UNAIR NEWS – Program Magister Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar Seminar Nasional pada Selasa (23/9/2025). Acara itu berlangsung di Aula Majapahit, ASEEC Tower, Kampus Dharmawangsa B UNAIR. Kegiatan itu menghadirkan Prof Dr Suhandono MA, dosen Universitas Gadjah Mada (UGM), yang memaparkan topik bahasa sebagai sumber data dalam Studi Pengetahuan Lokal. Seminar diikuti mahasiswa, akademisi, serta praktisi bahasa dari pemerintahan.

Pada paparannya, Prof Suhandono menjelaskan bahwa bahasa menyimpan pengetahuan yang lahir dari interaksi manusia dengan lingkungannya. “Bahasa merupakan sumber data untuk menggali pengetahuan lokal, termasuk pengetahuan tentang lingkungan, kesehatan, dan kebudayaan,” ujarnya.

Ia mencontohkan konsep 4 musim dalam bahasa Jawa yang memuat istilah mangsa rendheng, mangsa mareng, mangsa ketiga mangsa labuh. Istilah tersebut mencerminkan pengetahuan masyarakat tentang siklus iklim jauh sebelum istilah perubahan iklim dikenal luas. “Bahasa bisa merekam cara pandang masyarakat terhadap alam dan kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Selain itu, Prof Suhandono juga menyinggung fungsi bahasa dalam menjaga kearifan lokal. Ia menyebut contoh istilah seperti pohon angker yang berfungsi sebagai larangan sosial untuk menebang pohon. “ Bahasa tidak hanya alat komunikasi, tapi juga sarana melestarikan lingkungan dan nilai budaya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof Suhandono menekankan relevansi pengetahuan lokal di tengah tantangan global. Menurutnya, bahasa menjadi pintu masuk untuk memahami kearifan tradisional yang mampu melengkapi sains modern. “Ethnoscience yang terekam dalam bahasa, seperti ethnobotani atau ethnomedicine, memberi kontribusi nyata dalam menghadapi persoalan kontemporer,” ungkapnya.

Ia juga mendorong mahasiswa linguistik agar menggali bahasa bukan semata dari isi struktur, melainkan juga dari nilai pengetahuan yang dikandungnya. “Bahasa adalah bagian dari identitas dan sekaligus media membangun pengetahuan,” jelasnya.

Prof Suhandono berpesan agar peneliti muda tidak melupakan nilai-nilai lokal dalam setiap kajian. “Pengetahuan lokal adalah warisan yang relevan sepanjang masa. Bahasa memberi kita kunci untuk menjaganya,” pungkasnya.

Penulis: Tsabita Nuha Zahidah

Editor: Khefti Al Mawalia