Infertilitas masih menjadi tantangan besar bagi banyak pasangan. Secara global, sekitar 1 dari 6 orang mengalami kesulitan untuk memiliki keturunan. Di Indonesia sendiri, angkanya mencapai 10–15% pasangan usia reproduktif. Di tengah tantangan ini, program bayi tabung (in vitro fertilization/IVF) menjadi salah satu harapan besar bagi para pasangan yang tengah mendambakan keturunan. Namun, program bayi tabung bukanlah sekadar soal “membuat embrio lalu menanamkannya”. Ada banyak faktor yang berperan dalam menentukan keberhasilannya. Dua di antara faktor tersebut yang paling penting adalah usia calon ibu dan waktu transfer embrio ke dalam rahim.
Mengapa Usia Calon Ibu Sangat Berpengaruh?
Penelitian yang dilakukan di Klinik Tiara IVF RSUD Dr. Soetomo Surabaya terhadap 460 pasien program bayi tabung selama periode 2018–2023 menunjukkan bahwa usia calon ibu memiliki peran yang sangat signifikan terhadap keberhasilan kehamilan. Hasilnya cukup jelas, calon ibu kelompok usia 26–30 tahun memiliki angka kehamilan tertinggi, baik secara biokimiawi (tes hormon hCG positif) maupun klinis (terlihat kantong kehamilan pada pemeriksaan USG). Sebaliknya, calon ibu usia di atas 40 tahun menunjukkan angka kehamilan yang paling rendah. Secara biologis, hal ini dapat dijelaskan. Seiring bertambahnya usia, jumlah dan kualitas sel telur menurun. Risiko kelainan kromosom pada embrio juga mengalami peningkatan, sehingga peluang embrio untuk menempel dan berkembang dengan baik di dalam rahim menjadi lebih kecil. Selain itu, kualitas endometrium (lapisan dinding rahim) juga ikut menurun, membuat proses implantasi (penempelan embrio dalam rahim) semakin menantang.
Hari ke Berapa Embrio Sebaiknya Ditransfer ke dalam Rahim?
Selain usia calon ibu, penelitian ini juga menyoroti satu aspek penting yang sering luput dari perhatian pasien, yaitu hari transfer embrio. Dalam praktik program bayi tabung, embrio dapat ditransfer pada hari ke-3 (fase pembelahan awal), hari ke-4 (fase morula), atau hari ke-5 (fase blastokista). Menariknya, hasil penelitian menunjukkan bahwa transfer embrio hari ke-4 justru memberikan angka kehamilan tertinggi, mengungguli hari ke-3 dan hari ke-5. Mengapa demikian? Pada hari ke-4, embrio berada pada fase morula, yaitu fase transisi penting ketika embrio mulai mengaktifkan gennya sendiri dan secara alami bersiap memasuki rahim. Waktu ini dinilai lebih selaras dengan kesiapan rahim, sehingga komunikasi biologis antara embrio dan endometrium menjadi lebih optimal. Sementara itu, transfer embrio hari ke-3 dilakukan saat embrio masih sangat dini dan belum cukup “mandiri”. Begitu pula dengan transfer embrio hari ke-5, memang memungkinkan seleksi embrio terbaik, tetapi tidak semua embrio mampu bertahan hingga fase ini, terutama pada pasien dengan jumlah embrio terbatas. Dengan kata lain, hari ke-4 bisa menjadi titik tengah yang ideal antara kualitas embrio dan kesiapan rahim.
Apakah Semua Kehamilan dalam Program Bayi Tabung Dapat Bertahan?
Penelitian ini juga menemukan bahwa angka kehamilan biokimiawi lebih tinggi dibandingkan kehamilan klinis. Artinya, tidak semua embrio yang awalnya berhasil menempel pada dinding rahim dapat berkembang menjadi kehamilan yang terdeteksi melalui USG. Fenomena ini sering disebabkan oleh: 1) kelainan kromosom embrio, 2) kualitas embrio yang kurang optimal, 3) kondisi endometrium yang belum sepenuhnya mendukung, dan 4) faktor usia ibu yang lebih lanjut. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan program bayi tabung tidak hanya soal “terjadi kehamilan”, tetapi juga mempertahankan kehamilan tersebut hingga berkembang secara normal dan optimal.
Apa Maknanya bagi Pasien dan Tenaga Medis?
Hasil dari penelitian ini memberikan beberapa pesan penting:
- Usia calon ibu masih menjadi faktor kunci dalam keberhasilan program bayi tabung.
- Waktu transfer embrio perlu dipersonalisasi, tidak selalu harus hari ke-3 atau hari ke-5.
- Transfer embrio hari ke-4 layak dipertimbangkan sebagai strategi alternatif yang menjanjikan, terutama pada kondisi tertentu.
- Konseling pasien sebaiknya tidak hanya fokus pada teknologi, tetapi juga pada perencanaan waktu yang tepat.
Kesimpulan
Keberhasilan program bayi tabung bukanlah sebuah hasil yang kebetulan. Ia merupakan perpaduan antara usia calon ibu, kualitas embrio, kesiapan rahim, dan timing yang tepat. Penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan usia 26–30 tahun dengan transfer embrio hari ke-4 memiliki peluang kehamilan tertinggi. Kedepannya, pendekatan program bayi tabung yang lebih individual dan berbasis bukti ilmiah diharapkan dapat meningkatkan angka keberhasilan sekaligus memberikan harapan yang lebih realistis bagi pasangan yang sedang berjuang memiliki buah hati.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada
https://doi.org/10.30574/msarr.2025.15.2.0131
Pregnancy Rates in Day 3, 4, and 5 Embryo Transfers in IVF Cycles: A Comparative Study Firnanda Bagoes Septiawan Putra, Zakiyatul Faizah, Sri Ratna Dwiningsih, Ninik Darsini





