Lupus Eritematosus Sistemik (LES) adalah penyakit autoimun kronis yang disebabkan karena respon tubuh menyimpang terhadap self-antigen sehingga terjadi kerusakan pada berbagai organ dan jaringan Jumlah penderita LES cenderung meningkat, dengan insiden pada perempuan lebih tinggi daripada pria Kejadian LES lebih tinggi pada wanita enam kali dibandingkan pada laki-laki. Di Indonesia diperkirakan terdapat sekitar 1.250.000 orang yang terkena LES (berdasarkan asumsi prevalensi 0,5% dari hasil penelitian terdahulu). Walaupun jumlahnya cukup banyak, baru sebagian kecil orang yang menyadari bahwa dirinya menderita LES. Pada tahun 2016, Perhimpunan LES Indonesia (PESLI) mendapatkan rata-rata insiden kasus baru LES dari 8 rumah sakit di Indonesia sebesar 10,5%. Data dari RSUD dr Soetomo (RSDS) memperlihatkan peningkatan jumlah kasus baru dan kasus rawat inap mulai tahun 2015-2017
LES yang terjadi pada masa anak lebih parah dibandingkan dewasa, keterlibatan ginjal pada LES anak sering terjadi lebih tinggi dibandingkan LES dewasa. Angka harapan hidup 5 tahun pada dunia barat berkisar 94- 100% dan 10 tahun 81-92%. Sedangkan di Asia lebih rendah yaitu 65%, hal ini dikaitkan dengan keterlibatan ginjal. Kerusakan organ pada pasien LES terutama dikaitkan dengan adanya sistem imun yang tidak teratur, endapan kompleks imun pada jaringan sehingga menimbulkan keradangan dan kerusakan organ ginjal. Ginjal merupakan organ yang paling sering terlibat dan rusak parah pada pasien LES Kerusakan ginjal terjadi pada 38-60% pasien LES, dimana adanya kerusakan ginjal ini akan meningkatkan mortalitas dan morbiditas. Harapan hidup pasien LES dengan kerusakan ginjal akan berkurang dan kualitas hidupnya cenderung lebih buruk dibandingkan pasien LES tanpa kerusakan ginjal.
Sementara itu pendekatan terapi kurang optimal dalam menghambat kerusakan ginjal serta menimbulkan efek samping yang signifikan.Terapi lebih bertujuan untuk menimbulkan remisi gejala penyakit, meminimalisasi efek obat, serta memperbaiki kualitas hidup pasien dan bukan untuk menyembuhkan. Obat pada LES cenderung digunakan dalam jangka waktu lama, dan akan menimbulkan efek samping yang besar. Di Indonesia sampai saat ini masih mengutamakan penggunaan kortikosteroid dan imunosupresan sebagai terapi pada LES anak dan dewasa.
Sejak dahulu kala tanaman obat (obat herbal) telah digunakan di seluruh dunia. Bahkan beberapa telah diteliti dan mempunyai efektifitas yang cukup dan sedikit efek samping dibandingkan obat-obat modern. Obat herbal memiliki ribuan komponen dan ada beberapa zat aktif yang mempunyai keunggulan dibanding komponen herbal yang lain. Obat herbal juga telah terbukti dapat mengobati keradangan dan membantu meregulasi respon sistem imun. Beberapa yang telah diteliti adalah Hops, Artemisia, Sarsaparilla, Reishi Mushroom, Ashwagandha, Nettle, Rehmannia, Chinese Boswellia serrata, teh hijau, jahe, kunyit, white willow, tephania, dan Chinese Thunder
Jintan hitam yang berasal dari tanaman yang memiliki nama keluarga Ranunculaceae dan memiliki nama ilmiah yaitu Nigella sativa. Biji ini memiliki berbagai sebutan, seperti dalam bahasa Inggris disebut dengan black cumin, black seed, black caraway, nigella, kalonji, roman coriander. Jintan Hitam telah banyak dipakai di Indonesia dan dunia sebagai tumbuhan dengan efek antiinflamasi dan dapat memodulasi sistem imun pada pasien autoimun tapi masih sangat sedikit penelitian tentang penggunaan jintan hitam pada penderita lupus. Dengan komponen aktif thymoquinone (TQ) yang terbukti mampu meregulasi sitokin proinflamasi dan autoantibodi, pemberian ekstrak jintan hitam yang cukup terjangkau pada penderita lupus diharapkan mampu mencegah progresivitas pada lupus dengan efek samping sangat minim.
Penelitian ini adalah eksperimental murni (dilakukan secara in vivo dengan menggunakan mencit BALB/c yang telah dimodifikasi sehingga menjadi model lupus sebagai subyek penelitian. Tujuan penelitian adalah untuk melihat efikasi ekstrak jintan hitam dalam menghambat kerusakan ginjal pada penderita LES yang diwakili mencit model lupus Data di yang diperoleh dibandingkan antara kelompok kontrol negatif, steroid dan jintan hitam. Ekspresi beberapa sitokin proinflamasi seperti Interleukin (IL)-23, IL-17, IL-6, ditemukan lebih rendah pada kelompok jintan hitam dan steroid dibandingkan dengan kelompok kontrol positif. Rerata jumlah absolut sel T regulator (Treg) pada kelompok jintan hitam menyerupai jumlah pada kelompok kontrol negatif, sementara itu kelompok steroid memperlihatkan angka yang lebih tinggi. Sedangkan kadar antibodi anti-dsDNA pada kelompok jintan hitam lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol negatif. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak jintan hitam dapat menghambat kerusakan jaringan ginjal pada mencit model lupus dengan mempengaruhi aktivitas IL-6, IL-23, IL-17, Treg dan antibodi anti-dsDNA.
Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa ekstrak jintan hitam dapat meregulasi sistem imun pada penderita LES dengan menurunkan ekspresi IL-6, IL-23, IL-17 dan kadar antibodi anti-dsDNA serta menaikkan jumlah absolut Treg pada mencit model lupus, sehingga kerusakan ginjal dapat dihambat. Penelitian ini diharapkan dapat dilanjutkan ke penelitian pada penderita LES anak.
Penulis : Dr. Zahrah Hikmah,dr., Sp.A(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2405844022005308





