Universitas Airlangga Official Website

Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Perilaku Pemeriksaan Payudara Sendiri

Foto by Alodoker

Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) secara teratur yang dikombinasikan dengan kesadaran payudara merupakan salah satu strategi untuk mencapai deteksi dini kanker payudara. American Cancer Society (ACS) menyoroti pentingnya kesadaran payudara; yaitu, wanita harus mengetahui kondisi normal payudaranya sendiri dan segera melaporkan ke layanan kesehatan jika terjadi perubahan (ACS, 2017). Bukti dari negara-negara berkembang menunjukkan bahwa melakukan SADARI secara teratur terkait secara positif dengan identifikasi kanker payudara pada tahap awal (Yip, et al., 2018), yang dengan demikian meningkatkan prognosis penyakit menjadi lebih baik  (Hackshaw & Paul, 2003; Corbex, et al., 2012; Albeshan, et al., 2020). Dengan demikian, praktik SADARI yang diikuti dengan pemeriksaan profesional medis yang cepat dalam kasus kelainan yang terdeteksi dapat berfungsi sebagai metode skrining yang layak untuk mendeteksi kanker payudara pada tahap awal, yang memungkinkan perbaikan prognosis.

Pemahaman menyeluruh tentang faktor-faktor yang menjadi penentu niat untuk melakukan perilaku SADARI diperlukan untuk mengidentifikasi target yang relevan pada intervensi untuk mempromosikan presentasi awal kanker payudara. Kami melakukan studi cross-sectional pada 268 responden di Surabaya (data dikumpulkan antara April dan Mei 2020) untuk menilai determinan niat untuk melakukan SADARI. Sampel akhir terdiri dari 204 wanita yang tinggal di Surabaya berusia 18 sampai dengan 61 tahun. Sebagian besar responden dalam penelitian kami bekerja (56,3%), telah menyelesaikan pendidikan diploma atau sarjana (66,2%), dan memiliki pendapatan bulanan keluarga yang setara dengan UMR Kota Surabaya atau lebih tinggi (69,6%). Selain itu, mereka tidak memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara (74%), dan memiliki jaminan/asuransi kesehatan (72,5%).

Penelitian kami menemukan bahwa 35.8% responden belum pernah sama sekali melakukan SADARI dan 53.4% responden pernah melakukan SADARI namun tidak rutin. Dengan demikian, hanya terdapat 7.8% responden yang melakukan SADARI rutin setiap bulan dan 2.9% responden yang melakukan SADARI rutin seminggu sekali.

Kami menggunakan variabel-variabel dari Reasoned Action Approach (RAA; Fishbein & Ajzen, 2010) dan Health Belief Model (HBM; Rosenstock, 1966), serta hasil penelitian terdahulu (Dewi, et al., 2019; Dewi et al., 2020) sebagai landasan konseptual determinan psikososial yang mempengaruhi perilaku SADARI. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan, kami menemukan bahwa pengetahuan mengenai kanker payudara dan SADARI, sikap terhadap SADARI, norma subjektif, persepsi hambatan, dan persepsi manfaat merupakan variabel-variabel psikososial yang berpengaruh terhadap perilaku SADARI.

  • Pengetahuan

Semakin tinggi pengetahuan responden terkait dengan kanker payudara (definisi, faktor resiko, gejala, dan modalitas skrining) maupun perilaku SADARI (manfaat dan prosedur) maka kecenderungannya melakukan perilaku SADARI akan semakin tinggi. Hal ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan di Iran (Didarloo, et al., 2017) yang menunjukkan bahwa pengetahuan tentang kanker payudara yang adekuat meningkatkan perilaku SADARI secara signifikan. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa pengetahuan mengenai kanker payudara merupakan prediktor unik dari niat melakukan SADARI; selain itu mengindikasikan bahwa rendahnya tingkat perilaku SADARI pada responden penelitian ini, mengindikasikan bahwa rendahnya performa perilaku SADARI pada kelompok sampel disebabkan karena rendahnya pengetahuan kanker payudara.

  • Sikap

Sebagaimana dijelaskan oleh Bartholomew Eldredge et al. (2016), pengetahuan tidak secara langsung mengarah pada perubahan perilaku; pemahaman perempuan tentang kanker payudara saja tidak cukup untuk memunculkan perilaku SADARI. Lebih spesifik, Ajzen dkk. (2018) mengarahkan bahwa sikap yang lebih positif terhadap perilaku kesehatan memainkan peran utama dalam memfasilitasi perilaku tersebut. Sejalan dengan saran ini, penelitian saat ini menemukan bahwa wanita dengan sikap positif terhadap SADARI memiliki kemungkinan 2,08 kali lebih besar untuk melakukan perilaku tersebut dibandingkan wanita dengan sikap negatif. Temuan ini mendukung penelitian sebelumnya di antara wanita India-Australia, yang melaporkan bahwa responden dengan sikap positif terhadap pemeriksaan umum secara teratur melakukan skrining payudara seperti yang direkomendasikan (Kwok, et al., 2015). Sebaliknya, wanita dengan persepsi negatif tentang SADARI merasa malu untuk melakukannya atau mengalami kesulitan dalam melakukan SADARI cenderung tidak melakukan SADARI. Hasil ini sejalan dengan Al-Dubai et al., (Al-Dubai, et al., 2012), yang mengemukakan bahwa sikap negatif terhadap SADARI akan menghambat perilaku SADARI.

  • Norma subjektif

Sistem dukungan keluarga yang kuat menjadi ciri penduduk Indonesia. Dengan demikian, anggapan bahwa perilaku skrining kanker payudara wanita akan dipengaruhi oleh dukungan yang mereka (persepsikan) terima dari lingkaran sosial terdekat mereka tidaklah mengejutkan. Senada dengan hasil penelitian ini, Cho dan Lee (2015) menemukan bahwa, secara umum, individu dari budaya kolektivistik (seperti karakteristik masyarakat Indonesia) memiliki skor yang lebih tinggi pada norma subjektif dibandingkan dengan budaya individualistik. Oleh karena itu, penelitian ini menyarankan bahwa pengembang program atau intervensi harus fokus pada peran norma subjektif dalam transmisi informasi tentang keuntungan melakukan SADARI.

  • Persepsi hambatan

Penelitian ini juga mengindikasikan bahwa persepsi hambatan juga berpengaruh terhadap perilaku SADARI. Responden yang memiliki prioritas lain ketika tiba waktunya untuk melakukan SADARI maka cenderung tidak melakukan perilaku SADARI, dan sebaliknya ketika responden berpikir bahwa ia memiliki waktu luang ataupun tidak menemukan hambatan dalam melakukan SADARI makai a akan melakukannya ketika tiba waktu untuk melakukan SADARI. Hasil ini memberikan insight bahwa pengembang perlu merumuskan strategi untuk mengatasi hambatan kinerja SADARI pada program edukasi tentang kesadaran kanker payudara, misalnya, melibatkan teman dekat atau keluarga perempuan dalam kegiatan pendidikan kesehatan.

  • Persepsi manfaat

Demikian pula, penelitian sebelumnya melaporkan bukti bahwa jika wanita menganggap SADARI sangat bermanfaat, mereka akan lebih cenderung membentuk niat positif dan/atau melakukan; Sebaliknya, niat dan/atau perilaku SADARI akan lebih kecil kemungkinannya terjadi ketika perempuan merasakan hambatan tertentu dalam kinerja SADARI SADARI (Dewi, et al., 2019; Didarloo, et al., 2017).

Temuan lain yang menarik dalam penelitian ini adalah niat untuk melakukan SADARI secara teratur di kalangan responden relatif tinggi. Namun kenyataannya, hanya 7,8% dan 2,9% responden yang menyatakan bahwa mereka melakukan SADARI secara teratur (masing-masing bulanan dan mingguan). Selain itu, meskipun niat berkorelasi positif dengan perilaku SADARI, ukuran niat gagal menjelaskan varian unik dalam perilaku SADARI. Temuan ini mendukung hipotesis kesenjangan niat-perilaku, yaitu, peserta dengan niat positif gagal melakukan perilaku (Sheeran, 2002). Selain itu, data saat ini menunjukkan bahwa 32,2% varians niat untuk melakukan SADARI diprediksi oleh sikap positif terhadap SADARI dan persepsi control perilaku yang tinggi. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa wanita yang menganggap SADARI sebagai proses penting dan mampu melakukannya lebih mungkin melaporkan peningkatan niat untuk melakukan hal tersebut. Temuan ini sejalan dengan temuan Wang et al. (2019), yang melakukan penelitian di Cina, dan menyimpulkan bahwa sikap perilaku adalah salah satu korelasi unik dari niat untuk melakukan skrining kanker payudara. Selain itu, temuan saat ini bahwa wanita yang merasa percaya diri dengan otonomi dan kapasitasnya untuk melakukan SADARI menunjukkan tingkat niat yang tinggi untuk melakukan hal tersebut sejalan dengan temuan Roncancio et al. (2015) di Latinas. Para penulis mendokumentasikan bahwa PBC adalah prediktor kuat dari niat untuk diskrining untuk kanker serviks.

Penulis: Triana Kesuma Dewi

Link Artikel ilmiah:

https://bmcwomenshealth.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12905-022-01748-4).