Universitas Airlangga Official Website

Kepatuhan Pasien Asma terhadap Pengobatannya Berkaitan dengan Kualitas Hidup

Foto by Kompas Healthh

Asma merupakan masalah kesehatan pernapasan yang banyak terjadi pada masyarakat dari negara berkembang maupun negara maju. Berdasarkan Global Asthma Network, Jumlah pasien asma terus meningkat dan diperkirakan akan mencapai lebih dari empat ratus juta orang di seluruh dunia pada tahun 2025. Gejala yang khas pada serangan asma seperti mengi, dada terasa tertekan, dan napas pendek sangat berpotensi mengganggu kehidupan sehari-hari pasien asma. Apalagi pemicu asma dapat muncul secara tiba-tiba dan menimbulkan gejala asma. Ketidakpatuhan terhadap pengobatan juga berpeluang menyebabkan gejala asma semakin tidak terkontrol.

Menurut World Health Organization (WHO), kepatuhan menggunakan obat pasien asma berkisar antara 30-40%. Bahkan, pada sebuah penelitian hanya 37% pasien asma lansia yang mematuhi penggunaan inhalasi kortikosteroid. Pada sebuah penelitian, alasan ketidakpatuhan pasien asma dalam menggunakan obatnya antara lain karena kurangnya dukungan keluarga, lupa, tidak peduli, masalah saat kurang pengetahuan, takut efek samping, dan lainnya seperti harga. Ketidaktepatan dalam menggunakan alat yang menghantarkan obat asma seperti inhaler juga berpotensi menyebabkan obat asma tidak optimal dalam mengurangi gejala asma dan menyebabkan kualitas hidup pasien asma menjadi menurun, padahal tujuan penting dari terapi asma adalah meningkatkan kualitas hidup.

Studi cross-sectional ini dilakukan untuk mengungkap adanya hubungan antara kepatuhan menggunakan obat dengan kualitas hidup pada pasien asma. Sebelum dilakukannya penelitian ini, protokol penelitian telah memenuhi laik etik dari Komite Etik Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Data didapatkan melalui survei menggunakan instrumen kuesioner yang sudah divalidasi. Terdapat dua instrumen yang digunakan yaitu Medication Adherence Report Scale (MARS-A) dan Asthma Quality of Life Questionnaire (AQLQ). Kedua instrumen ini didesain khusus untuk pasien asma.

Dari delapan puluh responden pasien asma yang berpartisipasi, hampir tiga perempatnya sudah memiliki asma selama lebih dari 3 tahun dengan penyakit penyerta terbanyak adalah hipertensi yang diderita oleh hampir seperlima dari total responden. Pasien asma ini didapatkan dari data pasien asma di beberapa puskesmas di Surabaya. Jumlah responden yang menerima obat asma yang bersifat controller dan kombinasi reliever dan controller hampir sama, dan tidak seorang pun yang hanya menerima reliever. Hampir semua responden memiliki asuransi kesehatan BPJS sehingga faktor harga mungkin tidak menjadi masalah bagi pasien asma yang menjadi responden penelitian ini.

Sementara itu, dari penelitian ini ditemukan bahwa masih ada pasien asma yang merupakan perokok meskipun hanya sepersepuluh dari jumlah responden. Pada pasien asma yang perokok, obat asma seperti kortikosteroid inhalasi dapat kurang efektif. Dan berdasarkan penelitian lain, pasien asma yang perokok cenderung mempunyai kulaitas hidup yang rendah dan mengalami gejala asma yang lebih buruk daripada pasien asma yang bukan perokok.

Kepatuhan terhadap pengobatan pasien asma yang didapat dari penelitian ini lebih rendah dari penelitian-penelitian lain yang serupa, yaitu hanya 15% yang patuh secara penuh (fully adhere). Namun, kualitas hidup pasien asma pada penelitian ini sebagian besar berada pada level sedang. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar responden memiliki derajat keparahan asma intermitten atau mild persistent. Dimungkinkan pasien-pasien ini tidak patuh karena gejala asma jarang muncul dan bersifat ringan. Dari penelitian ini juga ditemukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kepatuhan pengobatan dan kualitas hidup pasien asma (p=0,008).

Saran yang dapat diambil dari penelitian ini antara lain hendaknya tenaga kesehatan dapat mengedukasi pasien asma untuk patuh terhadap pengobatannya meskipun gejala asmanya tergolong ringan. Dengan patuh terhadap pengobatan asma dan juga mengecek kondisi secara berkala, maka kualitas hidup pasien asma dapat meningkat sehingga pasien asma dapat menjalankan kehidupannya dengan baik. Pasien asma perokok harus terus diedukasi agar dapat berhenti merokok demi terhindar dari penurunan fungsi paru dan perburukan penyakit.

Penulis: Gesnita Nugraheni, S.Farm., M.Sc., Apt

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/medication-adherence-and-quality-of-life-among-asthmatic-patients/fingerprints/