Gejala dispepsia kronis sering terlihat di layanan kesehatan primer hingga tersier di Indonesia dengan patologi yang mendasari seperti gastritis atrofi, metaplasia usus, dan tukak lambung. Patologi tersebut dipengaruhi oleh infeksi Helicobacter pylori, yang dikenal sebagai bakteri karsinogenik dan diderita oleh sekitar setengah dari populasi dunia. Oleh karena itu, diagnosis H. pylori dan status mukosa lambung masih menjadi perhatian para klinisi. Ketepatan diagnosis dan terapi perlu dilakukan sedini mungkin untuk mengatasi gastritis kronis dan mencegah manifestasi klinis yang lebih parah, seperti adenokarsinoma lambung.
Status infeksi H.pylori dapat dideteksi salah satunya dengan metodeserologi. Metode dirasa lebih nyaman dan hasilnya dapat diketahui lebih cepat. Pepsinogen (PG) I dan PG II yang yang diproduksi oleh lambung dan didapatkan dari spesimen serum digagas sebagai biomarker dengan nilai diagnostik yang unggul dalam memprediksi kondisi mukosa lambung misalnya gastritis atrofi. PG I dan PG II juga mempunyai manfaat sebagai biomarker untuk skrining kanker lambung. Selain serologi, terdapat metode ABC yang digunakan untuk meklasifikasikan risiko kanker lambung berdasarkan nilai serum PG dan status infeksi H. pylori. Metode ini banyak digunakan di negara dengan prevalensi H. pylori tinggi seperti Cina, Jepang, Mongolia, dan Bhutan.
Data survey nasional menunjukkan prevelensi infeksi H. pylori di Indonesia sebesar 10,4% dengan prevalensi terendah ada pada etnis jawa dan prevalensi infeksi tinggi ditemukan pada penduduk yang tinggal di Jayapura, Makassar, dan Medan dimana ketiganya memiliki akses terhadap endoskopi yang terbatas. Sehingga, diperlurkan metode non-invasive yang reliable tidak hanya untuk mendeteksi infeksi H. pylori tetapi juga untuk mengetahui status mukosa lambung dengan menggunakan PG serum atau metode ABC.
Berdasarkan gambaran diatas peneliti dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga melakukan sebuah penelitian yang melibatkan 646 pasien dyspepsia dari 13 kota di Indonesia untuk menguji reabilitas dari serum PG sebagai biomarker untuk penyakit gastroesophageal. Selain itu, juga dilakukan analisis akurasi dari metode ABC serta distribusi sekresi serum PG berdasarkan beragam faktor determinan seperti: infeksi H. pylori, jenis kelamin, umur, dan etnis. Penelitian tersebut berhasil dipublikasikan di jurnal internasional terindeks Scopus kuartil 2 (Q2) yaitu Journal of Research in Medical Sciences.
Hasil penelitian menunjukkan diantara 646 pasien yang terlibat 308 (47,2%) mempunyai kondisi mukosa lambung yang normal, 212 (32,8%) didiagnosa mengalami gastritis, 91 (14,1%) terdiagnosa reflux esophagitis, 34 (5,2%) ulkus peptikum, dan 1 (0,2%) kanker lambung. Analisis nilai serum PGI, PGII, dan rasio PGI/II pada 15 etnik yang diteliti menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan. Level PGI dan PGII ditemukan lebih tinggi pada pasien yang terinfeksi H. pylori sedangkan ratio PGI/II ditemukan dengan kadar yang lebih rendah dibandingkan dengan pasien yang tidak terinfeksi. Untuk menentukan derajat atrofi sedang hingga berat, dilakukan analisis nilai cut-off, sensitivitas, dan spesifisitas dari PG II dan rasio PGI/II. Hasil study menunjukkan cut-off optimal untuk menentukan derajat atrofi berdasarkan PGII adalah 12,45 ng/mL dengan sensitivitas 59,3%, dan spesifisitas 77,1%. Sedangkan berdasarkan nilai rasio PGI/II, nilai cut-off optimal untuk menentukan derajat atrofi adalah 4,75 ng/mL dengan sensitivitas 81,5%, dan spesifisitas 78,7%. Dengan demikian, level serum PG merupakan biomarker yang bermanfaat dan merepresentasikan hasil endoskopi terutama untuk pasien reflux esophagitis. Selain itu, nilai PG juga berfungsi untuk mendeteksi atrofi gastritis pada tingkat sedang hingga parah.
Informasi detail dan lebih lanjut dapat diakses di:
https://www.jmsjournal.net/text.asp?2022/27/1/90/364987
Penulis: Muhammad Miftahussurur, Langgeng Agung Waskito, Ari Fahrial Syam, Iswan Abbas Nusi, I Dewa Nyoman Wibawa, Yudith Annisa Ayu Rezkitha, Kartika Afrida Fauzia, Gontar Alamsyah Siregar, Fardah Akil, Bradley Jimmy Waleleng, Alexander Michael Joseph Saudale, Azzaki Abubakar, Marselino Richardo, Abdul Rahman, Yoma Sari Namara, Eko Sudarmo, Pangestu Adi, Poernomo Boedi Setiawan, Dalla Doohan, Tomohisa Uchida, Astri Dewayani, Titong Sugihartono, Yoshio Yamaoka





