Universitas Airlangga Official Website

Deteksi Homozygous Wildtype V1016V pada Nyamuk Aedes albopictus

Foto by Hello Sehat

Nyamuk dari genus Aedes merupakan vektor pembawa/penyebab berbagai macam penyakit. Seperti demam berdarah, zika, demam kuning, dan chikungunya. Terdapat berbagai macam spesies nyamuk Aedes, namun yang sangat familiar ada dua spesies yaitu Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Aedes aegypti merupakan vektor utama atau pembawa virus yang utama sedangkan Aedes albopictus merupakan vektor sekunder. Nyamuk-nyamuk tersebut menyebarkan virus ke manusia melalui gigitan dari nyamuk betina.

Demam berdarah merupakan penyakit endemik di Indonesia. Sejak kemunculannya pertama kali di Indonesia pada tahun 1968 di Jakarta dan Surabaya, jumlah penderitanya dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dan menyebar dengan cepat ke wilyah lain. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pada tahun 2021 terdapat 73.518 kasus demam berdarah dengue dengan jumlah kematian sebanyak 705 kasus. Menurut WHO, untuk mengurangi gigitan nyamuk, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan, seperti memakai kelambu ketika tidur, menggunakan pakaian yang panjang, dan menggunakan insektisida. Insektisida tersebut hadir dalam bentuk padatan, kertas, semprot, dan lotion ya dijual bebas dan dengan mudah ditemukan di toko kelontong/swalayan. Namun, penggunaan insektisida secara berlebihan dan dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan resistensi terhadap insektisida, atau nyamuk lebih tahan terhadap insektisida.

Insektisida yang umum beredar serta banyak digunakan oleh masyarakat sebagai pengendali nyamuk adalah insektisida golongan piretroid seperti cyfluthrin, cypermethrin, lamdacyhalothrin, permethrin, S-bioallethrin, dan alpha-cypermethrin. Target senyawa-senyawa ini adalah protein pada sistem saraf. Voltage-gated sodum channel (VGSC) berikatan dengan piretroid dan menginaktivasinya. Sehingga, membran sel yang secara elektrik tereksitasi mengalami depolarisasi terus-menerus. Serangga mengalami kelumpuhan dan kemudian mati. Indikator serangga merespon terhadap insektisida tertentu disebut knockdown. Knockdown menyebabkan gangguan pada sistem motorik serangga ketika kontak dengan insektisida. Knockdown terjadi ketika terlihat serangga tidak dapat berjalan dengan benar dan imobilitas.

Ketika nyamuk resisten, maka nyamuk tidak akan menunjukkan gejala knockdown. Resisten diakibatkan karena terjadinya mutasi pada suatu gen VGSC (Voltage Gated Sodium Channel) pada nyamuk. Resisten terhadap insektisida disebut knockdown resistance, atau kdr. Kdr mengurangi sensitivitas saluran natrium untuk berikatan dengan piretroid dengan mereduksi target gen. Mutasi ini diturunkan dari generasi ke generasi sehingga keturunan yang telah mengalami mutasi pada gen VGSC akan menunjukkan resistensi serta tidak dapat dibunuh dengan konsentrasi insektisida yang beredar di pasaran. Mutasi kdr yang paling umum adalah pada IS6, IIS6, dan IIIS6.. Setiawan, dkk. (2023) melakukan penelitian dalam mendeteksi mutasi pada gen VGSC ini yang diterbitkan pada jurnal internasional “Biodiversitas Journal of Biological Diversity”.

Dalam artikel yang berjudul “Detection of homozygous wildtype V1016V using allele-specific polymerase chain reaction in Aedes albopictus” atau dalam bahasa Indonesia “Deteksi homozygous wildtype V1016V dengan allele-specific polymerase chain reaction pada Aedes albopictus”. Sebagaimana disebutkan pada judul, deteksi dilakukan dengan salah satu metode PCR, yaitu jenis allele-specific polymerase reaction, disingkat AS-PCR. Metode ini memiliki beberapa kelebihan yaitu: digunakan dalam mendeteksi single nucleotide polimorphism (SNP), suatu perbedaan susunan basa nukleotida tunggal pada genom suatu individu yang menyebabkan adanya variasi genetik dalam suatu populasi; dapat digunakan untuk genotyping karena menggunakan dua reaksi yang komplementer, reaksi yang pertama dengan primer AS-PCR yang spesifik untuk normal DNA sequence sehingga tidak dapat mengamplifikasi DNA yang bermutasi pada lokus tertentu, dan reaksi yang kedua berisi primer yang spesifik terhadap DNA mutant sequence sehingga tidak dapat mengamplifikasi DNA normal. Tipe genotip dapat ditentukan dengan menganalisis PCR product: apabila hanya muncul satu pita dikatakan homozigot (baik dengan primer wild type atau primer mutant), sedangkan ketika muncul dua pita termasuk heterozygot. Metode AS-PCR memiliki kelebihan yaitu sederhana, dapat membedakan homozigot dan heterozigot, tidak membutuhkan analisis sekuensing dari produk pcr,  sensitivitas tinggi, cepat, murah, dan mudah dirancang.

Sampel diperoleh dari daerah Kranggan, Surabaya. Sampel sebayak dua ekor nyamuk Aedes albopictus jantan. Hasil dari penelitian disebutkan bahwa sampel yang berupa nyamuk Aedes albopictus tidak mengalami mutasi karena pita yang muncul hanya pada 60 bp. Ketika terjadi mutasi pada gen VGSC kodon 1016, akan muncul pada pita 80 bp untuk mutasi homozigot G/G, sedangkan untuk mutasi heterozigot akan muncul pada pita 60 dan 80 bp V/G. Sehingga, sampel tidak menunjukkan mutasi pada kodon 1016, namun tidak menutup kemungkinan terjadi mutasi pada kodon lain.

Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan sehingga harus disempurnakan dalam berbagai aspek dan dilakukan penelitian lanjutan. Sampel yang hanya berjumlah 2 ekor dan hanya diambil dari satu tempat menjadi kekurangan dalam penelitian ini. Sehingga, perlu diadakannya penelitian lanjutan seperti pengambilan sampel dari banyak tempat dan dihitung secara statistika sehingga dapat mewakili populasi. Selain itu, perlu dilakukannya pemeriksaan bioassay terkait dengan merk insektisida apakah yang menjadikan nyamuk resisten terhadapnya. Kami berharap, dengan adanya penelitian ini dapat mendorong penelitian-penelitian lain yang sejenis dan menyempurnakan penelitian ini. Sehingga dengan penelitian-penelitian tersebut, dapat digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai referensi dalam pengendalian vektor demam berdarah.

Penulis: Ahmad Rudi Setiawan, Syananda Zahra Fadila, Teguh Hari Sucipto, dkk.

Judul Artikel: Detection of homozygous wildtype V1016V using allele-specific polymerase chain reaction in Aedes albopictus

Informasi detail tentang artikel ilmiah ini dapat dilihat di: https://smujo.id/biodiv/article/view/12780/6456