UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) berkolaborasi dengan Trans ASEAN Backpackers (TABS) sukseskan kegiatan puncak Sea of Change SDG Forum dengan mengadakan talkshow bertemakan Climate & Land: Forest and Biodiversity as Natural Climate Solutions in ASEAN. Kegiatan itu berlangsung pada Rabu (5/11/2025) di Hall Bima Suci, Airlangga Convention Center, Kampus MERR – C Universitas Airlangga.
Dalam sambutannya, Ketua Lembaga Pengembangan Masyarakat dan Berkelanjutan, Prof Hery Purnobasuki MSi PhD menekankan pentingnya aksi nyata dari berbagai pihak untuk menciptakan perkembangan dan keberlanjutan. Ia juga menambahkan bahwa UNAIR akan terus berperan dalam menjaga keberlanjutan.
“Kita semua tidak terkecuali harus ikut aktif dalam aksi pelestarian lingkungan yang nantinya akan berdampak pada ekonomi, sosial, dan manajemen. UNAIR memperkuatnya dengan fokus menerapkan SDGs nomor empat dan sembilan. Pencapaian ini membuktikan komitmen kuat kita untuk berperan dalam keberlanjutan dan pelestarian lingkungan,” tegasnya.
Keanekaragaman Hayati Menjadi Solusi Global Warming
Dr Eko Prasetyo Kuncoro ST DEA menjelaskan bahwa permasalahan iklim adalah isu besar yang solusinya harus segera ditemukan. Menurutnya, keanekaragaman hayati dapat menjadi salah satu solusi yang dapat digunakan untuk menghadapi perubahan iklim.
Menurutnya, mitigasi perubahan iklim adalah tindakan yang harus dilakukan guna menghilangkan atau mengurangi risiko dan bahaya jangka panjang dari perubahan iklim terhadap kehidupan manusia. Mitigasi juga berguna untuk meningkatkan penyerapan gas rumah kaca.
“Beberapa hal yang dapat kita lakukan, yakni mengoptimalisasi keanekaragaman hayati dan hutan, menggunakan energi terbarukan, menggunakan praktik pertanian yang baik, dan konversi rupiah menjadi energi,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Eko menambahkan bahwa keanekaragaman hayati sangat berguna dan penting untuk dikembangkan lebih lanjut guna mengatasi perubahan iklim yang tidak menentu. Beberapa poin penting juga perlu diketahui tentang keanekaragaman hayati.
“Keanekaragaman hayati itu meliputi banyak hal, seperti keanekaragaman ekosistem, spesies, dan genetik. Beberapa hal penting untuk kita ketahui, yakni keanekaragaman merupakan aset penting suatu negara, juga menjaga keseimbangan ekosistem, menyediakan sumber daya, mewakili sejarah dan budaya, serta menjadi subjek studi,” ungkapnya.
Pemanfaatan Mangrove
Selanjutnya, Eko menjelaskan bahwa ia berfokus menggunakan mangrove sebagai salah satu bentuk aksi nyata. Mangrove dipilih karena memiliki banyak manfaat penting bagi lingkungan sekitar.
“Mangrove itu vegetasi pantai yang dapat beradaptasi pada daerah pasang surut dengan substrat lumpur atau berpesisir. Selain itu, juga hidup secara berkoloni membentuk satu kesatuan utuh dan terpadu yang saling mempengaruhi dan mewujudkan keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas,” ungkapnya.
Perlu diketahui, kegiatan ini juga menjadi salah satu untuk mendukung SDG 13 yakni penanganan perubahan iklim.
Penulis: Putri Andini
Editor: Khefti Al Mawalia





