Universitas Airlangga Official Website

Profil Bakteri dan Antibiogram Pasien Infeksi Saluran Kemih Usia di Atas 18 Tahun

Ilustrasi oleh Pinterest

Penelitian pada pasien infeksi saluran kemih (ISK) dilaksanakan pada periode Juni-Juli 2019 di Surabaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil bakteri penyebab ISK dan pola sensitivitas bakteri terhadap antibiotik, khusunya pada pasien usia diatas 18 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional potong lintang dengan metode retrospektif dan menggunakan data sekunder dari rekam medik pasien di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Penyajian data terbaru dari profil bakteri dan sensitivitas antibiotik berguna untuk pedoman terapi empiris.

Pasien wanita berkisar 54.4% dari 215 pasien yang masuk dalam kriteria inklusi. Infeksi saluran kemih terbanyak dialami usia ≥59 tahun. Hipertrofi prostat pada pria menjadi salah satu faktor risiko terjadinya ISK. BPH biasanya berkembang setelah usia 40 tahun. Sebagian besar bakteri penyebab ISK di RSUD Dr. Soetomo adalah bakteri gram negatif (83,7%) dan sisanya (16.3%) merupakan bakteri gram positif. Pada kasus ISK uncomplicated, 80% kasus yang diisolasi disebabkan oleh Escherichia coli. Staphylococcus saprophyticus menempati posisi kedua dengan 10% kasus. Klebsiella, Enterobacter, Proteus, dan Enterococci merupakan uropatogen lain yang ditemukan dalam kasus uncomplicated. ISK complicated sering terjadi pada keadaan obstruktif uropati  atau setelah instrumensasi. Dalam perjalanan penyakitnya, ISK yang complicated memiliki etiologi yang lebih beragam daripada ISK uncomplicated.

Bakteri E. coli penyebab ISK atau dikenal dengan strain UPEC (UroPathogenic E. Coli) memiliki beberapa faktor virulensi yang berkontribusi pada kemampuan untuk menyebabkan ISK, seperti fimbriae, pili, curli, flagella, toksin, dan sistem akuisisi zat besi. E. coli  memiliki molekul adhesin FimH pada ujung fimbriae tipe 1-nya yang akan berinteraksi dengan reseptor inang dan memfasilitasi perlekatan bakteri secara langsung ke permukaan luminal epitel kandung kemih

Penggunaan antibiotika yang kurang tepat terbukti menjadi faktor terbentuknya berbagai macam resistensi terhadap antibiotik. Selain itu, virulensi khusus dari beberapa bakteri seperti dibentuknya biofilm dapat berdampak pada terjadinya resistensi antibiotik. Selama dekade terakhir, fluoroquinolon juga semakin banyak digunakan dan menyebabkan resistensi fluoroquinolone di antara uropatogen. Masalah bertambah dengan munculnya bakteri gram-negatif penghasil beta-laktamase (ESBL) termasuk spesies E. Coli dan Klebsiella. Bakteri-bakteri ini bersifat resisten tidak hanya terhadap semua generasi cephalosporin tetapi juga pada kombinasi fluroquinolon dan penghambat laktamase, seperti tazobactam. Oleh karena itu dalam memilih antibiotik terbaik untuk pengobatan serta profilaksis ISK, tes sensitivitas bakteri yang diisolasi dari kultur urin dapat membantu seorang klinisi untuk menentukan antibiotik yang tepat.

Bakteri E.coli merupakan penyebab utama terjadinya ISK dalam penelitian ini (42.33%), dengan 31.16% (n=67/215) diantara total bakteri merupakan E.coli penghasil ESBL. Dari total isolat K.pneumoniae, 48% diantaranya merupakan bakteri K. pneumoniae penghasil ESBL. Data ini lebih sedikit dari penelitian Sutandhio dan kawan kawan (2015) dengan subjek anak yang mendapatkan 61.65% Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bakteri gram negatif cenderung resistan terhadap antibiotik golongan penicillin (amoxicillin, ampicillin), cephalosporin golongan 1 (cefazolin) dan 2 (cefotetan, cefoxitin). Resistensi Pseudomonas aeruginosa  pada penelitian ini sejalan dengan penelitian Haris tahun 2015 yang menyebutkan tingginya resistansi P. aeruginosa (75%) terhadap cefotaxime dan ceftriaxone. A. baumanii memiliki resistansi yang tinggi terhadap berbagai antibiotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri ini hampir resistan terhadap semua jenis antibiotik yang diujikan. Trimethoprim-sulfamethoxazole dan cefoperazone-sulbactam adalah antibiotik paling sensitif untuk bakteri ini, hal ini sesuai dengan penelitian Kandarini (2020). Antibiotik yang paling umum karena tolerabilitasnya, spektrum aktivitasnya terhadap uropatogen, dan profil farmakokinetiknya yang baik untuk mengobati ISK uncomplicated adalah kombinasi trimethoprim dan sulfamethoxazole, trimethoprim, sefiksim, amoksisillin/klavulanat, fluoroquinolones, nitrofurantoin.

Link artikel: https://doi.org/10.20473/fmi.v58i3.33186

Korespondensi: Manik Retno Wahyunitisari Email: manik-r-w@fk.unair.ac.id