Bacillus mojavensis EG6.4 adalah mikroba yang diperoleh dari tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti penular penyakit Demam Berdarah Dengue. Mikroba ini, dari hasil penelitian awal telah terbukti dapat membunuh larva Aedes aegypti. Peneliti penasaran kematian larva tersebut terjadi karena toksin atau zat kimia lainnya yang dihasilkan oleh bakteri tersebut. Jika sudah diketahui mekanisme kerja bakteri itu, maka bakteri lokal tersebut dapat dikembangkan sebagai biolarvasida baik di bidang kedokteran tropis ataupun di bidang pertanian. Sudah beredar di pasaran bahwa ada produk paten yang berisi bakteri dari jenis Bacillus thuringiensis strain tertentu yang sudah diterapkan untuk pengendalian vektor penyakit maupun hama dan penyakit tanaman. Bacillus thuringiensis menghasilkan toksin di dalam selnya dan toksin itulah yang dapat membunuh bentuk larva serangga tertentu. Tetapi hasil penelitian ini menunjukkan hasil yang lain, karena dengan menggunakan bantuan mikroskop elektron ternyata tidak ditemukan toksin seperti yang dihasilkan oleh Bacillus thuringiensis. Sehingga penelitian diteruskan ke arah pembuktian kematian larva disebabkan oleh zat kimia lain yang dikeluarkan oleh Bacillus mojavensis EG6.4.
Dari deteksi awal menggunakan uji aktivitas hemolitik sel darah, menunjukkan bahwa bakteri ini menghasilkan zat kimia yang diduga sebagai biosurfaktan yang dapat membunuh larva. Dari penelusuran pustaka, biosurfaktan adalah bahan aktif yang dihasilkan oleh bakteri dan dapat dikembangkan untuk mengendalikan larva. Biosurfaktan dapat diperoleh dari hasil aktivitas mikroba di dalam tubuhnya. Salah satu jenis biosurfaktan yang dapat dimanfaatkan pada penelitian ini adalah surfaktin yang telah dibuktikan dengan adanya gen penyandi yang ditemukan pada bakteri itu. Senyawa kimia surfaktin ini dapat dimanfaatkan pada berbagai bidang di kehidupan manusia dan telah banyak digunakan di bidang industri, makanan, farmasi, maupun kosmetik. Selain itu, surfaktin juga dapat berperan sebagai agen anti jamur maupun anti bakteri yang dapat digunakan pada bidang pertanian, khususnya dalam melawan hama dan penyakit pada tanaman.
Tidak hanya itu, surfaktin juga dapat digunakan untuk lingkungan hidup dengan mengurangi konsentrasi molekul pencemar pada lingkungan tercemar, seperti minyak dan logam berat. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan dalam proses pengembangan biosurfaktan lebih lanjut khususnya oleh Bacillus mojavensis EG6.4 isolat lokal yang diperoleh dari tempat perindukan larva Aedes aegypti, dari kota Gresik, Jawa Timur, Indonesia. Surfaktin berpotensi dikembangkan sebagai bioinsektisida yang dapat digunakan untuk pengendalikan nyamuk Aedes aegypti dan hama serta penyakit pada tanaman, sehingga keberhasilan penelitian ini akan berkontribusi pada bidang Kesehatan masyarakat maupun pertanian.
Penulis: Salamun, Drs., M.Kes





