n

Universitas Airlangga Official Website

UNAIR Studi Banding Perpustakaan di Birmingham dan Oxford, Sambil Napak Tilas Sejarah Ilmu Fisika

studi banding
PERPUSTAKAAN di University of Birmingham, tak ubahnya sebuah mall. Disinilah mahasiswa dan dosen dimanjakan dengan segala jurnal, buku, teks book dan fasilitas penunjang lain yang komplet. (Foto: Retna Apsari)

UNAIR NEWS – Perpustakaan merupakan jendela ilmu dan peradaban manusia. Sehingga hebat dan tidaknya suatu perguruan tinggi dapat dipotret dari perpustakaan yang dimilikinya. Mengingat Universitas Airlangga dalam rangka berlari menuju world class university (WCU), maka perpustakaan perlu mendapatkan perhatian ekstra.

Karena itulah, delegasi UNAIR yang sedang bertugas di Aston University melaksanakan benchmarking di Perpustakaan University of Birmingham serta di Perpustakaan Oxford University, pada 9 September 2018 lalu.

Delegasi UNAIR dibagi dua. Dr. Andy Hamim Zaidan, M.Si, Ph.D melakukan benchmarking ke Oxford University, sedangkan Prof. Dr. Moh. Yasin, M. Si dan Prof. Dr. Retna Apsari, M.Si benchmarking ke perpustakaan University of Birmingham. Tugas yang diemban ketiga delegasi itu tidak hanya berkutat di sekitar Aston University.

Dua delegasi UNAIR itu mendapatkan pendanaan dari Newton Fund dan satu delegasi pendanaan dari Universitas Airlangga-Kemenristek Dikti, sehingga mengupayakan mendapatkan kemanfaatan maksimal untuk UNAIR. Artinya, tidak terbatas pada bidang Fotonika dan Biofotonika beserta aplikasinya.

Aston University selain menjadi rujukan kepakaran Fotonika dan Biofotonika di UK, School of Business di perguruan tinggi ini merupakan terbaik di dunia dengan tiga akreditasi internasionalnya, yaitu ABMA, AACSB, dan EQUIS.

Kedepan, potensi kerjasama bidang tersebut dapat dilanjutkan oleh delegasi UNAIR lain yang kompeten untuk berkolaborasi, termasuk Fakultas Vokasi UNAIR sebagai praktisi utama bidang bisnis. Dengan adanya Departemen Bisnis di Fakultas Vokasi maka akan menajamkan arah kerjasama lanjutan bersama fakultas lain yang kompeten di UNAIR. Kerjasama yang dapat dilanjutkan harus berawal dari kerjasama riset dan pengiriman student atau staff outbond untuk studi lanjut.

Ketika masuk di area perpustakaan University of Birmingham, satu kata yang terucap adalah: luar biasa. Mahasiswa dan dosen dimanjakan dengan segala jurnal, buku, teks book dan fasilitas penunjangnya, termasuk ruangan sangat nyaman, komputer yang lengkap baik PC maupun laptop, ruang diskusi, cafetaria, foto copy, ruang riset, administrasi on line yang luar biasa.

Di musim dingin, perpustakaan terbuka 24 jam untuk dosen dan mahasiswa. Dengan akun yang dimiliki mahasiswa/dosen, mereka dapat dengan mudah berselancar di dunia maya, melanglang buana mencari referensi yang diperlukan, dan memfotocopy juga referensi terbatas yang memang harus didokumentasikan. Betapa indahnya.

”Saya yakin UNAIR pasti bisa memanjakan dosen dan mahasiswanya dengan mendesain perpustakaan yang berkelas dunia.”

PENELITIAN ALQUR’AN

Satu hal yang menarik bagi kedua delegasi UNAIR itu adalah penelitian dan manuscript yang luar biasa terkait seputar Al-Quran. Tidak menyangka bahwa di negara yang penduduknya mayoritas bukan pemeluk Islam itu malah aktif meneliti tentang Al-Quran dan segala hal terkait dengan Al-Quran beserta kandungan hebat di dalamnya.

studi banding
INILAH ruang Manuskrip Alqur’an di sebuah ruang di The Library of Birmingham. (Foto: Retna Apsari)

Penelitian ini dapat dikembangkan dan dikolaborasikan bersama antara peneliti University of Birmingham dengan sejawat di fakultas dan prodi yang linear di Universitas Airlangga. Misalnya pada prodi Ekonomi Islam baik di Fakultas Ekonomi dan Bisnis maupun di Fakultas Pascasarjana UNAIR.

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang dosen Fakultas Hukum yang sedang studi lanjut di University of Birmingham dengan topik Hukum Energi, Indry Wahyuni SH., MH., mengatakan bahwa dia bermimpi akan membantu menjadikan perpustakaan UNAIR menjadi pusat rujukan ilmiah untuk seluruh civitas akademik UNAIR.

Kembali ke perpusatakaan itulah yang menjadi mottonya. Desain perpustakaan dengan warna-warna dinding yang cerah dan menantang di UK, juga membuat perpustakaan terlihat dinamik dan bersahabat. Jadi ingat desain sekolah sekolah TK dan kelompok bermain.

Disamping perpustakaannya, University of Birmingham juga merupakan saksi penting lahirnya pakar-pakar fisika di eranya. Serasa berada di komunitas masa lalu fisika dan berkomunikasi dengan pakar-pakar penemu hukum-hukumnya. Salah satunya adalah Poynting penemu hukum intensitas yang diturunkan dari perkalian vektor medan listrik dan kuat medan magnet.

Hukum intensitas tersebut menjadi kajian yang spektakuler dalam bidang fotonika sampai dengan ranah aplikasi dalam bidang medis dan industri, yang telah dibahas dengan detail di Photonics of Medical Diagnostics Workshop tanggal 7-8 September 2018.

studi banding
INILAH tulisan tangan asli dari Einstein. Tulisan ini diabadikan di Perpustakaan Oxford University. (Foto: Andy Hamim Zaidan)

Dari hasil benchmarking Andy Hamim Zaidan di Oxford University, diperoleh hasil napak tilas yang luar biasa dari Rumus Einstein asli dari tulisan penemunya. UK memang kota lahirnya keilmuan fisika. Napak tilas dengan melihat langsung dari bukti-bukti sejarah yang ada akan semakin meningkatkan cinta kita terhadap fisika khususnya dan keilmuan pada umumnya.

Fisika bukan momok ternyata. Kehebatan fisika dapat dipotret dengan indah di sepanjang UK. Marilah kita mencoba untuk menyamakan frekuensi bersama agar terjadi resonansi maksimal untuk membawa kita berlari menuju World Class University.

Kehebatan perpustakaan di Birmingham juga dapat disaksikan pada tanggal 12 September 2018. Negara ini benar-benar membuat perpustakaan seperti mall yang menarik warganya untuk berkunjung dan menjadikan perpustakaan sebagai central kegiatan mereka. Saya percaya, Indonesia akan bisa mewujudkannya, khususnya untuk almamater tercinta Universitas Airlangga. (*)

Penulis: Prof. Retna Apsari, dari Aston University, UK.

Editor : Bambang Bes