Editor : Ragil Kukuh Imanto





