Universitas Airlangga Official Website

Deteksi Stunting Melalui Air Liur

Foto by Orami

Karies dan stunting masih menjadi masalah utama di Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS ) tahun 2018 menyatakan bahwa masih tingginya prevalensi karies di Indonesia, yakni 45,3 %. Indonesia termasuk pada empat negara di Asia Tenggara dengan stunting terbesar dengan prevalensi stunting 31,8%. Karies disebabkan oleh multi faktor, salah satunya adalah peningkatan sitokin pro inflamasi, penurunan jumlah air liur, dan komposisi air liur. Perubahan tersebut salah satunya dapat disebabkan oleh kondisi malnutrisi, seperti stunting.

Stunting disebabkan oleh banyak faktor antara lain:  faktor keturunan, pemberian ASI dan  asupan nutrisi yang kurang tepat (makronutri dan mikronutrisi), gangguan hormon, penyakit infeksi, water sanitation hygiene (WASH) yang buruk, kemiskinan, perilaku hidup tidak sehat, dan lain-lain. Kondisi tersebut menyebabkan Enviromnetal enteric Disfunction (EED) dan Protein Energy Malnutrition (PEM). Kondisi stunting yang tidak segera dilakukan intervensi pada 1000 hari kehidupan dapat berdampak pada dewasa dan remaja, seperti terjadinya gangguan pertumbuhan linier tulang, dan  terjadi HAD (Height Attention Deficit) yakni anak yang beresiko tetap pendek pada usai dewasa dan remaja.

PEM adalah kondisi ketidakseimbangan intake diet dengan pengeluaran energi fisiologis (Physiological Expenditure Of Energy) yang dibutuhkan setiap sel tubuh. Gangguan dalam menjamin ketersediaan energi untuk basal metabolism sel dan nutrisi pada PEM dapat menyebabkan gangguan pembentukan dan perbaikan jaringan, gangguan regulasi fisiologis pada sistem endokrin. PEM dan EED dapat menganggu proses ossifikasi endokondral, proliferasi fibroblast, dan menekan serta resistensi horomon pertumbuhan seperti Growth Hormone (GH,IGF-1), Hormon thyroid, dan Parathyroid Hormon (PTH).

Stunting juga mempengaruhi kondisi rongga mulut. Anak stunting memiliki resiko  terjadi karies, penurunan aliran air liur, dan gangguan pertumbuhan gigi dibandingkan anak normal. Penurunan aliran air liur pada anak stunting dapat disebabkan karena gangguan pada kelenjar air liur. Gangguan pada suatu organ dapat disebabkan penurunan basal metabolisme organ tersebut. Hal yang mempengaruhi kondisi tersebut adalah defisiensi energi dan protein.  Penilaian kadar protein dapat dilakuan dengan menghitung serum total protein pada anak stunting.

Karies dapat terjadi dapat disebabkan karenan penurunan fungsi antibody. Antibody yang bertugas untuk mencegah karies adalah immunoglobulin A yang keluar pada air liur dalam bentuk secretory Imunglobullin a(sIgA), sedangkan tumbuhnya gigi dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Salah satunya adalah signal antar hormon pada folikel gigi, yakni PTHrP. Kadar hormon pada  anak stunting dapat dilihat dengan pemeriksaan serum.

Pemeriksaan total protein, sIgA, dan PTHrP di serum dalam mendeteksi kondisi  stunting cukup invasive pada anak-anak. Latar belakang tersebut melandasi peneliti untuk meneliti kadar total protein, sIgA, dan PTHrP pada air liur karena pengambilan lebih mudah dan noninvasive karena air liur telah banyak digunakan sebagai gambaran serum disebabkan komposisinya merupakan ultrafiltrasi serum.

Penulis: Udijanto Tedjosasongko, drg., Sp.KGA., Ph.D.

Link Jurnal: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36220123/