Universitas Airlangga Official Website

Anak Juga Bisa Diabetes

Foto by Kompas Health

Diabetes Melitus(DM) merupakan salah satu dari penyakit yang non communicable dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi. Penyakit ini sering dijumpai pada dewasa. Akhir-akhir ini kasus DM anak semakin meningkat. Sering timbul pertanyaan dari orang tua tentang  hal ini. Apakah sama DM dewasa dan anak? Yuk kita ikuti ulasan berikut.

Diabetes melitus (DM) atau penyakit kencing manis adalah gangguan metabolisme yang timbul akibat peningkatan kadar gula darah di atas nilai normal yang berlangsung dalam jangka waktu lama. Hal ini disebabkan adanya gangguan pada hormon insulin yang dihasilkan kelenjar pancreas, baik dalam proses sekresi atau kerja dari insulin itu sendiri. Insulin berfungsi mengatur penggunaan glukosa oleh otot, lemak atau sel-sel lain di tubuh. Apabila produksi insulin berkurang, maka akan menyebabkan tingginya kadar gula dalam darah serta gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein.

Pada umumnya, DM dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu DM tipe-1 dan DM tipe-2. DM tipe-1 disebabkan oleh pankreas yang tidak memproduksi cukup insulin, sementara DM tipe-2 disebabkan oleh gangguan kerja insulin yang juga dapat disertai kerusakan pada sel pankreas.

Seringkali DM dianggap hanya sebagai penyakit orang dewasa. Namun demikian, DM juga dapat terjadi pada anak-anak dan remaja, khususnya DM tipe-1.Lebih kurang 90% DM anak adalah DM tipe 1. Angka kematian pada DMT1 pada saat awal gejala timbul cukup tinggi. Hal ini disebabkan pada saat awal gejala, secara teori cadangan sel penghasil insulin ini tinggal sedikit, yaitu kurang lebih 10 %. Nah baru saat itu orang tua, pengasuh menyadari adanya keluhan ini, al banyak makan, minum, berat badan turun dan bahkan beberapa dengan komplikasi sesak, mengantuk sampai dengan tidak sadar dan kejang.

Secara teori pada DMT1 ini terdapat gen yang beresiko tinggi, yaitu antara lain gen yang mengkode daya tahan tubuh yang diperankan oleh CTLA4. Selain gen ini disinyalir ada 40 an lebih lokus gen yang menunjukkan resiko DMT1 ini. Apabila gen ini bertemu dengan faktor infeksi atau lingkungan, maka pada 20 % kasus akan terjadi reaksi autoimun yang berujung dengan DMt1 anak ini.

Pada DMT2 anak biasanya gejala diawali dengan obesitas anak, baru kemudian terdapat keluhan banyak makan, minum, berat badan turun. Lebih jarang dijumpai komplikasi sesak dan kejang dibandingkan DMT1 anak. Yuk kita jaga kesehatan anak. Jangan lupa untuk segera kontrol apabila menjumpai   keluhan mengarah ke DM anak ini.

Oleh: Dr. dr. Nur Rochmah SpAK; Dr. dr. Muhammad Faizi SpAK; Yuni Hisbiyah, Rayi PK

Link Jurnal: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/ctla-4-ct-60-ag-and-ctla-4-1822-ct-gene-polymorphisms-in-indonesi