UNAIR NEWS – Membedah strategi transformasi riset dari sekadar luaran administratif menjadi solusi konkret di masyarakat, Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar sesi diskusi panel Strategic Research Collaboration di Aula Bima Suci, ACC Kampus MERR-C UNAIR, Senin (2/11/2026). Dipandu oleh Prof (H.C. UA) Dr Carina Citra Dewi Joe PhD sebagai moderator, forum ini mempertemukan perwakilan Kemendiktisaintek RI Prof Yudi Darma dan pakar Monash University Prof Juliana Sutanto.
Pergeseran Paradigma Riset
Dalam sesi tersebut, Prof Yudi Darma menekankan pentingnya pergeseran pola pikir (paradigm shift) dalam ekosistem penelitian nasional. Ia menyoroti data Global Innovation Index (GII) 2026 yang menunjukkan keaktifan Indonesia dalam kemitraan internasional belum berbanding lurus dengan dampaknya.
“Indonesia berada di peringkat sepuluh besar dunia untuk keaktifan pembentukan kemitraan (MoU). Namun, dari sisi dampak nyata riset, posisi kita masih di kisaran peringkat 130-an secara global,” ungkap Prof Yudi.
Ia menegaskan kerja sama riset tidak boleh berhenti pada penandatanganan dokumen di atas kertas. Perguruan tinggi didorong beralih dari kegiatan berbasis luaran administratif (output-based) menuju kegiatan berbasis dampak (outcome-based) dengan memanfaatkan potensi lebih dari 60 ribu alumni perguruan tinggi Australia di Indonesia.
“Kita perlu membangun komunikasi sejak awal dengan pemangku kepentingan, seperti pemerintah daerah, industri, dan masyarakat. Peneliti harus mengidentifikasi persoalan riil sebelum menyusun proposal,” jelasnya.
Prof Yudi menambahkan bahwa Kemendiktisaintek siap mendukung riset berdampak melalui pendanaan insentif hingga satu miliar per proposal di portal SEMESTA, serta program fellowship dan mentorship.

Pendanaan Multi-Tahun dan Sinergi Interdisiplin
Sementara itu, Prof Juliana Sutanto membagikan pandangannya mengenai strategi membangun kolaborasi internasional yang efektif. Ia menyoroti perbedaan mendasar skema pendanaan riset di Indonesia dan Australia, khususnya terkait kerangka waktu (time horizon).
“Tantangan di Indonesia adalah skema pendanaan yang terikat tahun anggaran tunggal. Padahal, riset berdampak tinggi membutuhkan kerangka waktu multi-tahun (multi-year funding) agar pengumpulan data hingga publikasi berjalan optimal,” papar Prof Juliana.
Lebih lanjut, ia menggarisbawahi pentingnya prinsip kemitraan setara (equal partnership) serta pendekatan interdisiplin. Prof Juliana mencontohkan hasil nyata kolaborasi berupa Digital Health Innovation Canvas yang kini diadopsi ke dalam sandboxKementerian Kesehatan RI.
Selain itu, pada proyek HelloStroke di Manado, metode co-design lintas disiplin terbukti efektif menemukan persoalan lapangan. Dari riset tersebut terungkap bahwa pengguna utama yang sangat membutuhkan dukungan kesehatan mental justru para pengasuh (caregiver).
“Tantangan global tidak bisa diselesaikan dari satu sudut pandang ilmu saja. Sinergi interdisiplin dan pelibatan masyarakat menjadi kunci utama untuk melahirkan solusi nyata,” pungkasnya.
Penulis: M Yasir Dharmawan Diniy
Editor: Khefti Al Mawalia
