UNAIR NEWS – Program rutin Sehat Pagi di Jawa Pos TV kembali mengundang Pusat Layanan Kesehatan (PLK) Universitas Airlangga (UNAIR). Kali ini Kokoh Wardoyo AHP drg selaku dokter gigi PLK diundang untuk menjadi narasumber pada Jumat (18/11/2022).
Melakukan siaran langsung pada pukul enam pagi, PLK UNAIR membawakan sosialisasi dengan tema Penanganan Pertama pada Trauma Gigi. Dalam episode tersebut, drg Kokoh menjelaskan definisi dan jenis trauma pada gigi.
Ia menjelaskan bahwa trauma pada gigi atau sering disebut juga dengan dental trauma secara umum dibedakan menjadi dua, yakni, fraktur pada gigi dan displacement. Fraktur pada gigi atau gigi patah bisa termasuk ke dalam kondisi trauma ringan ketika hanya memengaruhi bagian email atau lapisan terluar pada mahkota gigi.
Sementara, untuk displacement atau gigi berpindah tempat adalah kondisi trauma yang berat. Biasanya diakibatkan karena cedera parah yang bisa menggeser posisi gigi atau bisa terjadi avulsi. Dalam kondisi lebih parah, gigi bisa terdorong ke luar atau mematahkan tulang pendukungnya. Hal ini adalah kondisi darurat yang membutuhkan penanganan segera.
Drg Kokoh memberi contoh dari trauma gigi seperti patah itu perlu diberi penanganan khusus dan perawatan syaraf. “Gigi patah kemungkinan 70 persen harus melalui perawatan syaraf. Biasanya bisa langsung ditambal namun nanti beberapa bulan kemudian akan ada perubahan warna, karena ruang pulpa sudah tipis,” ujar drg Kokoh.
Menurut penjelasannya juga, perawatan syaraf untuk gigi patah itu sendiri memerlukan waktu, namun jika tidak ditangani maka dapat mengakibatkan infeksi yang terus menerus, nyeri yang tiba-tiba dan yang paling parah adalah gigi goyang tanpa sebab.
Ada juga kasus trauma pada gigi yang disebut dengan intrusi gigi. Itu merupakan salah satu akibat trauma berupa perpindahan gigi ke dalam gusi. Biasanya diakibatkan karena. Jika terjadi pada anak-anak maka penanganannya perlu dilakukan pencabutan gigi. Dan pada orang dewasa, perlu menggunakan crown gigi jika kondisi memungkinkan.
“Kalau intrusi gigi terjadi pada anak-anak maka perlu dicabut karena gigi susu yang terjadi intrusi akan mengganggu perkembangan gigi yang berikutnya atau permanen,” jelas drg Kokoh.
Ada tanda-tanda lain yang perlu diwaspadai dan perlu segera memeriksakan diri ke dokter meski tidak memperlihatkan akibat atau trauma yang jelas dan tidak terjadi gigi patah namun bisa menjadi indikasi bahwa terjadi infeksi pada bagian dalam. Tanda-tandanya seperti nyeri terus menerus, pendarahan pada gusi dan bengkak pada gusi.
Selain karena terjatuh, kasus lainnya yang dapat mengakibatkan trauma pada gigi adalah terjadinya keretakan gigi atau pecah ketika mengunyah makanan keras. Drg Kokoh menjelaskan untuk hal ini juga memerlukan perawatan syaraf atau justru pencabutan gigi.
Penulis: Jihan Aura
Editor: Khefti Al Mawalia





