UNAIR NEWS – Microbial Biofilms menjadi pembahasan menarik di kalangan akademisi dan peneliti terkhusus yang menggeluti mikroorganisme. Pada 27-29 Februari 2024, Departemen Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga mengundang Prof Dr Ute Romling, Professor pada bidang Medical Microbial Physiology, Karolinska Institutet, Swedia, dalam Workshop mengenai Microbial Biofilms.
Bertempat di Ruang Sidang Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Kampus MERR-C UNAIR, acara yang bernama “Microbial Biofilms Course and Workshop” tersebut terbuka bagi seluruh Dosen Pengajar dan Mahasiswa UNAIR. Pada hari pertama, Workshop bermula dengan pembukaan dan pengantar Biofilms (pengertian, sejarah, model, dan kejadian) oleh Prof Ute. Agenda hari pertama tersebut juga berbicara mengenai struktur komponen dari Biofilms.
Apa Itu Biofilm?
Sebagai pengantar, biofilm merupakan komunitas sel otonom multiseluler yang sering kali berasosiasi dengan permukaan. Pembentukannya merupakan cara alami pertumbuhan hingga 80 persen mikroorganisme yang hidup di planet ini. Biofilm tahan terhadap agen antimikroba dan tindakan sistem kekebalan karena toleransinya terhadap berbagai tekanan lingkungan.
Berlanjut pada hari kedua, Prof Ute melanjutkan pembahasan mengenai regulation of biofilms formation. Selain itu, ia juga menyampaikan perihal physiology and metabolism of biofilms.

Prof Ute merupakan peneliti kelas dunia yang telah banyak berkiprah dalam bidang Mikrobiologi Molekuler. Penelitiannya berfokus pada mekanisme molekuler pembentukan biofilm, terutama pada Enterobacteria seperti Salmonella typhimurium dan mekanisme persistensi klon C. Pseudomonas aeruginosa yang tersebar di seluruh dunia.
Per 2021 lalu, Prof Ute Romling telah memiliki 127 publikasi karya asli, 41 peer-reviewed reviews, 2 peer reviewed protocols, 10 publikasi ilmiah populer; 15 bab buku dan 1 buku editorial. Selain itu, ia telah menerima hibah penelitian dari Dewan Penelitian Swedia, Yayasan ALF, Komisi Eropa dan Yayasan Penelitian Jerman.
Workshop Hari Ketiga
Adapun pada hari ketiga sekaligus hari terakhir, Prof Ute berbicara mengenai Tolerance mechanisms and treatment strategies for biofilms kepada audiens. Dalam salah satu pembahasannya, beliau memaparkan perihal berbagai strategi untuk mengidentifikasi senyawa anti-biofilm. “Di antaranya, skrining untuk pencegahan pembentukan biofilm, skrining untuk perubahan ekspresi gen biofilm, dan skrining untuk perubahan aktivitas enzimatik” ujar penerima penghargaan the young Investigator Award for Research in Clinical Microbiology and Infectious Diseases dari ESCMID pada tahun 2000 tersebut.
Tidak hanya itu, beliau juga menerangkan mengenai alur penilaian senyawa antibiofilm. “skema alur penilaian senyawa antibiofilm atau antimikroba melalui uji skrining yang meliputi aktivitas antimikroba pertama (pengukuran OD), aktivitas antibiofilm, dan juga uji tambahan” terangnya.
Di akhir sesi, Prof Ute menyimpulkan bahwa mikroba pembentuk biofilm toleran terhadap aksi antimikroba, desinfektan, deterjen dan sanitizer. “Dan, mikroba dalam biofilm berkontribusi terhadap percepatan transfer horizontal gen resistensi antimikroba” pungkas Prof Ute.
Usai pemaparan materi, agenda berlanjut dengan praktik uji biofilm 96 well plate (selama seminggu di sore hari). Setelah itu, acara berlanjut dengan ISHOMA dan pemaparan materi kedua mengenai “Bioinformatics identification of biofilm gene products” yang dilanjutkan dengan penutupan.
Penulis : Danar Trivasya Fikri
Editor : Nuri Hermawan





