Universitas Airlangga Official Website

Hubungan Konformitas Teman Sebaya dengan Perilaku Seksual pada Remaja Indonesia

Masa remaja merupakan masa transisi dari anak ke dewasa dan mengalami perkembangan fisik, psikis dan sosial. Perkembangan fisik seperti pertambahan tinggi badan, berat badan dan kematangan seksual. Perkembangan psikologis seperti berpikir abstrak, dan perubahan sosial seperti cenderung bergabung dalam kelompok. Perkembangan sosial pada remaja berisiko mengubah perilaku, sikap, ucapan, dan minatnya. Itu disebut konformitas. Teman sebaya yang buruk atau negatif memiliki risiko negatif terhadap proses tumbuh kembang dari anak-anak hingga remaja.

Sebuah survei di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar remaja berusia 15-17 tahun sedang menjalin hubungan dan berpacaran. Mereka melakukan aktivitas seperti berpegangan tangan (64% wanita dan 75% pria), berpelukan (17% wanita dan 33% pria), mencium bibir (30% wanita dan 50% pria), dan menyentuh (5% wanita dan 22% pria). dari pria). Motivasi dari kegiatan ini adalah konformitas teman sebaya.

Konformitas teman sebaya yang negatif memiliki banyak risiko bagi perkembangan remaja. Seperti perilaku seksual pranikah dan perilaku seksual berisiko. Kegiatan ini juga berisiko menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, penyakit menular seksual. Remaja pada awalnya akan bertukar pikiran dengan teman sebayanya. Mereka merasa nyaman setelah bercerita dan berbagi kepada teman-temannya. Hal ini dapat memicu remaja untuk memiliki teman dekat. Selanjutnya remaja berlomba-lomba untuk mendapatkan pacar. Jadi, mereka mulai berkencan dan berusaha menyesuaikan hidup mereka berdasarkan pandangan dan penerimaan teman sebaya.

Pengaruh teman sebaya, pendidikan dari sekolah, dan peran orang tua dapat melindungi remaja dari perilaku negatif. Pengaruh teman sebaya diharapkan dapat meningkatkan persahabatan yang positif. Sedangkan konformitas teman sebaya yang negatif berdampak buruk pada remaja, seperti sikap dan perilaku yang buruk. Sekolah harus mendidik tentang kesehatan reproduksi dan juga memberikan kegiatan positif. Peran orang tua juga diharapkan dapat menjadi pelindung bagi remaja agar tidak melakukan hal-hal negatif dengan membina hubungan yang baik antara orang tua dan anak.

Penulis: Dr. Esti Yunitasari, S.Kp., M.Kes

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/relationship-between-peer-conformity-and-sexual-behavior-among-ad