Universitas Airlangga Official Website

Apakah Masyarakat Indonesia “Mau” Membayar untuk Vaksin COVID-19 Dosis Penguat?

Vaksin merupakan salah satu strategi utama pada penanganan pandemik COVID-19 yang bertujuan untuk meningkatan imunitas tubuh terhadap virus SARS-CoV2-2. Namun demikian, sama halnya dengan pemberian vaksin pada virus yang sejenis (misalnya virus Flu), vaksin ini memberikan proteksi yang bersifat sementara dimana imunitas akan menurun setelah 5 bulan pemberian vaksin pertama dan kedua.  Oleh karena itu diperlukan dosis penguat secara reguler (booster) untuk mengoptimalkan imunitas tubuh terhadap virus tersebut.

Sampai dengan saat ini, pemberikan vaksin dosis utama maupun penguatan di Indonesia masih gratis, namun untuk perlu dipikirkan strategi agar pemberian dosis penguatan ini dapat dilakukan secara reguler dalam jangka panjang.  Salah satu hal utama yang dapat menjadi hambatan dalam pemberian vaksin ini adalah dari segi pembiayaan. Di negara dengan penerimaan terhadap vaksin yang tinggi seperti di China, ternyata kemauan penduduknya untuk membayar pada dosis penguatnya rendah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menilai kemauan membayar vaksin COVID-19 dosis penguat dan mengidentifikasi faktor- faktor yang mempengaruhi pada penduduk Indonesia.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan survei terhadap 2935 responden dewasa (≥ 18 tahun) dan melibatkan 31 peneliti dari 5 pulau besar di Indonesia, yaitu Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua-Nusa Tenggara. Survei dilakukan dengan menggunakan platform online dan disebarkan melalui platform media sosial online seperti WhatsApp, Telegram, Messenger, Line, Faceboook, Instagram dan Twitter.

Berdasarkan hasil survey, penerimaan penduduk Indonesia terhadap vaksin COVID-19 lebih rendah jika harus membayar. Namun demikian, sebanyak dua pertiga responden bersedia membayar sejumlah 100-500 ribu rupiah untuk vaksin COVID-19 dosis tambahan, dimana responden wanita dan responden yang memiliki dengan tingkat pendidikan sarjana/diploma memiliki proporsi yang lebih besar dibandingkan dengan responden pria maupun responden dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah. Sebagian besar dari responden yang bersedia membayar juga memiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai pentingnya pemberian vaksin dosis penguat, kepercayaan mengenai efektifitas dan keamanan vaksin,  serta bagaimana pandemic COVID memberikan dampak yang kuat terhadap kehidupan social ekonomi mereka, diantaranya adalah berkurangnya pendapatan selama fase pandemic tersebut. 

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemauan untuk membayar vaksin dosis penguat dipengaruhi oleh kemampuan untuk membayar vaksin, terutama di negara dengan tingkat penghasilan penduduknya masih rendah. Pada penelitian ini, lebih dari 50% responden pada penelitian ini memiliki tingkat penghasilan rendah, bahkan di bawah upah minimum regional untuk kota-kota besar (kurang dari 3 juta rupiah), oleh karena itu hal ini dapat menjadi bias pada hasil penelitian ini dikarenakan daya beli yang rendah tersebut. Terdapat beberapa hal lain yang sangat perlu dipertimbangan untuk pemberian dosis vaksin penguat secara regular dalam jangka panjang, terlebih lagi jika perlu membayar, yaitu: (1) adanya “kelelahan” terhadap pemberian vaksin, terlebih pada negara dengan tingkat infeksi yang tinggi, dimana juga memerlukan pemberian vaksin untuk penyakit infeksi lainnya; (2) Nilai manfaat dan tingkat kepercayaan masyarakat dari pemberian vaksin penguat tersebut. Di negara Indonesia, dimana lebih dari 80% penduduknya adalah Muslim, akan mempertanyakan status halal dari vaksin tersebut.  Oleh karena itu diperlukan strategi yang lebih baik dari pemerintah mengenai bagaimana implementasi pemberian vaksin reguler dalam jangka panjang pada masyarakat, terlebih jika harus membayar. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah strategi kesehatan masyarkat secara umum, terutama untuk penyakit-penyakit yang berpotensi menyebabkan pandemic atau kejadian luar biasa.

Penulis : Raden Argarini (Dosen di Departemen Fisiologi dan Biokimia Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga)

Informasi lebih detail mengenai penelitian kami dapat dilihat pada tautan berikut  : https://doi.org/10.3390/idr14060101

Harapan H, Sallam M, Fathima R, Kusuma HI, Anwar S, Nalapraya WY, Wibowo A, Kumara Wati KD, Medina A, Defrita AH, Astri Y. Willingness to Pay (WTP) for COVID-19 Vaccine Booster Dose and Its Determinants in Indonesia. Infectious Disease Reports. 2022 Dec;14(6):1017-32.