UNAIR NEWS — Digistar Club Chapter Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar webinar pada Jumat (02/03/2025). Webinar tersebut bertema Steminist Power : Kartini’s Legacy in the Digital Age. Dalam acara, turut hadir Azzahra Kamila, selaku Cyber Security Program Planning Telkom Indonesia dan Ariane Nur Arifin, selaku Best Favorite Puteri Pemberdayaan Perempuan Jawa Timur 2024 dan Staff of Public Relation Girl Up UNAIR, sebagai pembicara.
Webinar tersebut mengupas tuntas mengenai jejak emansipasi perempuan yang diwariskan oleh Kartini, khususnya di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Para pembicara menyoroti bahwa STEM merupakan bidang yang relatif baru sekaligus menjadi tantangan bagi perempuan, karena masih didominasi oleh laki-laki.
Maskulinitas dan Dominasi Laki-Laki
Ariane menyoroti adanya stereotip dan bias gender yang masih melekat di masyarakat. Dunia teknologi kerap diasosiasikan dengan maskulinitas dan didominasi oleh laki-laki. Akibatnya, terjadi ketimpangan kesempatan bagi perempuan dalam mengakses dan berkembang di dunia STEM.
Ariane juga menyoroti bagaimana lingkungan kerja di bidang STEM cenderung tidak ramah bagi perempuan. Ruang-ruang profesional yang sangat maskulin kerap terasa kurang aman dan tidak inklusif, sehingga menciptakan hambatan psikologis maupun struktural bagi perempuan untuk berkembang.
“Ada salah satu istilah yang namanya glass ceiling. Jadi bener banget glass ceiling adalah batas tak kasat mata yang menghambat perempuan untuk mencapai posisi karir yang lebih tinggi, meskipun mereka memiliki kompetensi yang setara,” jelasnya.
Kamila juga mengonfirmasi hal tersebut bahwa partisipasi perempuan di bidang cyber security cukup sedikit. Ia juga menyampaikan bahwa perempuan merasa kesulitan dalam naik pangkat karena dominasi laki-laki yang masih kuat di posisi strategis. Perempuan sering kali harus menempuh perjalanan karir yang lebih panjang dan berliku untuk mencapai posisi yang setara, terutama karena pandangan dari generasi yang lebih tua masih sarat bias gender.
“Biasanya ekspektasi sosial seperti dorongan bagi perempuan untuk mengutamakan peran domestik seperti mengurus rumah tangga dan suami—sehingga dianggap tidak perlu lagi berkarir. Agak susah juga karena kita (perempuan) harus mengorbankan salah satu prioritas kita,” jelas Kamila.
Mendobrak Stereotip Gender
Kamila dan Ariane sama-sama menekankan pentingnya terciptanya lingkungan kerja yang positif untuk mendukung pemberdayaan perempuan. Ariane berbagi pengalamannya bergabung dengan organisasi yang fokus pada isu ini, yang membawanya turut mengadvokasi dan mengedukasi perempuan lain.
Ia juga menyoroti bahwa perkembangan teknologi membuka ruang bagi objektifikasi perempuan dan cyberbullying. Karena itu, baik perempuan maupun laki-laki perlu bersama-sama menghadapi tantangan ini. Keberpihakan terhadap korban sangat penting agar nilai-nilai misoginis tidak semakin mengakar dan membuat perempuan merasa bahwa menjadi korban adalah hal yang wajar.
“Berbagi pengalaman dengan sesama perempuan itu sangat penting, karena sampai saat ini perempuan masih termarjinalkan. Kalau kita saling berbagi pengalaman Mungkin akan ada energi positif yang akan meyakinkan para perempuan untuk survive kedepannya,” ungkap Ariane.
Kamila juga menambahkan bahwa bidang STEM tidak sesusah yang dibayangkan. Menurutnya, setiap individu yang ingin menekuni bidang STEM harus mengasah hard skill dan soft skill. Selain itu, ia menyoroti pentingnya mengetahui value diri dan mengafirmasi diri sendiri, karena dari situlah kepercayaan iri dapat menghalau ketakutan.
“Bidang STEM ini memang salah satu bidang yang sangat dinamis. Makanya, kita harus mau belajar. Situasinya pasti berubah dan kita dituntut untuk beradaptasi. Kemampuan critical thinking juga perlu diasah pastinya.”
Penulis : Dalliyah Iftitah Arbi
Editor : Khefti Al Mawalia





