Keanekaragaman morfologi menjadi ciri kelompok bahkan individu. Morfologi ditentukan oleh anatomi tubuh terutama tulang sebagai komponen pembentuk rangka tubuh. Struktur tulang yang tahan lama dan keras menjadikan tulang sebagai objek penelitian untuk mengidentifikasi individu, khususnya bidang arkeologi. Dalam studi dimorfisme seksual, tulang masih menjadi fokus utama meskipun perkembangan penggunaan jaringan lunak. Tulang panggul menjadi objek utama penelitian dimorfisme seksual. Hal ini karena anatomi fungsi reproduksi mempengaruhi tulang panggul. Keterkaitan antara fungsi tulang panggul dan tulang paha, menjadikan tulang paha sebagai pilihan selanjutnya untuk penelitian dimorfisme seksual. Pada manusia, morfisme seksual juga dapat diidentifikasi melalui tulang anggota gerak atas. Identifikasi jenis kelamin yang menggunakan tulang seperti panggul, femur dan anggota gerak atas disebut identifikasi dimorfisme seksual dengan objek tulang – tulang post kranial. Cara kedua adalah dengan mengidentifikasi melalui anatomi tengkorak. Pertimbangan kranium sebagai objek penelitian karena selain morfologi kranium yang dikendalikan oleh gen lebih homogen daripada tulang pasca tulang tengkorak. Penelitian dengan menggunakan anjing atau domba membuktikan adanya perbedaan ukuran tempurung kepala pada jenis kelamin yang berbeda.
Dalam ruang yang lebih sempit aperture orbitaria adalah salah satu variabel yang tertarik dalam penelitian dimorfisme seksual. Bukaan orbita disusun oleh tiga tulang yaitu os frontale atas kemudian berputar berlawanan arah jarum jam, masing-masing os lacrimale dan os zygomaticus. Pada kambing, os frontale bertemu dengan os zygomaticus melalui prosesus yang membentuk dinding lubang ekor orbitaria. Penelitian aperture orbital umumnya menggunakan pendekatan yang lebih kuantitatif. Penerjemahan bentuk ke dalam angka memudahkan pemahaman anatomi suatu objek dengan ketentuan bahwa variabel yang bersangkutan memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Tidak semua bentuk anatomi dapat dicapai dengan metode kuantitatif seperti orbital aperture. Secara umum, bukaan orbit berbentuk lingkaran. Pendekatan kuantitatif yang selama ini dilakukan adalah dengan mengukur diameter. Ukuran mungkin memiliki bagian yang terpisah dari klaim sehingga mendapatkan hasil yang bias, terutama penelitian yang membandingkan. Harapan besar menggabungkan analisis kualitatif ke dalam analisis kuantitatif akan mendapatkan informasi yang lebih jelas.
Penelitian ini untuk mengetahui perbedaan anatomi bukaan orbita pada kedua jenis kelamin melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif pada kambing kacang. Menurut data statistik hingga tahun 2021 menunjukkan bahwa kambing memiliki populasi terbesar dibandingkan ternak lain kecuali unggas (Aplikasi Dataku 2021). Kambing kacang memiliki populasi terbesar di antara jenis kambing lainnya. Kambing kacang ditandai dengan bulu pendek satu warna (putih, hitam atau coklat), kuping pendek menggantung, bertanduk, dan berjenggot pada jantan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis orbital aperture kambing kacang jenis kelamin yang berbeda, Aperture orbitara adalah salah satu objek dimorfisme seksual. Materi penelitian berupa 20 buah tempurung kepala kambing yang terdiri dari 10 ekor kambing betina dan 10 ekor kambing jantan. Pengukuran dilakukan pada lebar dasar proccessus zygomaticus ossis frontalis (LPPZF), lebar dasar proccessus frontalis os zygomaticus (LPPFZ), panjang pada bukaan sisi caudal (PDA) dan diameter horizontal bukaan (DOA) serta panjang tengkorak. (PC). Pengukuran PC dimaksudkan sebagai pembobotan. Analisis data dilakukan dengan dua cara, yaitu kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan untuk menganalisis korelasi antar variabel dan kemungkinan perbedaan variabel pada jenis kelamin yang berbeda. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa tiga dari empat variabel yang diukur berkorelasi positif dengan PC (P<0,05). Variabel LPPZF dan DOA berbeda antar jenis kelamin, baik sebelum maupun setelah pembobotan (P<0,05), tetapi tidak pada LPPFZ dan PDA (P>0,05). Penggunaan PCs oleh DOA sebagai pemberat menyebabkan PDA berbeda antar jenis kelamin (P<0,05), tetapi tidak pada LPPFZ (P>0,05). Kesimpulannya adalah penggabungan analisis kuantitatif dan kualitatif menambah informasi mengenai perbedaan anatomi bukaan orbita kambing kacang pada jenis kelamin yang berbeda.
Penulis: Epy Muhammad Luqman
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan di
Nama jurnal: Journal of Veterinary Anatomy (JVA)
Link jurnal: https://jva.journals.ekb.eg/article_262347_f3fddac1491e4326f83238ac44f44909.pdf





