Universitas Airlangga Official Website

Faktor Determinan Kejadian Hipertensi pada Pasien Rawat Jalan

IL by KlikDokter

Meningkatnya prevalensi hipertensi berpengaruh terhadap status kesehatan karena faktor penyebab dan risiko penyakit kardiovaskular dan ginjal. Hipertensi diidentifikasi sebagai faktor risiko kematian dan penyebab kematian, kecacatan dan kematian dini. WHO memperkirakan bahwa kurang dari separuh orang dewasa (42%) dengan hipertensi telah didiagnosis dan mengikuti pengobatan sehingga ditargetkan antara 2010-2030 akan terjadi penurunan prevalensi sebesar 33%. Laporan pada tahun 2000 menunjukkan prevalensi hipertensi meningkat di negara berpenghasilan rendah, namun prevalensi stabil atau menurun di negara berpenghasilan menengah. Hipertensi merupakan penyakit yang dapat dicegah dan berhubungan erat dengan gaya hidup termasuk merokok, aktivitas fisik, dan konsumsi alkohol.

Hasil Riskesdas 2018, kejadian hipertensi di Indonesia meningkat sebesar 31,6% pada usia 25-44 tahun, 20,1% pada usia 25-34 tahun, dan 13,2% pada usia 18-24 tahun dibandingkan tahun 2013. Data menunjukkan peningkatan pada semua kelompok umur. Prevalensi terendah di Papua (22,2%) dan tertinggi di Kalimantan Selatan (44,1%). Di Jawa Timur prevalensi hipertensi 36,3%, sehingga prevalensinya diatas rata-rata nasional. Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan mencatat prevalensi hipertensi tahun 2018 sebesar 34,7%. Angka kejadian hipertensi sejalan dengan bertambahnya usia dan usia harapan hidup. Setelah penyakit DM, hipertensi merupakan faktor risiko dan penyebab peningkatan kejadian gagal ginjal stadium akhir. Hipertensi yang tidak terkontrol menyebabkan stroke, gagal jantung, dan gagal ginjal kronis.

Database tentang prevalensi hipertensi, pengobatan dan kontrol dapat dijadikan sebagai informasi dan sebagai strategi untuk mengendalikan hipertensi. Faktor risiko hipertensi adalah usia, kebiasaan merokok, alkoholisme, dan obesitas, sedangkan faktor pemicu yang memperburuk keadaan adalah gaya hidup. Hipertensi termasuk 10 besar penyakit tahun 2016-2018 dr. RS Soegiri. Rumah sakit ini merupakan rujukan pelayanan primer dengan sistem rujukan berbasis BPJS. Pasien dengan hipertensi dirujuk karena komplikasi dan kasus hipertensi resisten dan hipertensi krisis. Untuk menurunkan prevalensi hipertensi dan mencegah kecacatan, identifikasi prevalensi dan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian hipertensi pada pasien rujukan di fasilitas pelayanan primer sangat penting karena dapat digunakan untuk merumuskan perencanaan kebijakan program kesehatan.

Desain penelitian ini studi cross-sectional, dilakukan di RSUD dr. Soegiri Lamongan pada bulan Maret-Juli 2019 terhadap 184 pasien rawat jalan dengan teknik consecutive sampling. Data dikumpulkan dengan mengukur tekanan darah secara langsung dan kuesioner modifikasi WHO STEPS untuk menilai faktor risiko. Instrumen modifikasi WHO STEPS digunakan untuk mengukur faktor risiko penyakit tidak menular dan dapat disesuaikan sesuai kebutuhan. Instrumen modifikasi WHO STEPS terdiri dari tiga aspek: demografi, pola kebiasaan, dan kondisi fisik. Parameter pengukuran meliputi jenis kelamin, usia, riwayat kesehatan, IMT, status hipertensi, penatalaksanaan pengobatan, dan penatalaksanaan rujukan. Pengukuran tekanan darah menggunakan sphygmomanometer yang telah dikalibrasi. Analisis data dimulai dengan analisis deskriptif karakteristik pasien untuk menilai frekuensi distribusi. Uji chi-square untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian hipertensi. Uji regresi logistik diperoleh OR (Odds Ratio) menggambarkan probabilitas faktor risiko hipertensi.

Hasil penelitian didapatkan bahwa 65,2% pasien terdiagnosis hipertensi. Beberapa faktor yang mempengaruhi hipertensi adalah IMT, kebiasaan makan dan kebiasaan merokok. Hasil uji chi-square IMT (p=0,000) dan pola makan (p=0,013) berpengaruh terhadap kejadian hipertensi. Setelah dilakukan penyesuaian dengan confounding factors, didapatkan hanya faktor IMT yang mempengaruhi kejadian hipertensi (OR=5.61, 95% CI=1.686-18.659).

Kesimpulan penelitian adalah sebagian besar pasien rawat jalan terdiagnosis hipertensi, IMT, dan kebiasaan diet berpengaruh terhadap kejadian hipertensi. Setelah disesuaikan dengan confounding factors, hanya IMT yang mempengaruhi kejadian hipertensi.

Penulis: Joko Susanto, S.Kep., Ns., M.Kes

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.jpma.org.pk/supplement-article-details/826

DOI : https://doi.org/10.47391/JPMA.Ind-S2-27