Penyakit Parkinson (Parkinson Disease) adalah penyakit neurodegeneratif kronis progresif dengan defisiensi dopamin striatal sebagai ciri patologinya. Penyakit parkinson tidak hanya ditandai dengan gejala motorik, namun juga gejala non-motorik. Gejala non-motorik penyakit Parkinson bervariasi antara lain gangguan kognitif, depresi, apatis, gangguan kecemasan, halusinasi, disfungsi seksual, gangguan tidur, dan gangguan pencernaan.
Gejala non-motorik ini mempercepat perkembangan penyakit. Hal ini juga menurunkan kualitas hidup pasien dan memberikan beban bagi keluarga dan perawat. Skala Gejala Nonmotorik digunakan untuk menilai kuantifikasi keparahan gejala nonmotorik termasuk fungsi otonom, gangguan kejiwaan, gangguan kognitif, dan gangguan tidur pada penderita penyakit Parkinson. Instrumen NMSS dapat menilai pengukuran gejala nonmotorik secara lebih menyeluruh.
Skala Nonmotorik (NMSS) pertama kali diterbitkan pada tahun 2007. NMSS digunakan untuk menilai tingkat keparahan dan frekuensi NMS pada semua tahap penyakit Parkinson. NMSS dapat menilai gejala nonmotorik secara luas dan berpotensi mengidentifikasi gejala nonmotorik spesifik pada penyakit Parkinson.
NMSS memiliki 30 gejala non-motorik yang dikelompokkan menjadi sembilan domain; kardiovaskular dan jatuh, tidur/kelelahan, masalah persepsi, mood/apatis, perhatian/ingatan, gastrointestinal, camping, seksual, dan lain-lain (nyeri, penciuman, perubahan berat badan, dan hiperhidrosis)
Instrumen ini dikembangkan selama 13 tahun dan telah divalidasi dan digunakan di beberapa negara antara lain Inggris, Jerman, Spanyol, Korea, Brazil, Tiongkok, dan Jepang. Sejauh pengetahuan peneliti, saat ini belum ada instrumen untuk menilai tingkat keparahan gejala nonmotorik pada pasien Parkinson yang telah divalidasi dan dipublikasikan di Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji validitas dan reliabilitas NMSS versi bahasa Indonesia yang selanjutnya disebut NMSS versi bahasa Indonesia. Penelitian ini dibagi menjadi 2 tahap yaitu tahap uji validitas dan tahap uji reliabilitas. Tahapan uji validitas berupa uji validitas isi, validitas konstruk, dan validitas kriteria. Tahap uji reliabilitas menggunakan uji konsistensi internal.
Sampel dalam penelitian ini adalah penderita penyakit parkinson di Instalasi Rawat Jalan Bagian Neurologi Rumah Sakit Pusat di Surabaya Jawa Timur dan Rawat Jalan Bagian Neurologi Rumah Sakit Pendidikan Surabaya Jawa Timur yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pada tahap awal penyakit Parkinson, NMS menurunkan kualitas hidup secara signifikan. Pada penyakit lanjut, hal ini dapat menurunkan kemandirian penderita penyakit Parkinson. Skala Gejala Non-motorik merupakan skala yang paling sederhana untuk mendeteksi NMS secara dini pada pasien penyakit Parkinson.
Deteksi dini pada NMS adalah hal mendasar. Kami menerjemahkan NMSS ke bahasa Indonesia untuk pasien PD yang berbahasa Indonesia. Hal ini dapat mengurangi salah tafsir dan memberikan hasil yang lebih valid dan dapat diandalkan. Tahapan pengolahan kuesioner ini meliputi penerjemahan, rekonsiliasi, analisis penilaian ahli dan uji lapangan.
Penulis: M. Hamdan
Jurnal: Nonmotoric Symptoms Scale (NMSS) Validity and Reliability Test in Patients with Parkinson’s Disease in Dr. Soetomo General Hospital, Surabaya, Indonesia: A Questioner Validation Study





