Hingga saat ini, angka kematian ibu masih menjadi perhatian global dengan 95% angka kematian terjadi di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah ke bawah termasuk Indonesia. Berbagai upaya terus digencarkan oleh negara-negara di dunia guna menekan angka kematian ibu. Persalinan di fasilitas kesehatan merupakan salah satu tindakan yang direkomendasikan oleh WHO untuk menurunkan angka kematian ibu.
Tenaga medis yang terlatih dengan baik dan lingkungan yang mendukung diperlukan untuk mengakhiri kematian ibu dan bayi yang tidak perlu. Pemerintah pusat atau daerah seharusnya menetapkan target minimum untuk indikator ini, selayaknya kebijakan di banyak negara lain yang menjadikan 100% persalinan di fasilitas kesehatan sebagai metode utama untuk menurunkan angka kematian ibu (Laksono et al. 2021b; WHO 2023).
Salah satu provinsi di Indonesia dengan permasalahan angka kematian ibu yang tinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Daerah ini masih menghadapi berbagai tatangan dalam penyediaan akses pelayanan kesehatan yang memadai. Kapasitas tenaga kesehatan, sistem rujukan ibu, manajemen layanan kesehatan ibu dan anak, serta pelayanan kesehatan belum sepenuhnya tersedia di Puskesmas. Sulitnya akses pelayanan kesehatan ini juga diakui oleh 52,56% penduduk utamanya mereka yang tinggal di daerah pedesaan, tidak pernah sekolah, dan bekerja sebagai petani. Dengan kondisi ini, tidak mengherankan jika permasalahan kematian ibu masih belum terselesaikan di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Pemeriksaan kehamilan (antenatal care) merupakan solusi terbaik untuk mencegah kematian ibu. Antenatal care akan memudahkan ibu dalam mengakses perawatan kesehatan oleh tenaga ahli untuk mencegah, mendeteksi, dan mengelola masalah selama kehamilan. Ibu hamil dengan riwayat antenatal care yang lengkap diduga akan lebih memilih melakukan persalinan di fasilitas kesehatan.
Peneliti melakukan analisis cross sectional pada data Survei Kesehatan Dasar Indonesia tahun 2018 untuk mengetahui peran antenatal care lengkap terhadap keputusan ibu untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jumlah responden yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah 3.162 wanita berusia ≥15 tahun yang telah melahirkan dalam lima tahun terakhir.
Hasil analisis kami menunjukkan bahwa proporsi persalinan di fasilitas kesehatan di Nusa Tenggara Timur adalah 73,8%. Sementara itu, rasio antenatal care lengkap adalah 55,3%. Perempuan dengan antenatal care lengkap memiliki peluang 3,467 kali lebih besar untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan dibandingkan dengan mereka yang memiliki riwayat antenatal care tidak lengkap. Peluang persalinan di fasilitas kesehatan semakin meningkat bagi wanita yang tinggal di perkotaan, usia 15-45 tahun, wanita dengan status menikah, wanita dengan status pendidikan tinggi, memiliki status kekayaan yang baik, wanita yang tidak bekerja, dan memiliki paritas rendah.
Penelitian ini menemukan fakta yang menarik bahwa wanita yang bekerja lebih memilih untuk melakukan persalinan di luar fasilitas kesehatan. Hasil serupa telah dibuktikan di Senegal dan Gambia yang menunjukkan bahwa wanita yang bekerja di sektor pertanian cenderung tidak melahirkan di fasilitas kesehatan. Temuan menarik lainnya adalah wanita di Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan multipara memilih untuk melahirkan di luar fasilitas kesehatan. Kondisi ini serupa dengan hasil penelitian di Nepal dan Ethiopia Selatan.
Hasil ini menunjukkan bahwa layanan kesehatan yang diterima selama kunjungan antenatal care dapat mendorong wanita hamil untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. Temuan ini mendukung penelitian di Afghanistan, India, dan Ethiopia Barat Laut, yang membuktikan bahwa wanita yang melakukan empat atau lebih kunjungan antenatal care cenderung memilih persalinan di fasilitas kesehatan. Dengan demikian, antenatal care sangat efektif dalam mendorong peningkatan persalinan di fasilitas kesehatan di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Berdasarkan hasil studi ini, pemerintah harus mempromosikan kebijakan yang mendorong peningkatan kelengkapan antenatal care dengan target kebijakan yang lebih spesifik yaitu wanita yang tinggal di daerah pedesaan, sangat muda, berstatus bercerai/duda, berpendidikan rendah, bekerja, dan berstatus multipara.
Penulis: Ratna Dwi Wulandari
Sumber: Laksono, A.D., Wulandari, R.D., Budiana, I. et al. Institutional delivery in East Nusa Tenggara, Indonesia: does antenatal care matter?. J Public Health (Berl.) (2023). https://doi.org/10.1007/s10389-023-02111-z
Link Artikel: https://doi.org/10.1007/s10389-023-02111-z





