Universitas Airlangga Official Website

Wisudawan Psikologi Raih Dua Gelar dari UNAIR dan QUT Australia

Gricelin Tristeny Lentik (kiri) dan Haykal Afkar (kanan), dua wisudawan Psikologi UNAIR yang raih dua gelar sekaligus (Foto: PHMP UNAIR)

UNAIR NEWS – Fakultas Psikologi (FPsi) UNAIR berhasil luluskan mahasiswanya dengan dua gelar sekaligus. Mereka di antaranya adalah Haykal Afkar dan Gricelin Tristeny Lentik. Selain mereka, terdapat lima mahasiswa lain yang juga raih dua gelar. Gricelin dan Haykal lulus menjadi wisudawan periode 261 yang berlangsung pada Minggu (12/4/2026), Kampus MERR-C. Keduanya sama-sama lulus dari program double degree S1 Psikologi Fakultas Psikologi UNAIR dan melanjutkan Queensland University of Technology (QUT) di Brisbane, Australia.

Perjalanan Haykal menimba ilmu sebagai mahasiswa International Undergraduate Program (IUP) dan memutuskan untuk mengambil program double degree di QUT tidaklah mudah. Program double degree ini merupakan program kerja sama dari UNAIR, yang memfasilitasi mahasiswanya untuk bisa belajar di luar negeri.

“Saya memilih jalan ini karena mengikuti orang tua saya yang juga bekerja di bidang Psikologi. Untuk double degree sendiri, saya juga ingin untuk mengetahui apa perbedaan antara materi yang diberikan dari UNAIR dan QUT, sehingga dapat mengimplementasikan ilmu yang saya dapat kembali di Indonesia,” ujar Haykal.

Usai lulus, Haykal ingin fokus berkontribusi untuk masyarakat Indonesia. Ia menilai, masih banyak orang yang diterpa persoalan psikologi, namun belum mendapatkan solusi atau penanganan lebih.

Senada denggan Haykal, sejak di bangku menengah, Gricelin telah memiliki ketertarikan terhadap ilmu psikologi. UNAIR dipilihnya sebagai ruang untuknya berkembang dan tumbuh, serta menawarkan kesempatan untuk belajar di luar negeri. Benar saja, saat berkuliah di UNAIR, Gricelin berhasil meraih kesempatan mengikuti program double degree.

Dengan mengambil double degree, Gricelin berharap dapat sekaligus mendapat dua ilmu dari universitas yang berbeda dari cara belajar dan sistem belajar mengajar. “Secara pelajaran, sama. Hanya saja di QUT kami lebih mengarah pada teoritis, sementara di UNAIR lebih praktikal,” katanya.

Selama dua tahun di QUT, Gricelin mengaku tidak ada tantangan yang berarti. Sebaliknya, ia justru sudah mampu beradaptasi dengan kehidupan di Australia. Untuk itu, usai menyelesaikan studinya ini, Gricelin berharap dapat melanjutkan passion khususnya dalam dunia pendidikan anak-anak. Terutama seperti anak-anak yang berkebutuhan khusus atau dengan kebutuhan lain di Indonesia.

Penulis: Fauziah Kandela

Editor: Yulia Rohmawati