Universitas Airlangga Official Website

Tes Tusuk Kulit Tungau Debu Rumah pada Penderita Dermatitis Atopik

Dermatitis atopik (DA) adalah penyakit kulit inflamasi multifaktorial, kronis, kambuhan, yang umumnya memiliki onset dalam 2 tahun pertama kehidupan. Ini mempengaruhi sekitar 20% anak-anak dan 2-8% orang dewasa. Penyakit ini sering dikaitkan dengan alergi terkait IgE lainnya, seperti alergi makanan, asma, rinitis, dan konjungtivitis. Dermatitis atopik biasanya ditandai dengan pruritus hebat dan lesi eksim yang lokasinya bervariasi tergantung pada usia. Eksim paling sering terjadi pada sisi ekstensor sendi, wajah, dan tubuh pada bayi dan balita. Sementara itu, lebih sering terjadi pada sisi fleksor sendi, leher, dan sekitar mata pada anak yang lebih besar, remaja, dan orang dewasa. Selain itu, lesi hanya dapat hadir di tangan dan kaki. Nodul pruritus pada sisi ekstensor juga dapat terjadi pada remaja yang lebih tua dan orang dewasa.

Angka kejadian DA lebih tinggi pada anak-anak (20%) dibandingkan dengan orang dewasa (2-8%). Wanita mengalami DA pada tingkat yang lebih tinggi daripada pria, dengan perbandingan wanita terhadap pria sebesar 2:1. Pada masa kanak-kanak, pria memiliki angka kejadian DA yang sedikit lebih tinggi daripada wanita, tetapi setelah masa pubertas, wanita memiliki angka kejadian DA yang lebih tinggi. Setelah masa pubertas, hormon seks memiliki pengaruh yang signifikan pada sistem imunologi. Hormon estrogen dan progesteron merangsang aktivitas Th2/sel T regulasi (Treg), sementara menekan aktivitas Th1/Th17. Hormon androgen menghambat aktivitas Th1/Th2/Th17 dan merangsang aktivitas Treg. Hormon estrogen memperkuat fungsi penghalang kulit, sedangkan hormon progesteron dan androgen melemahkannya. Dehydroepiandrosterone (DHEA) menghambat aktivitas Th2 tetapi merangsang aktivitas Th1. Wanita memiliki tingkat enzim steroid sulfatase yang lebih tinggi, yang mengubah DHEA sulfatase (DHEAS) menjadi DHEA, dan oleh karena itu mungkin lebih rentan terhadap efek DHEA. Hal ini menyebabkan angka kejadian DA pada wanita lebih tinggi daripada pada pria.

Penelitian terbaru di Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa prevalensi onset dermatitis atopik pada dewasa mencapai 26,1%, terutama pada individu di atas 16 tahun. Sebagian besar pasien dewasa dengan dermatitis atopik memiliki sensitisasi kontak positif terhadap alergen lingkungan (41%). Tungau debu rumah dianggap sebagai aeroallergen yang paling umum. Sekitar 70% pasien dengan dermatitis atopik memiliki anggota keluarga dekat yang juga memiliki atopi. Studi genom menemukan 34 lokus yang berkontribusi kurang dari 20% faktor keturunan dermatitis atopik. Studi ini juga menunjukkan hubungan antara pasien dengan dermatitis atopik, alergi terhadap tungau debu rumah, dan riwayat penyakit atopik pribadi/keluarga. Temuan ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Thailand pada tahun 2008-2010. Kondisi ini menunjukkan adanya faktor genetik.

Tungau debu rumah sebagai aeroalergen bisa memasuki tubuh melalui saluran pernapasan dan menyebabkan dermatitis atopik maupun rhinitis alergi. Mekanisme pasti antara sensitivitas dan penyakit atopik masih belum jelas. Sensitisasi melalui selaput lendir saluran napas masih dianggap sebagai jalur utama, meskipun sensitivitas kulit juga sudah terbukti. Identifikasi faktor pemicu berperan penting pada penderita dermatitis alergi HDM. Makanan merupakan faktor pemicu yang signifikan. Beberapa makanan diketahui memiliki reaksi silang dengan HDM, yang paling umum adalah udang. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tropomiosin adalah alergen yang umum ditemukan pada semua arthropoda, termasuk arakhnida seperti HDM (Der p 10), krustasea seperti udang, dan serangga seperti kecoa. Melalui jalur oral, HDM sudah terbukti mengganggu dan merusak fungsi penghalang kulit pada pasien dermatitis atopik karena aktivitas enzimatiknya. Gangguan penghalang kulit ini memungkinkan protein dari HDM untuk masuk ke epidermis, mencapai sel dendritik yang menyajikan alergen, merangsang Th2, dan memperburuk tingkat keparahan.

Penulis : Sylvia Anggraeni, dr., Sp.KK(K), FINSDV

Informasi lengkap dari artikel ini dapat diunduh pada:

https://www.jpad.com.pk/index.php/jpad/article/view/2187/2028