UNAIR NEWS – Para mahasiswa khususnya enterpreneurs tentu tidak asing mendengar istilah start up. Dewasa ini, marak sekali bermunculan start up digital, yakni rintisan usaha yang memakai teknologi. Hal itu erat kaitannya dengan era sekarang di mana kecanggihan teknologi mengalami perkembangat pesat, sehingga masyarakat beralih mengonsumsi teknologi bersifat daring. Kondisi itu menginspirasi Perpustakaan Airlangga mengadakan Enterpreneur Talk START UP “Membangun, Jatuh Bangun dan Kesuksesannya” pada Selasa (25/09) di Aula Parlinah Moedjono, Perputakaan Kampus B UNAIR.
Yanuar Nugroho, SE., M.Sc.,Ak hadir sebagai pembicara Enterpreneur Talk “START UP”. Staff pengajar Fakultas Vokasi UNAIR ini menjelaskan bahwa start up sekarang telah mengalami pergeseran makna, banyak anggapan start up adalah perusahaan yang mengandalkan teknologi. Padahal jika ditelaah, start up mengandung arti perusahaan rintisan yang belum lama beroperasi di mana masih dalam tahap pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat.
“Hampir seluruh masyarakat menggunakan start up digital. Hal ini yang pada akhirnya mendoktrin persepsi masyarakat bahwa start up adalah rintisan berbasis teknologi,” ungkap Yanuar Nugroho.
Di samping itu dalam sesi seminar, Yanuar turut meyakinkan kepada partisipan bahwa sebuah bangsa bisa maju apabila wirausaha dalam negeri tersebut maju juga. Pernyataan tersebut bukanlah omong kosong. Amerika Serikat, Inggris, Jepang adalah beberapa contoh negara-negara dengan jumlah wirausaha terbanyak di dunia.
Pertanyaan yang muncul oleh setiap entreperenur kepada dirinya sendiri sebelum terjun di dunia usaha, apakah kita siap menghadapi tekanan sosial? Yanuar menjelaskan bahwa Jika kita terlalu peduli tentang apa yang orang lain pikirkan, kita sudah membuang waktu. Alih-alih usaha sukses, kita malah menjadi tidak fokus merintis usaha yang sudah dibangun.
Yanuar melanjutkan sukses menjadi wirausahawan berarti harus siap dengan segala masalah yang ada. Perhitungan finansial harus matang, pandai mengatur keuangan jangka panjang karena sepanjang jalan akan banyak pengeluaran tak terduga. Entrepreneur harus rela mengurangi jam tidur. Rata-rata mereka bekerja 80 jam per minggu untuk menghindari bekerja 40 jam per minggu. Jangan tertipu oleh berita founder startup yang menjadi miliarder, ada cerita yang menyakitkan di balik itu semua, malam tanpa tidur, dan penolakan serta kegagalan.
“Memang baik memiliki sebuah akhir perjalanan tapi pada akhirnya perjalananlah yang terpenting. Nikmati setiap proses jatuh bangun seorang wirausahawan, Selamat Mencoba!,” pungkas Yanuar
Penulis: Tunjung Senja Widuri
Editor: Nuri Hermawan





