UNAIR NEWS – Kemampuan berpikir kreatif atau creative thinking adalah salah satu bekal penting untuk menjadi seorang konten kreator. Oleh karena itu, Pusat Komunikasi dan Informasi Publik (PKIP) Universitas Airlangga (UNAIR) mengadakan seminar Creative Thinking as Content Creator. Seminar ini berlangsung di Airlangga Convention Center (ACC), Hall Bima Suci, pada Senin (17/2/2024).
Herma Retno Prabayanti SE M Med Kom, Dosen sekaligus praktisi dalam bidang konten kreator menyampaikan bahwa berpikir kreatif merupakan aspek penting dalam melakukan produksi konten. Menurutnya ide kreatif dapat muncul dari melakukan riset pada berbagai platform. “Industri media manapun menggunakan kerangka berpikir yang digunakan dalam metode penelitian,” terangnya.
Fenomena dan Empati
Herma juga menyampaikan bahwa dalam proses berpikir kreatif penting untuk bisa menangkap fenomena yang ada. Oleh karena itu, seorang content creator harus memiliki rasa empati yang kuat agar dapat menangkap fenomena. ”Kalau kita tidak memiliki empati untuk menangkap fenomena, kita tidak akan mendapatkan hook yang bagus,” ungkapannya.
Setelah berhasil menangkap fenomena, Herma juga mengatakan bahwa seorang content creator juga harus bisa menjelaskan secara rinci bagaimana fenomena itu. Herma juga menyampaikan fenomena bisa muncul dari hal-hal kecil di sekitar mahasiswa. ”Dengan memperhatikan sekitar maka akan timbul inspirasi untuk menciptakan creative thinking,” jelasnya.
Cepat dalam Creative Thinking
Dalam kesempatan itu, Herma juga menyampaikan bahwa penting untuk dapat menghasilkan ide dalam waktu yang cepat. Oleh karena itu, seorang konten kreator harus memiliki banyak catatan fenomena. ”Kita perlu untuk menulis fenomena dan ide secara jelas, dengan begitu kita akan dapat melakukan analisis secara mendalam sehingga dapat cepat dalam membuat konten,” terangnya.
Herma juga menyampaikan bahwa dalam membuat konten perlu adanya flexibilitas dan penyesuaian dengan branding pada akun masing-masing. Sekalipun mengikuti konten yang sedang viral, tetap perlu ada penyesuaian dengan branding agar tetap dapat menghasilkan konten yang berkualitas. ”Ketika konten yang dianggap alay dibuat dengan baik maka orang yang melihat akan menilai bahwa konten tersebut berkualitas dan tidak sekedar alay,” jelasnya.
Penulis : Ahmad Hanif Musthafa
Editor : Edwin Fatahuddin





