Universitas Airlangga Official Website

Ansietas dan Pengaruhnya Terhadap Spiritual well-being Lansia

Foto by KlikDokter

Lansia cenderung merasakan ansietas yang berlebihan karena lansia adalah golongan yang memiliki resiko tinggi terserang gangguan fisik dan psikologis. Permasalahan yang muncul pada lansia diantaranya yaitu masalah psikologis  seperti stress dan kecemasan. Kecemasan merupakan gangguan psikologis yang memiliki karakteristik berupa rasa takut, keprihatinan terhadap masa depan,  kekhawatiran yang berkepanjangan, dan rasa gugup yang timbul karena adanya sesuatu yang tidak jelas atau tidak diketahui (Maramis WF, 2009). Ansietas merupakan suatu keragu-raguan yang tidak jelas, menyebar, yang berkaitan dengan pikiran dan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya, kondisi emosi ini tidak mempunyai tujuan yang jelas. Kecemasan ringan dapat mendorong seseorang untuk belajar. Kecemasan sedang merupakan kecemasan yang memungkinkan seseorang untuk menetapkan sesuatu pada masalah yang penting sehingga seseorang menghadapi perhatian yang selektif atau lebih berhati-hati sedangkan, kecemasan berat merupakan kecemasan yang sangat mengurangi lahan persepsi seseorang Gangguan kecemasan merupakan gangguan mental terbesar dan diperkirakan 284 juta dari total populasi dunia menderita gangguan kecemasan, gangguan kecemasan lebih banyak dialami oleh perempuan sebesar 4,7% dan laki-laki sebesar 2,8% (WHO, 2017). Data yang diperoleh dari Riset Kesehatan Dasar di tahun 2013 menyatakan sebanyak ±14 juta orang atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas menderita gangguan mental emosional yang diperlihatkan melalui gejala kecemasan dan depresi (Kementrian Kesehatan RI, 2013).

Dalam suasana hati yang sedih, takut dan cemas akan kematian, religuisitas dan spiritualitas menjadi pegangan hidup dan praktik keagamaan menjadi akitivitas dalam keseharian. Spiritual merupakan dimensi kesejahteraan bagi lansia untuk mengurangi ansietas dan sebagai pedoman dalam tujuan hidupnya. Agama/religi merupakan hal yang sangat dibutuhkan ketika lansia berada dalam kondisi sakit. dan semangat untuk memaknai hidup positif akan berkurang. Aspek spiritual dapat meningkatkan koping, mempromosikan perilaku sehat, mengurangi depresi dan kecemasan   Spiritual well-being merupakan keadaan yang muncul atau timbul dari sebuah keadaan kesehatan spiritual atau bisa timbul dari ekspresi kesehatan yang baik. Pencapaian kepuasan dan kebahagiaan sebagai kesejahteraan spiritual dengan cara mengekspresikan hubungan dirinya dengan Tuhan-nya. Seseorang yang    memasuki masa usia lanjut mereka akan mengalami peningkatan dalam pertisipasi sosial dalam  bidang keagamaan. Lansia menjadi lebih tertarik pada agama dan mereka menjadi lebih religius    dan tingkat spiritualitas menjadi tinggi. Lansia akan mencapai  kepuasan dan kebahagiaan sebagai kesejahteraan spiritual dengan cara mengekspresikan hubungan dirinya dengan Tuhan-nya.Lansia yang memiliki pemahaman spiritual yang baik akan merasakan hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar baik keluarga dan juga tetangga sehingga dapat menemukan  arti dan tujuan hidup, sehingga dapat membantu lansia mencapai potensi serta mengurangi kecemasan pada penyakit yang diderita. Seseorang yang mampu mencapai kenyamanan spiritual atau kesejahteraan spiritual akan memperoleh ketenangan pikiran. Kedamaian jiwa dapat membawa pengaruh positif bagi kesehatan, yaitu dapat menurunkan tingkat stres. Seiring dengan penurunan tingkat stres homeostasis tubuh akan lebih terjaga. Penurunan tingkat stres juga dapat menurunkan sumber kecemasan dan depresi seseorang terutama lansia.

Kualitas kesehatan yang rendah dapat memberi efek negatif dan dapat mengakibatkan lansia merasa menyesali hari tua yang dimiliki bahkan dapat menyebabkan lansia tidak dapat menikmati hari tuanya. Sebagian besar lansia memilih untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dengan meningkatkan ibadah. Akan tetapi, status kesehatan spiritual yang tidak terbangun dengan baik tidak akan membantu lansia menghadapi kenyataan menerima penyakit yang diderita, bahkan tidak bisa menerima kematian sebagai takdir yang tidak dapat dilewati atau dihindari. Lansia yang mempunyai penyakit akan berlanjut terhadap kecemasan akan kematiannya. Para lansia juga menghadapi masalah psikologis, yaitu munculnya kecemasan dalam menghadapi kematian, memiliki persepsi yang berbeda-beda ketika menghadapi kematian. Kesiapan lansia saat menjelang kematian dipengaruhi oleh beberapa aspek, yaitu aspek psikologis, sosial, fisik dan spiritual. Faktor yang mempengaruhi kesehatan spiritual seseorang adalah  tahap perkembangan, keluarga, latar belakang etnik dan budaya, agama dan pengalaman hidup sebelumnya (Taylor, 2011). Lansia yang mempunyai kecemasan rendah memiliki spiritual  baik.

Penatalaksanaan ansietas dalam tahap pencegahaan serta terapi membutuhkan metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu dengan metode pendekatan psikoreligius. Kebutuhan  dasar manusia pada lansia harus menekankan aspek fisik, psikologis, sosiologi, budaya  serta perkembangan spiritual. Pengaruh spiritual dan kerohanian akan membangkitkan percaya diri dan optimisme seseorang untuk sembuh dan dapat mengurangi ansietas. Tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengurangi ansietas pada lansia yaitu dengan dilakukan intervensi berupa pengobatan medis juga dapat dilakukan dengan intervensi keperawatan berupa edukasi spiritual  untuk lebih mendekatkan diri dengan Tuhannya.

Kesimpulannya adalah religiusitas dan spiritualitas dapat meningkatkan kedamaian dan kebahagiaan, menumbuhkan kekuatan batin, menambah pemahaman terhadap penyakit dan penerimaan diri, meningkatkan motivasi perawatan diri, menemukan arti dan tujuan hidup, memelihara  dan menciptakan hubungan dan rasa keterkaitan terhadap sesama dan yang lebih penting hubungan dan keterkaitan dengan Maha Pencipta. Untuk mencapai semua itu peran praktisi kesehatan sangat penting untuk membantu memulihkan, meningkatkan religiusitas dan spiritualitas pada lansia. Peningkatan pelayanan kesehatan terhadap lansia diperlukan untuk mewujudkan lansia yang sehat, berkualitas dan produktif di masa tuanya.

Penulis : Iswatun, S.Kep., Ns., M.Kes

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.neuroquantology.com/article.php?id=11982

DOI: 10.48047/nq.2022.20.19.NQ99238