Universitas Airlangga Official Website

Webinar Inspirapreneur, BEM FIB UNAIR Bekali Mahasiswa Teknik Promosi Visual Produk

Penyelenggaraan webinar Inspirapreneur oleh Kementerian Ekraf BEM FIB kolaborasi dengan DPKKA UNAIR, Kamis (17/7/2025) dalam Zoom Meeting. (Foto: Nur Khovivatul Mukorrobah).
Penyelenggaraan webinar Inspirapreneur oleh Kementerian Ekraf BEM FIB kolaborasi dengan DPKKA UNAIR, Kamis (17/7/2025) dalam Zoom Meeting. (Foto: Nur Khovivatul Mukorrobah).

UNAIR NEWS – Sebuah foto bisa jadi cinta pertama yang membuat calon konsumen jatuh hati. Melalui visual yang apik dan pencahayaan yang tepat, produk usaha tak hanya menarik secara estetika tetapi juga membangun kepercayaan pelanggan sejak pandangan pertama. Itulah salah satu pesan utama dalam webinar Inspirapreneur bertajuk teknik pengambilan gambar dan desain produk usaha. Gelaran itu sukses berlangsung pada Kamis (17/7/2025) lewat Zoom Meeting diikuti mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Indonesia. 

Kegiatan itu diselenggarakan oleh Kementerian Ekonomi Kreatif BEM Fakultas Ilmu Budaya (FIB) bekerja sama dengan Direktorat Pengembangan Karir, Inkubasi Kewirausahaan, dan Alumni (DPKKA) Universitas Airlangga (UNAIR). Dalam sambutan, penanggung jawab acara, Halimatus Sakdiyah, menekankan pentingnya penguasaan promosi visual bagi pelaku usaha pemula. Ia menyampaikan bahwa webinar ini hadir sebagai bentuk kepedulian terhadap UMKM dan wirausaha muda agar mampu mengemas produk secara lebih profesional.

Nilai Jual Produk

Puput Lestari, seorang wirausaha muda pemilik brand cuteby.me dan meigmaofficial diundang sebagai pembicara webinar tersebut. Ia membagikan pengalaman dan wawasan seputar teknik dasar fotografi produk serta desain visual yang relevan untuk pelaku usaha pemula, khususnya UMKM dan mahasiswa wirausaha.

Mengawali sesinya, puput membahas pentingnya kewirausahaan sebagai bentuk kreativitas dan inovasi dalam menciptakan barang atau jasa. Namun secara khusus, ia menekankan bahwa keberhasilan usaha sangat ditentukan oleh cara dalam mengenalkan produk ke publik, terutama melalui media digital.

“Foto produk adalah identitas dan nilai jual. Itu yang pertama kali dilihat calon pembeli, bahkan sebelum membaca deskripsi. Kalau visualnya menarik, mereka bisa langsung percaya dan ingin beli,” ujar Puput.

Puput kemudian membagikan lima teknik utama dalam fotografi produk yang dapat diterapkan oleh siapa saja, bahkan hanya dengan kamera ponsel. Ia memberi penjelasan dengan menekankan pentingnya pencahayaan alami. Menurutnya, sinar matahari pagi atau sore merupakan waktu terbaik sebab menghasilkan cahaya yang lembut dan merata. Pencahayaan semacam ini sangat cocok untuk produk-produk handmade seperti aksesori atau pakaian yang difoto di latar alami misalnya di taman bunga.

Prinsip berikutnya adalah angle atau sudut pengambilan gambar. Puput mendorong peserta untuk bereksperimen dari berbagai sisi depan, samping, hingga sudut atas. “Eksperimenlah dengan berbagai sudut hingga menemukan yang paling menggambarkan keunggulan produkmu,” ujarnya.

Tak hanya itu, latar belakang hingga tone warna juga berperan penting dalam menonjolkan produk. Puput menyarankan penggunaan latar netral seperti putih, abu-abu, atau pastel agar fokus tetap pada produk. Sementara soal komposisi, Puput menyarankan penggunaan grid (garis bantu) foto dan aturan sepertiga agar posisi produk lebih seimbang. Ia juga menganjurkan peserta menyisakan ruang kosong untuk teks tambahan, sekaligus memastikan proporsi produk tidak terlalu besar atau kecil dalam bingkai.

Puput kembali menekankan bahwa semua teknik tersebut bisa ia lakukan hanya dengan peralatan sederhana. Kamera ponsel, tripod, alas foto, hingga properti dekoratif murah seperti bunga kering atau alat makan, sudah cukup untuk menghasilkan foto produk berkualitas jika digunakan dengan teknik yang tepat.

Di penghujung sesi, Puput juga berbagi kisah jatuh bangun dalam perjalanan usahanya. Berawal dari membuat gelang dengan benang sisa jahitan ibu hingga bertahan di tengah pandemi untuk berjualan masker. Semua ia lalui dengan kreativitas dan daya juang. 

“Aku pernah gagal, jualanku enggak laku. Tapi aku tetap berpikir, ‘apa yang bisa aku jual hari ini? Dari situ aku belajar bahwa kunci konsistensi adalah kuat mental dan inovasi,” tutupnya. 

Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah

Editor: Khefti Al Mawalia