Universitas Airlangga Official Website

Memahami Bercak Gelap di Mulut: Efek Samping Tak Terduga dari Terapi HIV

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah jenis virus yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh seseorang dengan menghancurkan sel-sel tertentu dalam tubuh. Virus menimbulkan masalah kesehatan global yang dilaporkan telah menginfeksi 34 juta manusia di seluruh dunia. Apabila orang dengan HIV (ODHIV) tidak menerima terapi antivirus, kondisi imunitas dari ODHIV akan terus mengalami penurunan dan meningkatkan resiko terjadinya infeksi jamur, bakteri, dan virus lainnya.

Dalam terapi HIV, sebagian besar pasien akan mengonsumsi kombinasi obat yang disebut Highly Active Antiretroviral Therapy (HAART). Regimen obat-obatan ini dapat membantu mengendalikan aktivitas replikasi virus dalam tubuh dan mengurangi risiko timbulnya berbagai penyakit pada rongga mulut. Meskipun HAART bermanfaat dalam mengendalikan progresifitas penyakit infeksi HIV, namun konsumsi obat ini secara berkepanjangan dilaporkan mampu memicu timbulnya bercak-bercak gelap di dalam mulut, kondisi yang disebut hiperpigmentasi oral.

Hiperpigmentasi oral adalah kondisi bercak gelap di dalam mulut, seperti pada gusi, lidah, atau pipi bagian dalam. Kondisi ini lebih umum terjadi pada orang-orang yang menggunakan HAART. Meskipun biasanya tidak menimbulkan keluhan, kondisi ini dapat memengaruhi bagaimana seseorang merasa tentang penampilannya dan mungkin terkait dengan obat yang mereka konsumsi. Namun, hingga saat ini belum terdapat konsensus dari para ahli mengenai bagaimana mekanisme dari timbulnya hiperpigmentasi oral yang dipicu oleh konsumsi HAART. Beberapa studi menduga bahwa obat HAART mampu meningkatkan stress oksidatif pada melanosit (sel penghasil pigmen melanin) sehingga terjadi peningkatan pembentukan pigmen melanin cokelat/hitam. Selain itu, studi lainnya melaporkan bahwa beberapa obat HAART diduga meningkatkan sintesis melanin dengan memengaruhi sekresi hormon melanocyte-stimulating hormone (a-MSH). Meskipun mekanisme dari timbulnya hiperpigmentasi oral yang dipicu oleh HAART belum diketahui secara pasti berbagai studi telah membuktikan korelasi kuat antara konsumsi HAART dengan kejadian hiperpigmentasi oral.

Berdasarkan fenomena tersebut, tim peneliti dari FKG UNAIR yang diketuai oleh Dr. Desiana Radithia, drg., Sp.PM(K) melakukan studi systematic review dan meta-analysisOral hyperpigmentation as an adverse effect of highly active antiretroviral therapy in HIV patients: A systematic review and pooled prevalence – melaporkan bahwa nilai prevalensi gabungan dari hiperpigmentasi oral pada ODHIV yang mengonsumsi HAART mencapai 25% (95% CI: 11%, 38%; I2: 99%) atau dalam kata lain 25 dari 100 orang ODHIV dengan terapi HAART mengalami hiperpigmentasi oral. Studi ini adalah penelitian pertama yang menggabungkan prevalensi hiperpigmentasi oral pada pasien yang menjalani terapi HAART. Prevalensi tertinggi ditemukan di Thailand (44%) dan kemudian di India (24%). Namun, studi ini tidak dapat menghitung prevalensi untuk Nepal (11%), Tanzania (6%), dan Nigeria (2%) karena hanya ada satu penelitian di masing-masing negara ini. Perbedaan dalam prevalensi mungkin disebabkan oleh jenis terapi HAART tertentu dan berapa lama pengobatannya digunakan oleh responden yang terlibat dalam penelitian-penelitan tersebut.

Penelitian ini memberikan konfirmasi penting bahwa hiperpigmentasi oral seringkali terkait erat dengan penggunaan HAART pada pasien HIV. Untuk memahami lebih dalam permasalahan ini, penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk menginvestigasi hubungan antara lama dan jenis terapi HAART dengan kasus hiperpigmentasi oral. Dalam rangka mencapai hasil yang lebih konsisten, penting juga untuk melakukan lebih banyak penelitian yang terstandarisasi guna mengurangi variasi hasil yang mungkin muncul.

Penulis: Dr. Desiana Radithia, drg., Sp.PM.

Jurnal: Oral hyperpigmentation as an adverse effect of highly active antiretroviral therapy in HIV patients: A systematic review and pooled prevalence