Masa PSBB dan PPKM di tahun pandemi COVID-19 memaksa Sebagian besar orang Indonesia untuk berdiam diri di rumah masing-masing dan melakukan pekerjaannya. Namun, manusia tetap perlu bersosialisasi dengan orang lain. Hal ini yang mempengaruhi perubahan perilaku sosial manusia untuk berinteraksi melalui media sosial.
Sifat media sosial yang super cepat dan aktual seringkali memaksa orang (secara sadar maupun tidak) untuk selalu mengecek kondisi notifikasi smartphone, agar selalu up to date dengan berita dan situasi yang sedang terjadi di timeline. Hal ini disebut juga Fear of Missing Out atau FOMO, yang diketahui marak dimiliki oleh sebagian besar pengguna sosial media (Tandon et al., 2021).
Fenomena Fear of Missing Out ini diketahui menjadi dasar dari viral marketing, dimana orang akan berbondong-bondong untuk mengikuti suatu tren (barang hingga makanan) ketika mereka merasa bahwa hal tersebut sudah dilakukan banyak orang yang mereka anggap penting (influential people dan key opinion leaders), meskipun pada akhirnya tren tersebut merupakan sesuatu yang nirfaedah dan bahkan berbahaya. Sebagai contoh, tren menyetop truk, tren makanan ringan dengan nitrogen cair, dan tren es permen karet penuh gula.
Sejalan dengan maraknya media sosial, aplikasi telemedisin asli Indonesia juga sedang naik daun. Aplikasi tersebut mempermudah penyaluran layanan Kesehatan oleh professional ke masyarakat. Namun, kebanyakan dari aplikasi tersebut memiliki fitur yang sama persis dengan aplikasi sejenis, yang membedakan hanyalah tampilan User Interface (UI)-nya saja. Selain itu, pertumbuhan angka unduhan aplikasi telemedisin tiba-tiba meningkat pesat di masa pandemi dan pembatasan sosial.
Pada 5 Juli 2021, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menetapkan untuk bekerjasama dengan beberapa penyedia jasa telemedisin untuk mendukung penanganan pandemi. Lalu, apa yang spesial dari aplikasi Telemedisin tersebut? Apakah semua karena ikut-ikutan?
Sesuai teori adopsi teknologi oleh Davis (1989), keputusan seseorang untuk menggunakan aplikasi dalam kesehariannya dipengaruhi oleh persepsi orang tersebut terhadap kegunaan (usefulness) dan kemudahan (ease of use). Selain kedua faktor tersebut, banyak sekali penelitian yang menemukan faktor-faktor lain.
Fear of Missing Out, atau ketakutan untuk ketinggalan merupakan fenomena yang nyata terjadi. Dengan maraknya penggunaan aplikasi telemedisin di media sosial, serta gencarnya utilisasi Key Opinion Leader (KOL) oleh divisi marketing dari setiap pengelola aplikasi tersebut, ada kemungkinan bahwa Fear of Missing Out dalam penggunaan aplikasi telemedisin ikut tersebar. Artikel ini meneliti tentang efek dari Fear of Missing Out dalam keputusan calon pengguna dalam mengadopsi aplikasi telemedisin.
Ditemukan bahwa ternyata, FOMO tidak memiliki pengaruh langsung terhadap keputusan pengguna. Namun, FOMO dapat mempengaruhi persepsi calon pengguna terhadap kegunaan dari aplikasi tersebut. Dengan kata lain, jika pada awalnya calon pengguna tidak merasa butuh aplikasi tersebut, mereka bisa ikut-ikutan menggunakan aplikasi karena merasa kegunaannya menguntungkan setelah melihat orang lain juga menggunakan aplikasi yang sama.
Temuan ini merupakan hal yang cukup penting dalam bangkitnya media sosial sebagai Jarum Hipodermik dalam kajian new media. Pengaruh Key Opinion Leaders dalam merubah persepsi pengguna, serta teknik viral marketing yang masif, bisa jadi merupakan kekuatan baru yang tidak bisa diabaikan.
Di lain sisi, penyedia dan pengelola aplikasi juga harus memperhitungkan kekuatan media sosial sebagai sarana promosi, karena dengan banyaknya aplikasi serupa, pembentukan persepsi kegunaan aplikasi terhadap calon pengguna bisa menjadi penentu kesuksesan aplikasi tersebut.
Penulis: Muhammad Noor Fakhruzzaman, Ghea Sekar Palupi, Thinni Nurul Rochmah.
Artikel: Fear of missing out during a pandemic: the driving factors of telemedicine application acceptance





