Universitas Airlangga Official Website

Pencegahan Pneumonia Akibat Ventilator Dapat Dikendalikan Melalui Pencegahan Translokasi Bakteri

IL by Royal Progress Hospital

Kasus Ventilator Associated Pneumonia (VAP) menjadi salah satu dari perawatan pasien dengan ventilator di ruang Intensive Care Unit (ICU). Hal tersebut terjadi karena pemasangan ventilator yang terlalu lama dan perawatan alat ventilator yang kurang optimal. Peneliti dari Fakultas Keperawatan UNAIR, Dr Yulis Setiya Dewi, S.Kep., Ns., M.Ng tengah melakukan penelitian factor utama penyebab Ventilator Associated Pneumonia (VAP), salah satunya adalah translokasi bakteri yakni perpindahan bakteri dari lingkungan luar ke dalam.

Mutu pelayanan kesehatan ditinjau dari oleh peran perawat dalam melakukan pelayanan asuhan keperawatan. Keterampilan perawat dalam asuhan keperawatan dan tindakan pencegahan merupakan faktor yang sangat penting untuk meminimalkan komplikasi. Perawatan ICU membutuhkan observasi yang kompleks, terapi, intervensi intensitas tinggi, dan observasi terus menerus. Upaya asuhan keperawatan dapat mencegah adanya komplikasi, termasuk translokasi bakteri dan aspirasi mikro di saluran napas. Dengan demikian kepuasan pasien akan pelayanna keperawatan akan terjamin, termasuk dalam menekan biaya rawat inap.

Upaya pencegahan translokasi bakteri dari rongga mulut ke External Endotracheal Tube (ETT) dapat mencegah terjadinya VAP. ETT adalah penghubung antara pasien dan ventilator, yang dapat memobilisasi mikrobiota oral, dan dapat dikolonisasi oleh bakteri mulut atau respirasi komensal. Kebocoran cairan di sekitar manset ETT ke jalan napas merupakan bentuk aspirasi mikro dan translokasi bakteri yang dapat menyebabkan VAP Ketika tekanan balon manset tabung ETT berada pada level maksimum, aspirasi mikro dan translokasi bakteri dapat dicegah. Namun, perawat mungkin tidak secara permanen mengantisipasi penurunan tekanan balon ETT karena beban kerja di ICU dan peralatan yang terbatas.

Dari hasil penelitian Dr. Yulis Setiya Dewi S.Kep., Ns., M.Ng (Dewi et al., 2022) yang dilakukan di Rumah Sakit Haji Surabaya dan Rumah Sakit Universitas Airlangga didapatkan beberapa kategori presepsi perawat dalam mengahdapi kasus Ventilator Associated Penumonia :

  1. Kompetensi Perawat Yang terbatas

Meningkatnya risiko infeksi nosocomial, salah satunya Ventilator Associated Pneumonia yang merupakan salah satu masalah utama  di unit perawatan intensif (ICU) tidak lain juga berasal dari factor peran perawat dalam melakukan asuhan keperawatan. Hasil wawancara dengan responden menghasilkan data bahwa banyak perawat yang masih terkendala dalam beberapa sector pelayanan, diantanya :

  1. Kurangnya pengetahuan perawat tentang translokasi bakteri dan aspirasi mikro

Kejadian translokasi bakteri masih belum sepenuhnya dipahami oleh sebagian besar perawat. Namun pada dasarnya perawat memahami bahwa translokasi bakteri pada pasien yang menggunakan ventilator merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya VAP.

  • Perilaku tak terduga dari perawat

Profesionalisme perawat berpengaruh terhadap pelaksanaan tindakan pencegahan VAP. Tindakan ini harus tetap dilakukan meskipun ada keterbatasan baik waktu maupun tenaga. Namun, dalam beberapa kasus, tindakan pencegahan VAP seperti mengukur tegangan manset ETT secara rutin dapat terlewatkan atau tidak dilakukan sesuai standar. Hal ini juga berhubungan dengan kondisi melonjaknya pasien di rumah sakit yang tidak diimbangi dengan sumber daya tenaga perawat sehingga beban kerja mereka dalam menegakan

asuhan keperawatan makin tinggi.

  • Belum mendapatkan pelatihan khusus untuk perawat ICU

Informasi terkait translokasi bakteri didapatkan dari pelatihan yang rutin dilakukan dari dalam dan luar rumah sakit. Masih banyak perawat yang baru ditempatkan di ICU belum mendapatkan pelatihan.

  • Tidak ada pengukuran standar manset ETT

Standar Ventilator Associated Pneumoniae Bundle diperlukan agar perawat dapat bertindak sesuai prosedur dan tidak ada tindakan yang terlewatkan. Pengecekan cuff ETT masih belum ada standarnya, sehingga ketiadaan standar membuat perawat memiliki cara yang berbeda dalam mengukur cuff ETT.

  • Lingkungan Kerja yang Tidak Mendukung

Lingkungan kerja yang tidak mendukung meliputi beberapa hal yang dapat menghambat kerja perawat diantaranya:

  1. Situasi Kerja Selama Pandemi

Di masa pandemi, keterbatasan jumlah perawat dan waktu yang tersedia menjadi kendala bagi perawat untuk dapat mengukur cuff ETT. Tindakan ini sering terlewatkan dan tidak menjadi prioritas jika jumlah pasien banyak tetapi jumlah perawat berkurang.

  • Beban kerja yang berlebihan

Perbandingan jumlah perawat dan pasien yang tidak ruangan proporsional membuat perawat hanya melakukan pekerjaan yang bisa dilakukannya pada saat shift. Akibatnya masih ada perawat yang tidak melakukan tindakan sesuai prosedur

  • Kurangnya pendekatan tim

Selama ini perawat yunior hanya mendapatkan pelatihan melalui tindakan yang dicontohkan oleh perawat senior. Namun bantuan ini tidak selalu memungkinkan, karena perawat senior juga memiliki tanggung jawab untuk merawat pasien.

  • Hambatan Manajemen Sumber Daya Manusia

Pengelolaan sumber daya manusia menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan rutin pengukuran manset ETT. Namun pada kenyataannya di lapangan, proporsionalitas antara sumber daya tenaga perawat tidak seimbang.

  1. Jumlah perawat terbatas

Jumlah perawat yang terbatas membuat tindakan yang seharusnya rutin terlewatkan bahkan tidak dilakukan. Tiga partisipan mengatakan bahwa jumlah perawat yang sedikit tidak dapat melakukan semua tindakan secara tuntas

  • Kurangnya Pengawasan Dari Kepala Ruangan

Kepala ruangan masih sering melewatkan pengawasan untuk pemeriksaan manset ETT. Pengawasan lebih difokuskan pada tindakan prioritas lainnya. Jika tidak ada alarm dari ventilator, maka balon manset ETT dianggap tidak bermasalah dan pengukuran tidak selalu dilakukan.

  • Kurangnya kolaborasi

Kolaborasi dengan Tim Bagian Pengendalian Infeksi diperlukan untuk memberikan informasi dan mengawasi pelaksanaan upaya pencegahan translokasi bakteri dan aspirasi mikro.

  • Motivasi Kerja

Sebagian besar perawat menyatakan berbagai sumber motivasi dalam bekerja. Motivasi datang dari luar dan dari dalam diri perawat. Terdapat tiga subtema motivasi kerja yaitu tanggung jawab moral sebagai perawat, empati terhadap kondisi pasien, dan refleksi terhadap kondisi diri sendiri.

  1. Tanggung jawab moral perawat

Perawat menganggap pekerjaan merupakan tanggung jawab yang harus dilakukan untuk membantu pasien. Sehingga mereka tetap berusaha memberikan yang terbaik meskipun di tengan beban kerja yang tinggi.

  • Empati untuk pasien

Empati perawat mendorong mereka bekerja sungguh-sungguh untuk mendukung proses penyembuhan pasien. Beberapa dari mereka menenkankan bahwa kesembuhan pasien adalah bayaran termahal untuk penerapan kode etik mereka.

  • Refleksi diri dan keluarga
  • Kondisi pasien memberikan pandangan kepada perawat bahwa kondisi yang dialami pasien juga dapat terjadi pada dirinya dan keluarganya. Dengan demikian mereka akan memberikan yang terbaik untuk pasien.
  • Perkembangan Bakteri Alat Pencegahan Translokasi
  • Keterbatasan alat

Alat yang digunakan untuk mengukur tegangan manset ETT belum tersedia. Perawat hanya menggunakan spuit untuk mengisi balon cuff ETT dengan menghitung isi atau ukuran volume balon.

  • Alat yang mudah diakses

Perawat menginginkan suatu alat yang mudah digunakan dan dapat meringankan pekerjaan, terutama pada saat pasien di ICU banyak. Alat yang digunakan diharapkan lebih akurat dalam mengukur tegangan manset ETT dan dapat dipantau dari jarak jauh.

Dengan demikian dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa upaya mengontrol VAP melalui translokasi bakteri preventif diperlukan berdasarkan perspektif perawat. Pengembangan alat monitor waktu nyata untuk mengamati tekanan manset ETT bisa menjanjikan mengendalikan infeksi nosokomial khususnya VAP di ICU dan menurunkan beban kerja perawat. Bukti ini bisa menjadi saran bagi manajemen di rumah sakit dan perawat klinis untuk mengembangkan panduan dan alat baru.

Penulis: Dewi, Y. S., Qona’ah, A., Arifin, H., Pradipta, R., & Benjamin, L. S.

Link Jurnal: Preventive bacterial translocation and control of Ventilator-Associated Pneumonia: A qualitative study. Jurnal Keperawatan Padjadjaran, 10(3). https://doi.org/Preventive bacterial translocation and control of Ventilator-Associated Pneumonia: A qualitative study