Meningkatnya jumlah pemimpin wanita dalam manajemen organisasi telah meningkatkan minat ilmiah yang lebih luas dalam beberapa bidang seperti pekerjaan, keluarga dan kehidupan pribadi (Poelmans, et al, 2008). Trend ini ditambah pula dengan kaburnya peran gender, pergeseran nilai, peningkatan pasangan dengan penghasilan ganda, orang tua tunggal, dan keterlibatan pasangan (Greenhaus & Powel, 2008). Oleh karena itu perhatian organisasi semakin meningkat terhadap kualitas kehidupan karyawan salah satunya pemimpin wanita dengan menekankan pentingnya hubungan keluarga dan kinerja, hal ini karena pemimpin wanita dihadapkan pada tugas sebagai pemimpin namun di sisi lain mereka juga dihadapkan pada peran menjadi istri yang baik dan juga ibu yang berdedikasi pada keluarganya. (Eby, et al, 2005). Dalam tugasnya pemimpin wanita juga dihadapkan pada tugas-tugas yang menantang setiap harinya, oleh karena itu diperlukan kemauan untuk berubah, pemahaman akan diri sendiri, memahami akan tujuan serta konsekuensi akan jabatan yang diemban dan juga mau belajar dari manapun tidak hanya dari bangku sekolah (Rincon, Cifre, Castilo & Perez, 2020).
Personal growth dapat membantu pemimpin wanita untuk merumuskan tujuan hidupnya, memahami pengembangan kekuatan yang dimiliki guna menjawab tantangan pekerjaan maupun lingkungan sosialnya (Andajani et al., 2016). Menurut Chang et al., (2017) dalam menjalankan tugasnya pemimpin wanita membutuhkan kemampuan untuk dapat berintensi fokus pada pertumbuhan diri. Saat seseorang fokus pada pertumbuhan diri itulah yang disebut dengan personal growth initiative (Robitschek, 1998). Personal growth initiative akan membantu pemimpin wanita untuk bertumbuh dalam mengatasi permasalahan (readiness for change), membuat rencana yang efektif (planfullnes), memanfaatkan sumber daya yang tersedia baik dari dalam diri maupun dari eksternal (using resources), dan berperilaku pertumbuhan yang disadari serta disengaja (intentional behavior) (Robitschek & Cook, 1999).
Penelitian terkait pemimpin wanita selama ini lebih banyak membahas bagaimana peran suami terhadap perkembangan karier pemimpin wanita, ataupun juga terkait kepuasan pernikahan pemimpin wanita (Heikinnen, Minna & Lamsa, 2009;). Namun belum ada penelitian yang membahas terkait peran pasangan pada personal growth initiative pemimpin wanita, sedang dalam penelitian Dhania, Suryanto, Suhariadi & Fajrianthi (2021) menunjukkan bahwa salah satu kebutuhan para pemimpin wanita generasi milenial di Indonesia untuk mengembangkan personal growth initiative adalah peran dari pasangan. Berdasarkan hal tersebut menarik untuk diteliti lebih lanjut dengan studi fenomenologi untuk lebih memahami bagaimana peran suami yang dibutuhkan pemimpin wanita untuk mengembangkan personal growth initiative pemimpin wanita.
Peserta dalam penelitian ini bekerja di perusahaan profit yang bergerak dibidang manufacturing, usia, posisi, status perkawinan, dan masa kerja yang berbeda. Peserta 1 (S1) berusia 37 tahun, Sarjana, masa kerja 6 tahun, menjabat sebagai Manager HRD. Peserta 2 (S2) berusia 36 tahun, Sarjana, menjabat sebagai Manager keuangan. Peserta 3 (S3) berusia 50 tahun, SLTA, masa kerja 14 tahun, menjabat sebagai Manajer produksi. Peserta 4 (S4) berusia 30 tahun, menjabat sebagai kepala bagian HRD dalam perusahaan manufacturing, masa kerja 4 tahun. Peserta 5 (S5) berusia 28 tahun, Sarjana, masa kerja 8 bulan, menjabat sebagai supervisor produksi di perusahaan manufacturing. Peserta 6 (S6) berusia 38 tahun, Sarjana, masa kerja 10 tahun, menjabat sebagai kepala bagian general affair di perusahaan manufacturing.
Hasil penelitian ini memberikan gambaran empiris tentang peran suami dalam proses personal growth initiative pemimpin wanita. Dengan demikian, penelitian ini menjawab panggilan peneliti lain (Dhania, Suryanto, Suhariadi & Fajrianthi, 2021; ) untuk lebih memahami bagaimana peran suami selama ini dalam personal growth initiative pemimpin wanita di Indonesia yang termasuk dalam budaya timur memiliki personal growth initiative lebih rendah daripada individu dari budaya barat (Heine et al., 2001). Bentuk dukungan seperti tidak banyak complain, memberikan bantuan nyata, memberikan solusi atau informasi, memberi dukungan emosional, dan memberi ruang untuk melakukan sesuatu adalah bentuk dukungan yang dibutuhkan para pemimpin wanita di Indonesia. Sebaliknya peran suami yang banyak melarang, cemburu, banyak menuntut adalah hal-hal yang dirasa menghambat personal growth initiative pemimpin wanita.
Penulis: Prof. Dr. Fendy Suhariadi, Drs., M.T.
Judul artikel: Husband Support: Supporting or Inhibiting Personal Growth Initiative of Women Leaders





