Seorang diplomat senior Amerika Serikat pernah berbicara dalam suatu forum dimana saya menjadi penerjemahnya – tentang majunya sektor informal di negaranya dalam bentuk usaha kecil dan menengah. Dia mengatakan bahwa usaha kecil dan menengah itu tumbuh dan didominasi oleh anak-anak muda lulusan perguruan tinggi itu tumbuh subur karena ada budaya di Amerika Serikat yaitu “willing to accept failure” atau bersedia menerima kegagalan. Mencoba sesuatu inovasi gagal, dicoba lagi, gagal, dicoba lagi dan begitu seterusnya sampai berhasil.
Accepting failure atau menerima kegagalan dan dengan sabar mencoba lagi terus menerus sampai berhasil itu juga dilakukan oleh seseorang yang memiliki status peneliti terutama di perguruan tinggi. Sikap committed dan persistent itu juga diajarkan dalam ajaran luhur agama Islam. Dalam Surat al Imran, Allah SWT berfirman Isbiru was sabiru “Wahai kamu yang beriman! Tabahlah dan bersabarlah dan [bersabarlah] terus-menerus dan takutlah kepada Allah agar kamu dapat (menjadi) sukses.” (3:200) (“O you who believe[d]! Be steadfast and [be] patient and [be] constant and fear Allah so that you may (be) successful.” (3:200)
Dalam dunia penelitian di Universitas Airlangga saya menemukan banyak peneliti yang memiliki sikap persistent dan patient itu salah satunya pada diri Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, M.Si Wakil Rektor UNAIR Bidang Riset, Inovasi dan Community Development. Wanita Bali ini S1 nya di UNAIR, S2 di ITB, S3 nya di IPB dan Post -Doctoral nya di University of Groningen, Belanda. Selama pandemi Prof. Nyoman diangkat sebagai Koordinator Produk Covid-19.
Prof. Nyoman ketika ditanya media, kenapa pembuatan obat dan vaksin Covid-19 itu lama, dia memberikan penjelasan edukasi pada masyarakat tentang perlunya kesabaran dan konsisten atau istikomah dalam bahasa agamanya dalam meneliti dan membuat obat dan vaksin itu. Perjalanan panjang dilalui para peneliti Universitas Airlangga dalam pembuatan obat dan vaksin Covid-19. Perjalanan panjang ini bukan karena ketidakmampuan dari kapasitas peneliti Indonesia, melainkan penelitian ini berkaitan dengan ‘barang berbahaya’ yang harus diteliti dengan hati-hati dan sesuai aturan kesehatan dunia.
Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih M.Si menjelaskan pembuatan vaksin setidaknya membutuhkan waktu 2 tahun. Karena pembuatan vaksin merupakan penelitian dan proyek jangka panjang yang rumit dan membutuhkan alat yang sangat memadai. Penelitian vaksin ini harus dilakukan di laboratorium BSL3 yang tidak semua instansi penelitian memilikinya, hanya ada 3 instansi di Indonesia yang memiliki laboratorium BSL3 ini, salah satunya ada di Intitute Tropical Disease (ITD) Unair. “Penelitian pembuatan vaksin harus dimulai dengan men-sequence virusnya atau mencari RNA nya, yakni proses mengetahui copy susunan DNA. Pada dasarnya proses ini mudah tetapi masalahnya karena proses ini tidak bisa dilakukan di sembarang tempat. Harus dilakukan di laboratorium dengan keamanan level ketat atau laboratorium BSL3. Berhubungan dengan virus tidak boleh sembarangan. Kalau virus ini bocor, nah itu bisa menyebabkan pandemi seperti saat ini,” jelas Prof Nyoman, kepada awak media saat ramai-ramainya pandemi bulan Mein 2020. Hasil dari sequence RNA virus ini disebut Whole Genom, yang memungkin untuk melihat keaslian genetik dari virus. Unair mampu melakukan Whole Genom karena di Unair memiliki laboratorium BLS3 dan alat NGS (New Generation Sequence) yang merupakan alat sequence mikroba yang mutakhir.
Menurut Prof Nyoman, pembuatan vaksin membutuhkan bahan atau sample Whole Genom asli Indonesia. Karena Whole Genom merupakan identitas asli dari virus dan setiap virus memiliki ke khasannya masing masing, maka dibutuhkan setidaknya sample atau contoh data Whole Genom dari masing masing daerah di Indonesia.
Sampai saat ini, Unair telah temukan 6 varian baru Whole Genom pada 20 sampel pasien positif di Jawa Timur. Dengan demikian di Indonesia, memiliki 9 sample virus Whole Genom, yakni 6 dari Unair dan 3 dari Jakarta. Prof Nyoman mengatakan bahwa setidaknya dibutuhkan 5 Whole Genom dari tiap daerah di Indonesia. “Alhamdulillah Indonesia sudah ada 9. Itu sangat kurang untuk pembuatan vaksin. Setidaknya butuh 5 sample Whole Genom dari tiap daerah. Yang nantinya akan kita lihat Whole Genom dari mana yang paling kuat daya infeksinya. Nah, kita akan memakai data dari Whole Genom terkuat itu untuk Vaksin,” papar Prof Nyoman.
Penjelasan Prof. Nyoman itu menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan para peneliti di UNAIR memerlukan kesabaran dan komitmen yang tinggi serta persisten (persistence) atau istikomah karena penelitian seperti itu sifatnya jangka panjang, Dan memang seperti intisari dari ayat suci Al Qur’an diatas sikap sabar dan istikomah, tabah akan menghasilkan kesuksesan. Dan UNAIR sukses dalam membuat vaksin Merah Putih.
Bagi saya penelitian obat dan vaksin Covid-19 yang dilakukan Prof. Nyoman dan para peneliti UNAIR lainnya bukan hanya untuk tujuan pemenuhan borang akreditasi perguruan tinggi baik nasional maupun internasional, bukan pula untuk “menggugurkan kewajiban” sebagai seorang Gurubesar atau peneliti, namun lebih dari itu sikap istikomah itu bertujuan untuk membangun sebuah peradaban.





