Universitas Airlangga Official Website

Kesehatan Itu Tidak Berdiri Sendiri

Saya menghadiri acara Stadium Generale yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Universitas Nadhlatul Ulama Surabaya (Unusa) (dimana Dekannya adalah alumni UNAIR, Dr. dr. Handayani, M.Kes)  pada tanggal 13 Januari 2023 di Auditorium Unusa.  menghadirkan Prof. Dr. dr. Nila Djuwita Moeloek, Sp.M(K) dengan topik pembicaraan “Eyes Health Lifestyle for Gen-Z in Digital Era “.  Acara ini dipandu seorang moderator yang juga alumni FK UNAIR, dr. Hafid. Saya tahu Prof. Nila memang ahli spesialis mata karena itu beliau sangat tepat diundang untuk berbicara suatu topik sesuai dengan keahliannya. Namun mantan Menteri Kesehatan RI Periode 2014-2019 ini dalam awal ceramahnya tidak ingin membicarakan soal mata lebih dulu, sebaliknya beliau membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan secara umum yang dilihat dari berbagai sudut sudut pandang. Penjelasannya beliau sangat menarik dengan alur bicara yang runtut dan menampilkan data yang lengkap.

Prof. Moeloek menyinggung bagaimana nanti di tahun 2045 Indonesia diprediksi menjadi negara yang perekonomiannya kuat, namun perlu diperhatikan bahwa untuk menuju pada tahun 2045 itu Indonesia perlu memperhatikan faktor pembangunan kesehatan karena memiliki multiplier effect pada bidang-bidang lain terutama soal menyiapkan SDM yang berkualitas.

Yang lebih penting menurut beliau pemahaman soal kesehatan itu harus komperhensif karena kesehatan itu tidak berdiri sendiri sebab itu terkait dengan masalah kemiskinan, kemiskinan karena rendahnya pengetahuan, juga terkait dengan isu katahanan pangan, tersedianya air bersih dan sanitasi, terkait dengan perilaku dan kerusakan lingkungan. Kesehatan memerlukan SDM diberbagai pelosok dan kesehatan memerlukan infrastruktur untuk akses. Masalah diatas dijelaskan Prof. Moeloek secara rinci dan dampaknya apabila tidak mendapatkan perhatian. Semuanya itu perlu diperhatian karena bangsa ini memerlukan SDM yang berkualitas.

Prof Moeloek menjelaskan bahwa ada faktor-faktor yang mempengaruhi Derajat suatu Kesehatan yaitu 30% faktor perilaku, 40% faktor Lingkungan: Fisik, Kimia, Biologi; 10% faktor genetika dan 20% faktor Pelayanan Kesehatan. Semua faktor itu juga beliau jelaskan secara jelas dan rinci.

Selain itu pada dasarnya Kesehatan itu merupakan Hak Azasi Manusia dan merupakan sebuah Investasi bangsa. Dilain pihak bangsa ini memerlukan kualitas manusia dalam membangun negara, sementara anak yang mengalami gizi buruk di bawah usia satu tahun 25% beresiko memiliki tingkat kecerdasan di bawah 70, dan 40% lainnya berisiko  memiliki IQ antara 71-90. Memang agak sulit bagi suatu negara melakukan pembangunannya apabila asetnya berupa generasi muda yang memiliki tingkat kecerdasan yang rendah. Karena dalam perkembangan Revolusi Industri 4.0 (dan seterusnya) didunia ini termasuk di Indonesia diperlukan perkembangan yang maksimal untuk kecerdasan.

Prof. Moeloek yang dosen FKUI ini juga mengelaborasi dampak jangka pendek dan panjang akibat gangguan gizi  pada 1000 HPK (Seperti diketahui yang disebut dengan 1000 HPK itu adalah Seribu Hari Pertama Kehidupan, yaitu terdiri dari  masa selama 270 hari (9 bulan) dalam kandungan dan 730 hari (2 tahun pertama) pasca lahir), yaitu kondisi ibu prahamil kurus dan pendek, yang mengakibatkan gangguan gizi pada masa janin dan usia dini yang selanjutnya berpengaruh pada perkembangan otak yang nantinya mempengaruhi kemampuan kognitif atau tingkat kecerdasan. Gangguan gizi itu pula masing-masing akan berpengaruh pada pertumbuhan janin dimana tubuh bayi pendek atau stunting dan gangguan metabolik misalnya hipertensi, diabetes, obesitas dan stroke. Prof. Moeloek juga mendiskusikan salah satu masalah yang menurut beliau sangat penting yaitu kasus meningkatnya angka Stunting di Indonesia. Karena stunting ini 98,3% berbahaya untuk kesehatan anak dan 71% stunting ini tidak hanya terjadi di pedesaan tapi juga diperkotaan.

Setelah membahas dengan detail soal kesehatan dilihat dari berbagai sudut, beliau baru menjelaskan soal kesehatan mata terutama pada generasi Z yang memiliki karakteristik salah satunya hidupnya dilingkupi dengan perkembangan kemajuan teknologi informasi. Menurut beliau Di era digital, diperkirakan ke depan 50 persen penduduk dunia bakal menggunakan kacamata sebagai konsekensi yang harus diterima di era digital saat ini, dimana banyak penduduk dunia bakal menggunakan kacamata. “Saya bukan tidak suka dengan digital, saya suka era digital karena semua akan menjadi serba cepat, namun tetap harus diatasi dengan baik dengan koreksi pengkacamataan,”

Saya yang “economics by training” di FE UNAIR menjadi sangat terbuka perspektif saya tentang pembangunan ekonomi atau economic development bangsa Indonesia dengan penjelasan dosen FK UI ini tentang bagaimana hubungannya bidang kesehatan ibu-ibu, masyarakat, anak-anak dengan pembangunan ekonomi suatu bangsa kedepannya. Ini berarti membangun bangsa memerlukan kolaborasi multi facet dari berbagai bidang di negeri yang tercinta ini.