UNAIR NEWS – CHARITY 2025 bertema “Walking with Compassion, Speaking with Understanding For a World Where Everyone Belongs” sukses diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga melalui Zoom Meeting pada Sabtu (1/11/2025). Sesi ini menghadirkan Dr Tino Leonardi M Psi Psikolog, dosen psikologi sekaligus ahli pendidikan inklusif. Ia mahsyur dan berpengalaman dalam membimbing mahasiswa dan masyarakat memahami kebutuhan penyandang disabilitas. Kehadirannya juga memotivasi peserta untuk lebih peduli terhadap lingkungan sosial serta aktif berpartisipasi dalam kegiatan inklusif.
Ia membagikan wawasan praktis, pengalaman nyata, serta strategi advokasi dan praktik langsung bagi penyandang disabilitas. Ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas mengikuti acara ini. Diskusi interaktif, pertukaran pengalaman, dan simulasi kegiatan nyata memberi inspirasi agar peserta lebih peka terhadap keberagaman dan inklusi sosial. Selain itu, panitia mengajak peserta menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari, dengan langkah konkret untuk menciptakan lingkungan yang ramah dan inklusif.
Memahami Disabilitas, Normalitas, dan Dampak Sosial
Tino menekankan pentingnya memahami konsep disabilitas dan normalitas. Ia menjelaskan ketidaksetaraan muncul karena kategori sosial yang memudahkan manusia memahami perbedaan. Namun, tanpa pengetahuan cukup, kategori ini sering menimbulkan bias dan stigma.
Individu dengan disabilitas sering menghadapi persepsi negatif. Mereka merasa kurang mampu, rusak, atau perlu mendapat perbaikan. Ini disebut ableism dan harus dihindari,” ujarnya. Tino menekankan bahwa kesadaran bermula dari keingintahuan aktif. Panitia mengajak peserta mengamati fasilitas publik, seperti jalur pejalan kaki untuk tunanetra, area parkir bagi penyandang disabilitas, tempat duduk prioritas, dan sekolah inklusif. Kesadaran ini penting agar fasilitas dapat tepat guna dan setiap orang berhak untuk mendapat hormat.
Peran Universitas, Advokasi, dan Aksi Nyata
Dalam sesi tanya jawab, Tino menjelaskan komunikasi advokasi disabilitas harus menyentuh emosi dan mendorong perubahan perilaku nyata. Universitas berperan penting dengan menyediakan lingkungan belajar kondusif, fasilitas kelas, dan metode pembelajaran inklusif. Tujuannya agar mahasiswa memiliki keterampilan memadai dan sukses setelah lulus.
Tino menegaskan bahwa kesadaran dan inklusi bagi penyandang disabilitas adalah proses berkelanjutan. Kampanye, pendidikan inklusif, dan regulasi pemerintah harus berjalan bersamaan dengan kepedulian individu.
“Kesadaran penuh bermulai dari diri sendiri. Setelah tahu, tunjukkan aksi nyata. Dengan begitu, perubahan budaya dan perilaku inklusif dapat terjadi luas dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkas Tino Leonardi.
Penulis: Dara Devinta Faradhilla
Editor: Ragil Kukuh Imanto





