Universitas Airlangga Official Website

Hima Pengobat Tradisional Kenalkan Praktik Pijat So’oso dalam Lokakarya Internasional

Pembukaan hari kedua kegiatan GERATIH bersama narasumber Nuurul Hidayati Agustin (kanan). (Foto: SS Zoom)

UNAIR NEWS – Himpunan Mahasiswa Pengobat Tradisional UNAIR mengadakan kegiatan lokakarya dengan nama ‘GERATIH’ (Get To Know About Indonesian and Cross Culture Heritage). Dalam kegiatan ‘GERATIH’ terdapat sesi webinar dan workshop berskala internasional yang terselenggara selama 4 hari yaitu pada (16-17 & 23-24/09/2023). Kegiatan berlangsung secara online melalui platform Zoom Meeting dan hadir mahasiswa dari Universitas Airlangga serta beberapa peserta internasional.

Pelaksanaan hari kedua yaitu tanggal (17/09/2023), menghadirkan narasumber pemilik klinik spa tradisional, Nuurul Hidayati Agustin. Nuurul merupakan seorang guru yang juga memiliki minat dalam bidang perawatan tradisional. Beliau membawakan materi berjudul ‘Introduction to The Traditional Madura Scrub “So’oso”’.

Warisan Budaya Madura

Menurut Nuurul, kata So’oso berasal dari bahasa daerah Madura yang artinya membersihkan. So’oso pada zaman dahulu dianggap sebagai jati diri atau identitas dari wanita Madura, khususnya bagi keluarga kerajaan. Oleh karena itu, jelasnya, praktik pijat So’oso ini terwariskan secara turun temurun di wilayah Madura.

Hal yang membuat pijat ini masih lesatari, sambungnya, karena produksinya yang masih tradisional menggunakan lesung. Dari ha itu, masyarakat percaya dapat memunculkan kecantikan alami seperti yang masyarakat Madura percayai.

“Perawatan tubuh dengan So’oso merupakan perawatan tubuh dengan memberikan relaksasi panca indera secara holistik menggunakan beberapa ramuan berkhasiat dari alam,” tutur Nuurul.

Bentuk Kepatuhan Terhadap Leluhur

Pada zaman dahulu, jelas Nuurul, perawatan tubuh So’oso telah turun temurun dan secara berkala. Hal tersebut merupakan bentuk kepatuhan terhadap leluhur yang bertujuan agar dapat terlihat cantik secara alami.

“Wanita Madura diagungkan dengan adanya perawatan lulur So’oso. Karena itu dapat membuat mereka tetap terlihat cantik, baik sebelum atau sesudah menikah nanti,” tambah Nuurul saat menceritakan budaya So’oso pada zaman kerajaan di Madura.

Nuurul juga menjelaskan bahwa dalam penelitian pun terbukti, perawatan So’oso ini dapat memberikan manfaat. Salah satunya, jelas Nuurul, untuk menstimulasi pelepasan hormon endorfin, kortisol, dan meningkatkan jumlah hormon limfosit. Ketiga hormon tersebut, sambungnya, yang memicu seseorang menjadi tampak bahagia dan percaya diri setelah melakukan perawatan So’oso ini.

“Sehingga saat ini pijat So’oso tidak hanya bentuk kepatuhan terhadap leluhur semata, tapi juga teruji secara ilmiah memiliki manfaat pada tubuh manusia,” jelasnya.

Pada akhir, ia menjelaskan bahwa tidak hanya memberikan edukasi terkait pentingnya perawatan diri. Nuurul juga menjelaskan ketiga jenis lulur So’oso beserta proses pembuatannya melalui cuplikan video. Nuurul menyebut ketiga jenis lulur yang biasa untuk praktik pijat So’oso yaitu So’oso Koneng (Kuning), So’oso Pote (Putih), dan So’oso Celleng (Kelabu).

“Perbedaan warna tersebut berasal dari bahan alami yang dipakai yaitu temulawak untuk warna kuning, tepung beras untuk warna putih, dan ketan hitam untuk warna kelabu,” pungkasnya.

Penulis: Adinda Aulia Pratiwi

Editor: Nuri Hermawan