Menggigil didefinisikan sebagai aktivitas otot yang tidak disengaja dan berosilasi untuk meningkatkan suhu inti tubuh. Menggigil pasca anestesi adalah komplikasi umum yang mungkin terjadi selama dan setelah anestesi regional atau anestesi umum. Insiden menggigil pada pasien pasca anestesi umum adalah sekitar 40-60%, sedangkan anestesi regional persentasenya hingga 60%. Pada saat menggigil, konsumsi oksigen, produksi karbon dioksida dan laju metabolisme dapat meningkat. Menggigil juga dapat mengganggu pemantauan, meningkatkan tekanan intraokular dan intrakranial, menimbulkan ketegangan pada luka bedah dan dapat membahayakan pasien selama persalinan dan melahirkan.
Pada persalinan sesar dengan anestesi spinal, penyebab utama hipotermia perioperatif adalah karena redistribusi cairan intravaskular dari inti ke kompartemen perifer di bawah blok, sehingga menyebabkan tubuh kehilangan panas secara radiasi. Anestesi spinal juga sedikit menurunkan ambang untuk memicu vasokonstriksi di atas level blok. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah Indeks Perfusi pra operasi berkorelasi dengan kejadian dan derajat menggigil pasca anestesi, dan apakah Indeks Perfusi pra operasi dapat menjadi prediktor kejadian menggigil pasca anestesi. Peneliti berhipotesis bahwa Indeks Perfusi pra operasi dapat memprediksi menggigil pasca anestesi pada pasien yang menjalani operasi caesar di bawah anestesi spinal, karena Indeks Perfusi dan menggigil keduanya berkorelasi dengan tonus pembuluh darah perifer.
Penelitian ini menggunakan desain studi observasional prospektif dan telah disetujui oleh Komite Etik Kelembagaan (Rumah Sakit Universitas Airlangga, Indonesia) dengan nomor persetujuan 191/KEH/2019. Informed consent tertulis diperoleh dari setiap peserta dalam penelitian. Sebanyak 40 peserta menjalani operasi caesar dengan anestesi spinal yang memenuhi kriteria inklusi sampel penelitian.
Dalam penelitian ini, peneliti berhipotesis bahwa hubungan antara perfusi perifer dan menggigil pasca anestesi selama persalinan sesar dengan anestesi spinal dapat dinilai dengan menggunakan nilai Indeks Perfusi yang diturunkan dari oksimeter. Untuk mengatasi hipotesis peneliti, peneliti memeriksa apakah nilai Indeks Perfusi pra operasi berkorelasi dengan kejadian dan derajat menggigil pasca anestesi pada persalinan sesar dengan anestesi spinal dan apakah nilai Indeks Perfusi pra operasi dapat memprediksi pasien yang berisiko menggigil pasca anestesi.
Dari total 40 peserta yang berpartisipasi dalam penelitian ini, 23 peserta (57,5%) menggigil pasca anestesi (tingkat 2-4). Semua peserta menunjukkan menggigil pasca anestesi menerima dosis 50mg petidin intravena. Empat belas peserta (63,6%) yang menggigil pasca anestesi menerima efedrin intravena karena terjadinya hipotensi.
Nilai Indeks Perfusi pra operasi rata-rata secara signifikan lebih rendah pada peserta yang menggigil pasca anestesi dibandingkan dengan peserta yang tidak menggigil (menggigil 2,8, tidak menggigil 5,2; p¼0,005). Ada juga perbedaan yang signifikan dari nilai median Indeks Perfusi pra operasi pada derajat menggigil yang berbeda (p¼ 0,014). Selain itu, indeks perfusi secara signifikan berkorelasi dengan kejadian (p¼0,004) dan derajat menggigil pasca anestesi (p¼0,003).
Analisis ROC mengungkapkan bahwa Indeks Perfusi pra operasi cocok untuk mendeteksi pasien yang berisiko menggigil pasca anestesi (AUC¼ 0,762, p¼0,005). Titik batas Indeks Perfusi dasar untuk memprediksi menggigil pasca anestesi menunjukkan hasil bahwa 4,2 dengan sensitivitas 73,9% (95% CI), spesifisitas 88,2% (95% CI), nilai prediksi positif 89,5 % dan nilai prediksi negatif sebesar 71,4% (p<0,001).
Insiden dan derajat menggigil pasca anestesi dianalisis menurut titik batas Indeks Perfusi dasar 4,2 yang ditentukan oleh analisis ROC di atas. Sembilan belas peserta (47,5%) memiliki Indeks Perfusi awal yang rendah (Indeks Perfusi <4,2) dan menggigil pasca anestesi diamati pada 17 dari peserta tersebut (89,5%), sedangkan 21 peserta (52,5%) memiliki Indeks Perfusi awal yang tinggi (Indeks Perfusi – 4,2) dan pasca anestesi pasien yang menggigil sejumlah enam peserta (28,6%). Insiden menggigil pasca anestesi pada kelompok I (Indeks Perfusi <4,2) lebih tinggi dibandingkan kelompok II (Indeks Perfusi – 4,2). Ini secara statistik sangat signifikan (p<0,001, rasio risiko¼ 3,13). Pada kelompok I, 2 peserta mengalami menggigil derajat 0, 2 peserta menggigil derajat 2, 13 peserta menggigil derajat 3 dan 2 peserta menggigil derajat 4. Pada kelompok II sebanyak 15 orang mengalami menggigil derajat 0, dua orang mengalami menggigil derajat 2, tiga orang mengalami menggigil derajat 3, dan satu orang mengalami menggigil derajat 4. Hasil ini juga signifikan secara statistik (p<0,001).
Kesimpulannya, penelitian ini menunjukkan bahwa Indeks Perfusi pra operasi yang diukur dengan oksimetri nadi berhubungan dengan kejadian dan derajat menggigil pasca anestesi pada persalinan sesar dengan anestesi spinal, dan titik batas Indeks Perfusi pra operasi sebesar 4,2 dapat digunakan untuk mengidentifikasi pasien yang berisiko untuk menggigil pasca anestesi. Indeks Perfusi dapat menjadi alat yang berguna untuk memprediksi kejadian menggigil pasca anestesi selama anestesi spinal untuk pasien yang menjalani persalinan sesar dalam praktek sehari-hari.
Penulis: Dr. Arie Utariani, dr., SpAn., KAP
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/1750458920979263
Nasution MP, Fitriati M, Veterini AS, Kriswidyatomo P, Utariani A. Preoperative perfusion index as a predictor of post-anaesthetic shivering in caesarean section with spinal anaesthesia. J Perioper Pract. 2021;(6):175045892097926.





