UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) terpilih menjadi tuan rumah kegiatan The 5th National Student Leaders on Sustainability Meeting: Community Service Restoring the Coastal Ecosystem with Mangrove Action, pada Kamis (14/10/2025). Kegiatan berskala nasional itu menghadirkan perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk berkolaborasi dalam aksi pelestarian lingkungan melalui penanaman mangrove di kawasan Wonorejo, Surabaya.
Menanam untuk Generasi Mendatang
Dalam sambutannya, Prof Hery Purnobasuki MSi PhD selaku Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) UNAIR menyampaikan pentingnya kolaborasi lintas lembaga dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Ia menekankan bahwa upaya pelestarian tidak dapat dilakukan secara individual, melainkan harus berkesinambungan dan melibatkan seluruh pihak.
“Konsep keberlanjutan itu tidak bisa dilakukan sendiri. Apa yang bisa kita bantu mari kita kerjakan bersama, karena tujuannya untuk masyarakat dan negara,” ujarnya
Prof Hery juga menyoroti kegiatan penanaman mangrove sebagai langkah konkret mahasiswa dalam menjaga bumi. Ia menyebutkan bahwa menanam pohon merupakan bentuk sedekah oksigen yang bermanfaat bagi kehidupan.
“Dengan menanam, kita bisa meninggalkan warisan bagi generasi berikutnya. Pohon yang tumbuh menghasilkan oksigen, dan itu menjadi amal ibadah bagi kita,” tutur Prof Hery.
Selain itu, ia mengingatkan agar semangat mahasiswa dalam menjaga lingkungan tetap dijaga, bahkan setelah lulus. “Biasanya mahasiswa bersemangat saat masih kuliah. Nanti kalau sudah di dunia kerja, idenya bisa berubah. Maka semangat menjaga lingkungan harus tetap hidup di mana pun kalian berada,” pesannya.

Sinergi Pemerintah dan Akademisi
Sementara itu, Yunita Suci Amalia, Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur, menjelaskan bahwa pengelolaan kawasan mangrove merupakan tugas bersama berbagai instansi. “Mangrove ini tumbuh di antara dua zona, daratan dan pesisir. Jadi, penanganannya melibatkan DLH, Dinas Kelautan dan Perikanan, serta Dinas Kehutanan,” terang Yunita.
DLH sendiri memiliki mandat menjaga tutupan lahan, termasuk kawasan mangrove. Yunita menambahkan bahwa pihaknya bertugas menginventarisasi kegiatan penanaman dan pemulihan lahan sebagai bagian dari indeks kualitas lingkungan hidup provinsi.
“Kami mencatat dan menghitung tutupan lahan, termasuk yang di pesisir, sebagai indikator kualitas lingkungan di Jawa Timur,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menilai keterlibatan mahasiswa dan akademisi seperti UNAIR menjadi wujud dukungan terhadap program pemerintah dalam pembangunan berkelanjutan. “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Kami butuh dukungan dari kampus, para mahasiswa, dan semangat muda mereka untuk menjaga lingkungan,” ujarnya.
Yunita berpesan agar mahasiswa terus berinteraksi dengan alam dan aktif dalam kegiatan pelestarian lingkungan. “Banyak masalah lingkungan yang butuh ide dan aksi kalian. Mari bersama-sama menjaga lingkungan ini agar tetap lestari,” pungkasnya.
Penulis: Tsabita Nuha Zahidah
Editor: Khefti Al Mawalia





