Universitas Airlangga Official Website

Perbandingan Akurasi Metode Cervical Vertebrae Maturation Stage dan Metode Demirjian

Foto by Alodokter

Maloklusi adalah salah satu masalah gigi yang paling umum, dengan prevalensi yang tinggi sekitar 20% – 100% di antara populasi. Maloklusi yang paling umum diteumukan di klinik kedokteran gigi anak terdiri dari overbite yang dalam, overjet yang berlebihan, deviasi midline, crossbite anterior, crowding, dan open bite. Memahami pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial pasien sangat penting dalam diagnosis, seperti juga perencanaan dan keberhasilan perawatan selanjutnya. Maloklusi perlu ditangani secara dini untuk mengoptimalkan hasil yang dicapai dari perawatan tersebut. Salah satu jenis maloklusi yang paling umum diamati di klinik adalah crowding. Tulang kraniofasial yang relevan dengan perawatan crowding adalah mandibula, yang didefinisikan sebagai panjang mandibula dari area kondilion hingga gnathion. Saat merencanakan perawatan, perlu mengetahui usia pasien yang dapat ditentukan dengan menggunakan usia kronologis dan usia biologis.

Usia kronologis hanya memberikan informasi umum tentang perkembangan pasien, sedangkan usia biologis lebih penting untuk perencanaan perawatan. Untuk mengevaluasi usia biologis, tingkat perkembangan gigi dan tulang harus dinilai. Beberapa dokter mungkin mengalami kesulitan dalam menentukan usia biologis pasien, terutama ketika alat diagnostik pendukung tidak tersedia. Faktor-faktor biologis terdiri dari peningkatan tinggi badan, penambahan berat badan, Cervical Vertebrae Maturation (CVM), dan perkembangan gigi harus diperhitungkan. Biasanya indikator usia biologis dapat diamati dengan penilaian maturasi tulang menggunakan metode Cervical Vertebrae Maturation (CVM) dan analisis maturasi gigi dengan metode Demirjian.

Selama pertumbuhan dan perkembangan, tulang mengalami perubahan yang dapat dideteksi secara radiografis menggunakan penilaian CVM. Tahapan CVM ditentukan berdasarkan morfologi tubuh dari tulang Cervical 2, Cervical 3, dan Cervical 4 yang divisualisasikan dalam sefalografi lateral dua dimensi yaitu analisis perkembangan cekungan pada tepi inferior Cervical 2, Cervical 3, dan Cervical 4 serta perubahan bentuk dan ukuran tubuh Cervical 3 dan Cervical 4. Tubuh vertebra ini berubah bentuk dalam urutan yang khas, berkembang dari trapesium ke horizontal persegi panjang, lalu ke persegi, kemudian ke vertikal persegi panjang.

Indikator faktor biologis juga dapat dilihat dari maturitas gigi dari anak-anak yang sedang tumbuh. Metode demirjian adalah metode perkiraan usia gigi yang paling diterima. Penilaian maturasi gigi berdasarkan tahapan klasifikasi dari masing-masing gigi. Penilaian ini terbagi dalam 8 tahapan pada perkembangan gigi insisif permanen, gigi kaninus permanen, gigi premolar satu dan dua permanen, serta molar satu dan dua permanen rahang bawah sebelah kiri.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan vertebra serviks terkait erat dengan maturasi dan pertumbuhan mandibula. Secara khusus, puncak pertumbuhan mandibula telah dilaporkan terjadi secara bersamaan pada Cervical Vertebarae Maturation tahap ke 3 dan 4. Mengenai maturasi gigi, metode Demirjian disajikan sebagai alternatif penilaian maturasi tulang. Meskipun beberapa penelitian telah melaporkan bahwa maturasi gigi dapat digunakan sebagai indikator perkembangan, namun maturasi gigi memiliki hubungan yang relatif dengan terjadinya puncak pertumbuhan mandibula. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis akurasi metode CVM dan metode Demirjian ketika diterapkan pada pertumbuhan panjang mandibula. Namun, penelitian terbatas tersedia mengenai keakuratan metode ini sebagai alat diagnostik.

Penelitian yang bersifat analitik observasional dengan menggunakan rancangan desain cross sectional study ini memiliki sampel sebanyak 50 foto sefalometri lateral dan panoramik dari pasien anak-anak berusia 8 sampai 16 tahun yang melakukan perawatan di Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut Pendidikan FKG UNAIR dengan teknik total sampling. Pengambilan data dilakukan dengan memilih foto sefalometri lateral dan panoramik yang terlihat jelas, dan menganalisis setiap foto untuk maturasi tulang vertebra serviks melalui CVM, untuk maturasi gigi menggunakan metode Demirjian, dan dengan mengukur panjang mandibula dari titik kondilion ke titik gnathion. Setiap kelompok ditentukan nilai rata-rata maturasi tulang vertebra servikal, maturasi gigi, dan panjang mandibula. Uji perbedaan Wilcoxon dilakukan untuk mengetahui metode mana yang lebih akurat antara metode CVM dan metode Demirjian untuk menentukan panjang mandibula. Hasil dari uji statistik Wilcoxon menyatakan bahwa metode CVM dan metode Demirjian memberikan hasil yang sama akuratnya untuk menentukan pertumbuhan panjang mandibula.

Penulis: Prof. Seno Pradopo, drg., SU., Ph.D., Sp.KGA(K) Link Jurnal : https://e-journal.unair.ac.id/MKG/article/view/31338