Informasi terkait kerangka ikan, khususnya, tempurung kepala ikan masih sangat terbatas. Hal inilah yang mendasari penelitian diskriptif tempurung kepala ikan, dan pada penelitian awal ini digunakan ikan lele Afrika (Clarias gariepinus Burchell 1822) yang dibudidaya di Aceh sebagai sampel. Analisis dilakukan pada setiap bagian dari rana digital tempurung ikan. Rana digital diambil menggunakan kamera Canon EOS 700D dan dianalisis dengan perangkat lunak Adobe Photoshop CS6.
Hasil penelitian memperlihatkan tempurung kepala ikan lele Afrika (Clarias gariepinus Burchell 1822) identik dengan beberapa spesies ikan seperti Platyclarias machadoi (Clariidae), Tor tambroides (Cyprinidae), dan Kryptoglanis shajii (Kryptoglanidae). Tempurung kepala ikan lele terbagi menjadi dua area yaitu neurocranium dan splanchnocranium. Neurocranium adalah tulang-tulang pada tempurung kepala yang berfungsi sebagai pelindung organ otak dan organ-organ sensoris, sedangkan splanchnocranium adalah tulang-tulang terkait dengan fungsi pencernaan dan pernafasan.
Neurocranium lele tersusun oleh tulang-tulang yang kuat, tebal dan tampak tonjolan-tonjolan menyerupai duri pada sisi atas tengkorak. Bentuk neurocranium lele Afrika mirip dengan ikan dari keluarga Pimelodidae, seperti Phractocephalus hemioliopterus. Namun, berbeda dengan keluarga Cyprinidae, keluarga Nemacheilidae, dan keluarga Cichlidae karena neurocranium ikan dari keluarga ini cenderung memiliki tulang dengan struktur yang lunak, tipis dengan permukaan halus. Variasi morfologik neurocranium lele Afrika dibandingkan dengan keluarga lain mungkin terkait erat dengan berbagai karakteristik habitat ikan. Pérez dan Fabré mengungkapkan bahwa perbedaan morfologis antara neurokranium dan otolith ikan muncul sebagai respons adaptif (evolusioner) terhadap berbagai kondisi lingkungan (tekanan selektif) yang dihadapi. Ikan lele menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menghuni lapisan bawah perairan. Kepala ikan lele cenderung menerima tekanan air yang kuat dalam waktu yang lama. Dengan demikian, ikan lele membutuhkan struktur neurocranium yang kokoh dan tebal disertai dengan benjolan kecil pada bagian atasnya untuk mengurangi tekanan air dan lumpur. Lele Afrika diketahui memiliki kondisi lingkungan dengan tingkat kekeruhan yang tinggi, dan aktif mencari makan di malam hari (nokturnal). Hal ini menyebabkan sistem penglihatan lele Afrika kurang berkembang dibandingkan sistem sensorik lainnya. Schmitz & Wainwright menyatakan bahwa ikan yang mencari makan dengan tidak bergantung pada organ penglihatan umumnya memiliki tulang yang kurang berkembang di daerah orbital.
Splanchnocranium lele tersusun atas tulang-tulang yang berhubungan dengan perilaku makan dan sistem pernapasan. Ada tiga wilayah splanchnocranium yang berhubungan langsung dengan perilaku makan, yaitu daerah rahang atas, rahang bawah, dan lengkung mandibula. Ikan lele dikelompokkan sebagai ikan karnivora, sehingga struktur rahang yang kuat dengan bukaan mulut yang besar sangat diperlukan. Selama proses pembukaan mulut, ketiga wilayah pada splanchnocranium membentuk garis lurus dan berdampak pada pembesaran rongga mulut. Dengan demikian, proses menghisap makanan bisa berlangsung optimal. Lele Afrika memiliki organ pernapasan yang berbeda yang disebut organ arborescent. Organ ini berasal dari modifikasi lengkung insang kedua hingga keempat. Kehadiran organ arborescent menyebabkan daerah arcus hyoideus lele Afrika dan alat operkular menjadi tidak berkembang dibandingkan dengan ikan lain.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan di





