UNAIR NEWS – Meilisa Dwi Ervinda, mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali torehkan prestasi membanggakan. Ia baru saja menyabet medali emas dan juara pertama dalam ajang Lombok Essay Competition. Kompetisi esai tingkat nasional itu terselenggara pada Sabtu-Minggu (16-17/9/2023), di Universitas Gunung Rinjani, Lombok Timur.
Meilisa, sapaan akrabnya, harus melalui beberapa tahapan sebelum akhirnya meraih dua gelar itu. Tahapan lomba terdiri dari seleksi karya tulis esai, pengumuman finalis, dan berakhir dengan pembuatan video, poster, serta power point untuk presentasi.
“Untuk tahapannya, pertama yaitu seleksi paper esai dan kemudian pengumuman lolos finalis. Lalu, finalis membuat video, poster, dan power point untuk presentasi pada babak final. Seleksinya sudah sejak bulan Juni dan puncaknya di bulan September ini,” terang Meilisa, Selasa (19/9/2023).
Usung Teknologi Presensi
Dalam kompetisi itu, Meilisa mengusung sebuah ide berbasis teknologi. Ide itu berupa alat yang memudahkan siswa dalam melakukan presensi di lingkungan sekolah.
Lahirnya ide itu, kata Meilisa, berlatar belakang dari kondisi presensi manual di sekolah-sekolah yang terasa menyulitkan. Selain itu, presensi manual juga cenderung memakan waktu yang cukup lama. Sehingga, Meilisa mencetuskan alat untuk memudahkan presensi siswa dengan lebih cepat dan sederhana.
“Jadi, karya ini memang berangkat dari latar belakang presensi manual di lingkungan sekolah. Presensi manual itu kan membutuhkan waktu lama. Lalu, lahirlah ide alat ini yang berbasis face recognition, jadi bisa lebih cepat gitu,” ujar Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia itu.
Dengan alat tersebut, siswa bisa dengan mudah melakukan presensi melalui scan atau deteksi wajah. Metode ini, menurut Meilisa, lebih efektif dalam memudahkan presensi siswa daripada metode manual.
“Nantinya siswa bisa melakukan presensi hanya dengan scan atau deteksi wajah,” imbuhnya soal lomba esai nasional itu.
Sukses Hadapi Tantangan
Meraih gelar membanggakan tentu membutuhkan perjuangan yang tak mudah. Demikian halnya yang Meilisa alami. Saat menjalani tahap presentasi, Meilisa sempat menghadapi sejumlah tantangan. Tantangan itu salah satunya ketika menyampaikan gagasan pada audiens.
“Tantangannya lebih ke bagaimana menjelaskan teknologi ini waktu presentasi dan menjelaskannya ke umum. Karena ini kan teknologi, ya, basic-nya seperti box yang harus terkait dengan komputer. Sehingga, untuk membuat audiens paham dan mengerti gagasan kami ini menjadi salah satu tantangan tersendiri,” tuturnya.
Meski sempat berhadapan dengan tantangan-tantangan, Meilisa tetap sukses menuntaskan tahapan perlombaan itu hingga akhir. Tidak tanggung-tanggung, bahkan dua gelar sekaligus berhasil ia raih.
Kendati demikian, ia enggan berpuas diri. Meilisa berharap agar ke depan ia dapat terus menorehkan prestasi dan senantiasa menebar inspirasi pada sesama mahasiswa.
“Harapannya semoga nanti bisa mencoba lagi di berbagai perlombaan dan bisa lebih lagi. Dan tentunya semoga bisa terus menginspirasi yang lain,” tutupnya.
Penulis: Yulia Rohmawati
Editor: Binti Q. Masuroh





