Universitas Airlangga Official Website

UNICEF Indonesia Sebut Universitas Berperan Penting dalam Mencapai SDGs 2030

Tubagus Arie Rukmantara saat sesi penyampaian materi dalam SDGs Festival 2023 (Foto: Istimewa)
Tubagus Arie Rukmantara saat sesi penyampaian materi dalam SDGs Festival 2023 (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – UNICEF Indonesia sebut universitas berperan penting dalam mencapai SDGs (Sustainable Development Goals) 2030. Hal itu tersampaikan langsung oleh Tubagus Arie Rukmantara, Chief of Field Office UNICEF Indonesia for Java and Bali pada gelaran SDGs Festival Universitas Airlangga (UNAIR) 2023. Acara itu berlangsung Senin (20/11/2023) hingga Rabu (22/11/2023), di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen, Kampus MERR-C UNAIR.

Membuka pemaparan materi, Arie menyebut bahwa dunia internasional hanya memiliki tujuh tahun tersisa untuk mencapai SDGs 2030. Akan tetapi, kenyataanya, masih terdapat berbagai permasalahan global yang menghambat tercapainya tujuan itu.

Setidaknya ada tiga masalah utama, yakni krisis pandemi, konflik, dan perubahan iklim. Anak-anak menjadi kelompok yang rentan mengalami imbas negatif dari permasalahan ini. Padahal, anak-anak seharusnya menjadi pihak yang merasakan langsung hasil dari tercapainya SDGs ini. “Pada tahun 2022, UNICEF mencatat sebanyak 10.5 juta anak di dunia kehilangan orang tuanya akibat pandemi. Sementara itu, lebih dari 30 juta anak di dunia telantar akibat konflik dan lebih dari satu juta anak berada pada status risiko tinggi terdampak krisis iklim,” ujar Arie.

Di Indonesia, kata Arie, salah satu masalah yang rentan menimpa anak-anak adalah masalah pendidikan. Menurut catatan UNICEF, pendidikan bagi anak-anak di Indonesia masih terbilang jauh dari kata inklusif. Anak-anak berkebutuhan khusus yang menamatkan pendidikan hingga ke jenjang SMA hanya sekitar 29 persen.

Anak-anak juga rentan menjadi korban kekerasan. Data UNICEF menunjukkan bahwa empat dari sepuluh anak muda berusia 18-24 tahun pernah mengalami kekerasan sebelum mereka memasuki usia 18 tahun. Permasalahan lainnya adalah bahwa anak-anak satu di antara tiga anak berusia 10-17 tahun memiliki masalah kesehatan mental. “Ada banyak permasalahan terkait dengan generasi muda di Indonesia. Di sektor pendidikan misalnya, pendidikan pada anak-anak masih belum inklusif. Permasalahan lainnya yaitu permasalahan kesehatan mental,” kata Arie.

Peran Universitas

Melihat kompleksitas masalah tersebut, Arie mengatakan bahwa pemerintah perlu meningkatkan layanan kesehatan khusus anak-anak dan remaja. Pemerintah, sambungnya, dapat memanfaatkan teknologi untuk menyediakan layanan seluler yang mencakup berbagai masalah kesehatan remaja. “Kami merekomendasikan untuk memberikan layanan kesehatan khusus pada anak-anak dan remaja di setiap puskesmas yang ada di seluruh Indonesia. Pemberian layanan ini tentunya harus ramah anak muda dan aksesnya bisa secara online maupun offline,” terang Arie.

Untuk menjalankan rekomendasi hal itu, perlu adanya kolaborasi berbagai pihak, termasuk universitas. Bersama UNAIR, UNICEF Indonesia telah melakukan kolaborasi penyelesaian berbagai masalah kesehatan pada anak di regional Jawa Timur. 

Beberapa kolaborasi itu misalnya saja melalui GELIAT (Gerakan Peduli Ibu dan Anak Sehat) UNAIR. GELIAT memiliki berbagai program untuk menyejahterakan ibu dan anak-anak, misalnya saja melalui pemberian imunisasi dan pencegahan stunting. “Dalam hal ini, UNICEF tidak bekerja sendirian melainkan berkolaborasi dengan pemerintah, NGO (Non-Governmental Organization), dan universitas untuk menghadapi tantangan berkaitan dengan hak asasi anak, kesehatan, pendidikan, dan kehidupan yang layak bagi mereka,” tegas Arie.

Pada akhir, Arie berharap UNAIR dapat menjalin kerja sama dengan para pemangku kebijakan untuk meningkatkan investasi dan edukasi untuk menyejahterakan hidup anak-anak di Surabaya. “Bersama dengan SDGs Center kita bisa engage dengan sektor swasta dan media untuk mencapai tujuan-tujuan ini. Apalagi, kita semua tahu Surabaya adalah salah satu kota dengan tingkat bisnis yang tinggi sehingga kita bisa memanfaatkan hal ini,” pungkasnya.

Penulis: Yulia Rohmawati

Editor: Feri Fenoria