Universitas Airlangga Official Website

UNAIR Libatkan 501 Mahasiswa di Penyuluhan Merdeka TBC

Perwakilan UNAIR berfoto bersama tim Penyuluhan Serentak Merdeka TBC. (Foto: Istimewa)
Perwakilan UNAIR berfoto bersama tim Penyuluhan Serentak Merdeka TBC. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Meningkatnya kasus TBC di Indonesia terutama di lingkungan padat seperti Surabaya. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya bersama Universitas Airlangga (UNAIR) menunjukkan komitmennya dalam upaya pemberantasan tuberkulosis (TBC) melalui kegiatan Penyuluhan Serentak Merdeka TBC yang terselenggara pada Kamis (28/8/2025). Kegiatan ini berlangsung secara serentak di 1.361 RW se-Kota Surabaya. 

Prof. Dr. Gadis Meinar Sari, dr., M.Kes, ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Mayarakat (LPPM) UNAIR mengungkapkan bahwa latar belakang penyuluhan ini ialah meningkatnya kasus TBC di lingkungan padat seperti Surabaya. Penyuluhan ini dibungkus dengan kegiatan sosialisasi serta eduaksi untuk mengurangi penyebaran penyakit TBC. 

Tujuan utama penyuluhan ini adalah meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai TBC, mendorong pencegahan penularan, serta menghapus stigma terhadap pasien. “Hal yang paling penting adalah masyarakat tahu bahwa TBC bisa sembuh, dan pengobatannya dapat datang langsung di puskesmas. Jangan sampai kita mengucilkan pasien TBC,” tambahnya.

Kegiatan ini juga melibatkan banyak pihak, antara lain Kader Surabaya Hebat, tenaga medis puskesmas, serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, termasuk UNAIR.

Salah satu titik Penyuluhan Serentak Merdeka TBC, kolaborasi antara Dinkes, UNAIR, Kader Surabaya Hebat, tenaga medis puskesmas. (Foto: Istimewa)
Keterlibatanan Mahasiswa 

Lebih lanjut, dalam pelaksanaannya, UNAIR menurunkan 501 mahasiswa lintas fakultas untuk turut serta. Sebelumnya, mereka mendapat pembekalan terkait peran dalam kegiatan tersebut.

“Mahasiswa berperan sebagai supervisor. Di tempat penyuluhan ini mahasiswa menjadi supervisi, mendampingi dan memastikan kegiatan tersebut berjalan dengan baik. Materi penyuluhan sesuai dengan yang dinas kesehatan bekali dan juga memberikan laporan kegiatan,” ungkap Prof Gadis.

UNAIR mempunyai sumber daya yang banyak dan turut membantu dalam penyuluan ini. Menurut, Prof Gadis juga karena UNAIR juga merupakan bagian dari pemerintah

Tantangan Besar 

Kendati demikian, Prof Gadis mengatakan bahwa TBC ini merupakan penyakit terbesar, mudah menular dan sulit untuk memberantasnya, sehingga menjadi tantangan tersendiri untuk pemerintah maupun institusi pendidikan. Salah satunya, dengan cara konsistensi dalam penyuluhan. 

“Penyuluhan sekali saja tidak cukup. Kalau ini diterapkan, disosialisasikan terus menerus diberikan informasi baik media, kalau bisa nanti dilanjutkan dengan penemuan kasus, sehingga dapat ditangani sejak dini,” jelasnya.

Dengan adanya kegiatan ini, Prof Gadis berharap dapat memberikan manfaat langsung yang bisa masyarakat rasakan, yaitu meningkatnya pengetahuan tentang TBC, kesadaran untuk tidak memberi stigma kepada penderita, serta dorongan bagi masyarakat agar lebih patuh terhadap pengobatan.

Penulis : Adinda Octavia Setiowati 

Editor : Ragil Kukuh Imanto