Universitas Airlangga Official Website

UNAIR Perkuat Pendidikan Kolaboratif dan Partisipatif

Kegiatan DIPP UNAIR di Hotel Sheraton, Surabaya (foto: dokumen pribadi)

UNAIR NEWS – Di abad ini, aspek kolaborasi merupakan salah satu yang penting dalam menunjang optimalisasi pembelajaran dalam perkuliahan (pembelajaran kolaboratif). Hal itu senada dengan penyampaian Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris (Sasing) UNAIR David Segoh SS Med PhD pada Kamis (4/5/2022) di Hotel Sheraton, Surabaya. David saat itu menjadi pembicara dalam kegiatan Workshop Pembelajaran Kolaboratif dan Partisipatif di Universitas Airlangga oleh Direktorat Inovasi dan Pengembangan Pendidikan Universitas Airlangga (DIPP UNAIR).

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Direktur DIPP UNAIR Prof Dr I Made Narsa SE MSi Ak CA; Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni Prof Dr Bambang Sektiari Lukiswanto DEA drh; dan Akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) dr Ardi Findyartini PhD.

“Mengutip pemaparan penulis buku The Wisdom of The Crowds James Surowiecki bahwa kolaborasi dapat mendekatkan pada kebenaran. Seperti apa yang telah terjadi di Inggris pada 1994. Ketika itu banyak orang di pasar sapi yang menebak berat seekor sapi dan setelah semua tebakan tersebut dijumlah kemudian dirata-rata, hasilnya didapati angka yang mendekati benar,” paparnya.

Memperkuat Pembelajaran Kolaboratif

Dalam hal kolaborasi pembelajaran, sinergi tim merupakan yang utama. Antar-anggota dapat menciptkan kondisi saling bergantung dan peduli.

“Kelompok kecil yang terdiri dari 4 hingga 5 orang mahasiswa dapat menjadi sarana penerapan pembelajaran kolaboratif. Selanjutnya, dosen dapat memberikan tugas kepada mereka guna menciptakan suasana kedekatan satu sama lain. Dosen dapat mengganti anggota tim setelah beberapa kali pertemuan agar mahasiswa dapat berkolaborasi dengan yang lain juga,” terang David.

Untuk menciptakan kolaborasi yang baik, tim juga perlu menentukan tujuan mereka berdasar perkuliahan tersebut. Apabila tujuannya telah tercapai, maka dosen dapat memberikan penghargaan.

“Dosen dapat memantau kinerja setiap anggota tim. Pertanggungjawaban setiap anggota tim terkait dengan kontribusinya juga harus jelas. Mereka perlu berpartisipasi aktif dalam tim dan dosen perlu mengawasinya,” imbuh David.

Menggunakan Teknologi untuk Kemudahan Kolaborasi

Untuk memudahkan dan memaksimalkan kolaborasi, mahasiswa dan dosen dapat menggunakan berbagai perangkat teknologi. Sebagai contoh yakni memakai aplikasi Google Document (GDoc).

“Ketika kita mahasiswa mengerjakan tugas melalui GDoc, maka akan tercipta kolaborasi menulis yang lebih mudah. Karena di aplikasi tersebut, satu dokumen bisa untuk pengerjaan oleh beberapa orang. Selain itu melalui fitur GDoc pula, dosen dapat langsung mengontrol sejauh mana kinerja setiap anggota karena akan terlihat,” tutur dosen alumni UNAIR tersebut.

Penulis: Fauzia Gadis Widyanti

Editor: Feri Fenoria