Avian influenza (AI) adalah penyakit menular yang sangat menular yang disebabkan oleh salah satu subtipe dari virus influenza yang terutama menginfeksi burung dan mamalia, dan dikategorikan menjadi tiga: subtipe (A, B, dan C) berdasarkan kandungan nukleoprotein (NP) dan protein matriks (MP). Di Indonesia, avian influenza A subtipe H5N1yang patogeniknya tinggi endemik sejak tahun 2003, sedangkan avian influenza A H9N2 yang patogeniknya rendah virus pertama kali dilaporkan pada tahun 2017 pada populasi unggas. Selain berdampak negatif pada produksi unggas, virus ini juga menyebabkan infeksi influenza sporadis pada manusia juga. Kekambuhan pada unggas menimbulkan ancaman parah yang berkelanjutan terhadap kesehatan hewan dan manusia secara global karena kemungkinan adanya variasi reassortment baru di antara mereka atau dengan subtipe virus lainnya. Di beberapa negara Asia, pasar unggas hidup (PUH) adalah tulang punggung perdagangan unggas. Berbagai jenis burung dari berbagai wilayah geografis diperkenalkan ke PUH setiap hari dan mungkin dibatasi bersama, mendorong penyebaran lokal dari beberapa subtipe virus dan memungkinkan untuk reassortment. Survei flu burung dan pemantauan berkala di antara negara endemik, termasuk Indonesia, telah mengungkapkan insiden dan keragaman unggas virus influenza A (AIV) di PUH.
Studi yang dilakukan di Hong Kong, Cina, Indonesia, dan Amerika Serikat mengungkapkan bahwa
pasar unggas hidup dapat membawa virus avian influenza A subtipe H5N1 dan H9N2 khususnya virus avian influenza A subtipe H5N1, dan dapat berfungsi sebagai: sumber potensial penularan virus avian influenza A subtipe H5N1 dan H9N2 ke manusia. AIV dapat disebarkan melalui pergerakan burung yang sering masuk, melalui, dan keluar dari pasar. PUH di Indonesia terus menjadi ancaman, terbukti dengan tewasnya seorang anak berusia 8 tahun di Jawa Barat kemungkinan disebabkan oleh avian influenza pada tanggal 5 Juli 2012, yang mengunjungi PUH dengan ayahnya dan membawa daging ayam yang baru disembelih.
Investigasi surveilans awal di Indonesia menemukan insiden yang secara signifikan lebih besar dari
AIV, khususnya virus flu burung subtipe H5N1 yang sangat patogenik, pada PUH ini di daerah penghasil unggas, menyiratkan bahwa virus avian influenza A yang sangat patogen subtipe H5N1 menyebar luas selama proses perdagangan. Selanjutnya, ada perbedaan signifikan antara model bisnis unggas domestik (seperti ayam kampung) dan unggas komersial (seperti ayam pedaging dan petelur) yang dipasarkan di PUH perkotaan Indonesia. Sebuah studi yang dilakukan di Indonesia pada PUH menemukan bahwa penyembelihan ayam di PUH meningkatkan risiko infeksi virus flu burung.
PUH dapat bertindak sebagai reservoir untuk AIV, ancaman serius bagi kesehatan hewan dan manusia, oleh karena itu, sangat penting untuk mengidentifikasi faktor risiko lokal yang terkait dengan infeksi.
Faktor risiko yang paling signifikan: penempatan burung baru dengan burung sisa dari batch sebelumnya di kandang yang sama; percampuran dari spesies yang berbeda di kandang yang sama, berbagi pemotongan, makanan, penyiraman, dan peralatan penimbangan, dan keberadaan tikus. Salah satu strategi yang paling efisien untuk mencegah penyebaran virus flu burung (AI) di Indonesia adalah penggunaan vaksinasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi subtipe virus avian influenza A H5N1 dan H9N2 pada PUH di Jawa Timur, Indonesia, serta untuk mengidentifikasi faktor risiko yang terkait dengan infeksi. Studi ini dimaksudkan untuk membantu otoritas pemerintah terkait berpotensi terlibat dalam pengendalian dan pemberantasan subtipe virus avian influenza A H5N1 dan H9N2 dan faktor risiko yang terkait dengan PUH di Indonesia, khususnya di provinsi tempat studi, serta menggabungkan temuan penelitian ke dalam kontrol masa depan dan strategi pemberantasan infeksi mematikan ini.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memisahkan efek dari faktor terkait perdagangan dan genetik pada penularan AIV pada ayam jenis ini. Kohabitasi virus influenza A subtipe H5N1 dan H9N2 menimbulkan kekhawatiran tentang munculnya strain rekombinan. Kehadiran kedua subtipe di beberapa sampel unggas menunjukkan bahwa mereka hidup berdampingan atau berbagi inang selama periode penelitian. Analisis faktor risiko yang disajikan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan itik, kalkun di kandang sangat terkait dengan peningkatan risiko subtipe AIV H5N1 dan H9N2 di PUH.
Hasil penelitian kami menemukan sampel burung selama musim hujan (November–Maret) memiliki hubungan yang signifikan dengan prevalensi AIV dibandingkan dengan musim kemarau (April–Oktober). Efek musiman yang sebanding diamati di daerah tropis selama investigasi ayam kampung di Bangladesh. Studi ini menggambarkan bahwa tidak ada hubungan yang ditemukan antara beberapa parameter lain dalam PUH seperti kategori perdagangan, populasi ayam dalam PUH, hari operasional per minggu, pemeliharaan burung di luar kandang, berbagi peralatan, mencampur unggas yang tiba di tempat yang berbeda hari, tim inspeksi dari pihak berwenang datang mengunjungi PUH, penggunaan deterjen selama membersihkan meja kayu, desinfektan kendaraan selama pengiriman, burung liar ada di sekitar kandang, keberadaan burung yang sakit di dalam kandang, pembuangan unggas yang mati, keberadaan burung puyuh di kandang, dan kucing liar di kandang dengan adanya infeksi H5N1 dan H9N2. Meskipun variable ini ditemukan sebagai penentu yang signifikan dalam penyelidikan lain.
Penulis korespondensi: Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Rehman S, Effendi MH, Shehzad A, Rahman A, Rahmahani J, Witaningrum AM, Bilal M. 2022. Prevalence and associated risk factors of avian influenza A virus subtypes H5N1 and H9N2 in PUHs of East Java province, Indonesia: a cross-sectional study. PeerJ 10:e14095 http://doi.org/10.7717/peerj.14095





