Gangrene Fournier (FG), kondisi serius yang langka namun berpotensi fatal, mengancam area genitalia dan perineum. Ditemukan pertama kali oleh Dr. Alfred Fournier, Gangrene Fournier (FG) merupakan keadaan darurat di bidang urologi yang memerlukan tindakan cepat dan agresif. Penyebab utama Gangrene Fournier (FG) adalah infeksi bakteri seperti Coliform, Klebsiella, Streptococci, Staphylococci, Clostridia, bakteroid, dan Corynebacteria. Kondisi ini lebih sering terjadi pada pria dengan risiko sepuluh kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan wanita.
Meskipun faktor risiko seperti jenis kelamin pria, konsumsi alkohol, infeksi HIV, dan diabetes yang tak terkontrol telah diidentifikasi, angka kematian dari kasus ini tetap tinggi. Sebuah studi yang dilakukan di Amerika Serikat mencatat Gangrene Fournier (FG) terjadi sekitar 1,6 per 100.000 pria, dengan angka kematian yang mencapai 7% hingga 30%.
Gejalanya seringkali ringan pada tahap awal, sehingga penting untuk mendeteksi dan mengobati dengan cepat pada mereka yang berisiko. Inflamasi dan infeksi yang mendasari Gangrene Fournier (FG) dapat memengaruhi hasil tes darah.
Meskipun diagnosis bisa dibantu dengan tes darah dan pencitraan, diagnosis utamanya didasarkan pada evaluasi klinis. Klinisi harus peka terhadap tanda-tanda infeksi di area area pangkal paha atau alat kelamin, terutama pada pria diabetes dan pasien dengan risiko tinggi lainnya. Terapi utama melibatkan intervensi bedah dan penanganan medis karena FG seringkali menyebabkan infeksi berat dan syok.
Terapi FG melibatkan intervensi bedah dan perawatan medis intensif karena seringkali pasien mengalami kondisi septik dan syok yang membutuhkan resusitasi medis segera. Terapi yang cepat, tepat, dan terarah diharapkan dapat mengurangi tingkat fatalitas FG dan meningkatkan kesembuhan pasien
Gangren Fournier (FG) merupakan kondisi serius yang jarang terjadi namun dapat menjadi ancaman fatal jika tidak ditangani dengan cepat. Kondisi ini membutuhkan penelitian yang cermat untuk mengevaluasi faktor-faktor yang dapat memprediksi prognosis pasien. Berdasarkan penelitan sebelumnya perbandingan rasio Neutrofil Terhadap Limfosit (NLR) dan rasio Trombosit Terhadap Limfosit (PLR) meruapakan suatu prediktor untuk mengetahui prognosis pada pasien Gangren Fournier (FG), dan memiliki makna klinis.
NLR dan PLR adalah parameter darah yang telah digunakan secara luas dalam berbagai penyakit inflamasi dan infeksi. Untuk mengetahui efektivitas kedua parameter ini sebagai prediktor potensial dalam menilai tingkat kematian pada pasien Gangren Fournier (FG) di Indonesia. Dilakukan sebuah studi retrospektif yang melibatkan data dari 135 pasien dengan diagnosis Gangren Fournier (FG) dari tahun 2014 hingga 2020.
Kriteria inklusi untuk penelitian ini mencakup adanya kemerahan (eritema) dan pembengkakan (edema) skrotum pada pria, cairan atau nanah (drainase atau fluktuasi) luka, suara derak (krepitus), serta perkembangan kematian jaringan (nekrosis) progresif pada jaringan lunak yang menghasilkan gangren.
Pasien yang tidak menjalani operasi darurat karena alasan medis, data yang tidak lengkap, memiliki peradangan lokal di daerah perianal atau urogenital yang bersifat superfisial, serta pasien yang menolak pengobatan, dikecualikan dari penelitian ini.
Data yang digunakan diambil dari rekam medis, mencakup informasi usia, jenis kelamin, riwayat penyakit penyerta, mortalitas, hasil mikrobiologi, dan hasil hematologi. Evaluasi komorbiditas pasien dilakukan melalui riwayat medis saat masuk. Selain itu, hasil hematologi saat masuk juga dikumpulkan untuk menentukan secara tepat keberadaan diabetes, penyakit ginjal kronis, dan hipertensi.
Penggunaan Hemoglobin A1c (HbA1c) (%) digunakan untuk mengidentifikasi pasien diabetes, sementara estimasi laju filtrasi glomerulus (GFR) yang dihitung dengan persamaan Modifikasi Diet pada Penyakit Ginjal digunakan untuk menilai fungsi ginjal yang terganggu. Tanda-tanda vital, termasuk pengukuran tekanan darah, juga dicatat untuk mengevaluasi keberadaan hipertensi atau hipotensi pada pasien.
Data mikrobiologi diperoleh melalui kultur luka dan jaringan yang diambil dari proses sayatan bedah pada masing-masing pasien. Pasien juga diberikan antibiotik empiris sesuai dengan hasil kultur yang diperoleh. Resep antibiotik disesuaikan berdasarkan hasil tes kultur. Semua variabel penelitian diambil setelah mendapatkan persetujuan etika dari komite etika terkait
Pada penelitian ini ditemukan bahwa NLR memiliki nilai prediktif dalam menentukan prognosis Gangren Fournier (FG), di mana nilai NLR ≥8 secara signifikan dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang menunjukkan hubungan antara peningkatan NLR dan tingkat kematian yang lebih tinggi pada pasien Gangren Fournier (FG).
Di sisi lain, pada penelitian ini tidak menemukan korelasi yang signifikan antara PLR dan tingkat kematian pada kasus Gangren Fournier (FG). Meskipun beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan peningkatan PLR berkaitan dengan mortalitas pasien Gangren Fournier (FG), namun dalam penelitian ini , PLR tidak menunjukkan hubungan yang bermakna terhadap tingkat kematian pada pasien Gangren Fournier (FG) .
Hasil ini menunjukkan bahwa NLR bisa menjadi indikator yang berguna dalam memprediksi prognosis pasien Gangren Fournier (FG). Namun demikian, penelitian lebih lanjut yang melibatkan studi prospektif dan melibatkan beberapa pusat pelayanan kesehatan diharapkan untuk mengkonfirmasi temuan ini. Dengan pemahaman lebih dalam terhadap faktor-faktor prognostik seperti NLR, para profesional medis dapat memberikan perawatan yang lebih tepat dan agresif kepada pasien FG, sehingga dapat mengurangi tingkat mortalitas yang terkait dengan kondisi ini.
Penulis: Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U
Informasi detail dari tulisan ini dapat dilihat di: Wirjopranoto, S. (2023). Comparison between neutrophil to lymphocyte ratio and platelet to lymphocyte ratio as predictors of mortality on Fournier’s gangrene cases. Indian Journal of Urology, 39(2), 121–125. https://doi.org/10.4103/iju.iju_256_22





